Pikiran Rakyat
USD Jual 14.393,00 Beli 14.093,00 | Sebagian berawan, 23.3 ° C

Tradisi Ngikis, Memagari Diri dari Pengaruh Jahat

Nurhandoko
WARGA siap berebut  buah-buahan yang ditata mirip gunungan dalam rangkaian kegiatan tradisi Ngikis di Situs Budaya Ciung Wanara, Karangkamulyan, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis, Senin 29 April 2019.  Ngikis dimaknai sebagai memagari diri dari pengaruh jahat menjelang bulan ramadhan.*/NURHANDOKO WIYOSO/PR
WARGA siap berebut buah-buahan yang ditata mirip gunungan dalam rangkaian kegiatan tradisi Ngikis di Situs Budaya Ciung Wanara, Karangkamulyan, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis, Senin 29 April 2019. Ngikis dimaknai sebagai memagari diri dari pengaruh jahat menjelang bulan ramadhan.*/NURHANDOKO WIYOSO/PR

CIAMIS,(PR).- Salah satu tradisi turun temurun menjelang bulan suci ramadhan yang hingga saat ini terus dipertahankan oleh warga tatar galuh Ciamis yakni Ngikis. Kegiatan yang berlangsung di Situs Budaya Ciung Wanara, Karangkamulyan, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis, melibatkan warga dari berbagai kalangan.

Ngikis yang berlangsung pada hari Senin 29 April 2019, tidak hanya menggelar prosesi adat yang tidak pernah berubah sejak masa lalu, juga dikemas menjadi lebih menarik, dengan ditampilkannya beberapa kesenian tradisional. Salah satu yang dinantikan pengunjung adalah memerebutkan buah-buahan yang ditata seperti gunungan, serta makan bersama di kawasan situs budaya Kerajaan Galuh.

Sesuai dengan namanya ngikis yang berarti memagari, kegiatan tersebut diwujudkan dengan memagar kompleks pangcalikan. Hanya saja kali ini pemagaran hanya sebatas simbol. Kegiatan tersebut secara tersirat yakni memagari diri dari pengaruh jahat, menjelang bulan Ramadan.

Pangcalikan berupa batu pipih dengan diameter sekitar satu meter, yang dipagari, pada masa lalu merupakan patilasan raja Galuh. Tempat tersebut ditutup dengan kain putih. Bau dan asap dupa juga menyebar di sekitar tempat tersebut.  Beberapa tetua adat juga dipersilakan masuk ke dalam loksi pangcalikan.

Pada masa lampau, ngikis benar-benar mengganti pagar bambu. Bambu yang dijadikan pagar, dibawa oleh warga yang datang dari beberapa desa yang ada di sekitar kawasan situs Kerajaan Galuh. Memersatukan bambu dari berbagai temoat serta kerja sama, tidak hanya dimaknai sebagai persatuan akan tetapi juga bersamaan, gotong-royong.

Prosesi adat ngikis, diawali dengan penyambutan tokoh dan sesepuh masyarakat. Wakil Bupati Ciamis Yan D Putra yang mengenakan pakaian warna putih dan ikat kepala beserta rombongan, disambut Kepala Desa Karangkamulyan, Muhamad Abdul Haris. Selanjutnya rombongan berjalan kaki menyusiri jalan yang dinaungi pohon bambu menuju pangcalikan, kemudian secara simbolis mengganti pagar.

Sementara itu warga yang sebelumnya berkumpul, serentak makan bersama di bawah pohon dan tempat lain yang ada di kompleks situs Ciung Wanara.  Tidak sedikit mereka menggelar tikar, duduk bersama serta saling bertukar makanan.

Berebut buah

Tuntas makan, warga kembali menuju halaman, menyaksikan penampilan berbagai kesenian. Suasana semakin ramai ketika petugas membawa gunungan yang dibuat dari buah—buahan dan sayuran sampai di tempat tersebut. Setelah mendapat aba-aba warga langsung berebut mendapatkan buah yang diincar seperti jagung, jeruk, dan lainnya.

“Tradisi ngikis berlangsung turun-temurun, berlangsung seminggu menjelang bulan Ramadhan.. Ngikis secara harafiah adalah memagari, sedangkan tersirat adalah memagari diri dan hati dari perbuatan tercela, sehingga saat melaksankan ibadah puasa, diri sudah bersih,” tutur Kepala Desa Karangkamulyan, Muhamad Abdul Haris.

Seiring dengan perkembangan, lanjutnya tradisi ngikis yang sebelumnya hanya diikuti oleh warga sekitar Karangkamulyan, saat ini semakin meluas. Selain itu kegiatan  yang dimaksudkan untuk memertahankan ada budya daerah, sekaligus juga menjadi agenda budaya tatar Galuh Ciamis.

“Dengan kemasan yang menarik, mampu menjadi daya tarik wisatawan, baik dalam mauun luar negeri. Banyak potensi yang dapat digali di karangkamulyan, selain situs budaya, juga menjadi salah satu desa wisata. Kami juga memiliki beragam hasil kerajinan tangan,” katanya.

Sementara itu wakil Bupati Ciamis Yana D Putra memberikan apresiasi positif terhadap warga Karangkamulyan tetap menjaga serta melestarikan salah satu tradisi leluhur, ngikis. Kegiatan yang berlangsung turn-temurun, lanjutnya tidak hanya dimaknai secara fisik, akan tetapi juga makdus tersirat dari kegiatan tersbeut. Ngikis juga memiliki arti mendalam serta penyempurnaan , membersihkan hati dan jiwa dari sifat yang tidak baik.

“Filosofinya sangat mendalam dalam menyambut bulan ramadhan. Tradisi ngikis juga harus tetap dipelihara, sebagai investasi budaya daerah. Kami juga berharap semua kalangan lebih peduli serta menjunjung tinggi kearifan lokal,” kata Yana D Putra.***

Bagikan: