Pikiran Rakyat
USD Jual 14.285,00 Beli 14.187,00 | Sebagian berawan, 20.2 ° C

Tak Efektif, 24 SD di Garut Dimerger

Tim Pikiran Rakyat
KABID SD Dinas Pendidikan (Disdik) kabupaten Garut, Ade Manadin.*/ Agus Somantri/ KP
KABID SD Dinas Pendidikan (Disdik) kabupaten Garut, Ade Manadin.*/ Agus Somantri/ KP

GARUT, (GM).- Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Garut, melalui Dinas Pendidikan (Disdik) setempat telah melakukan penggabungan atau merger terhadap puluhan sekolah dasar (SD) di sejumlah wilayah di Kabupaten Garut.

Kepala Bidang SD Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Garut, Ade manadin, mengatakan penggabungan dilakukan untuk lebih mengefesienskan anggaran, sarana prasarana, di samping juga pemenuhan Delapan Standar Nasional Pendidikan Indonesia.

"Hingga saat ini sudah ada 24 sekolah dasar (SD) di seluruh wilayah Kabupaten Garut yang kita merger," ujarnya, Senin 29 April 2019, seperti dilaporkan Agus Somatri, wartawan  Kabar Priangan. 

Ade mengungkapkan, penggabungan 24 SD tersebut bukannya tanpa alasan. Selama ini keberadaannya dinilai kurang efektif karena tidak memiliki peserta didik yang memadai serta sarana dan prasarana yang kurang memadai.

Menurutnya, kalaupun keberadaan puluhan SD tersebut tetap dipertahankan, maka hasilnya pun tak akan begitu efektif. Bahkan dikhawatirkan tak akan mampu memenuhi Delapan Standar Nasional Pendidikan Indonesia yang menjadi tujuan dan ditetapkan dalam Permendiknas.   

Ia menuturkan, ke 24 sekolah dasar (SD) yang telah dimerger atau digabungkan tersebut tersebar di sejumlah kecamatan di kabupaten Garut, di antaranya di wilayah Kecamatan Leles, Limbangan, Pasirwangi, Banjarwangi, serta daerah lainnya.  

"Penggabungan puluhan SD tersebut sudah sesuai dengan Permendikbud nomor 36 tahun 2014 tentang Pedoman Pendirian, Perubahan, dan Penutupan Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah," ucapnya.

Alasan lainnya dilakukan merger atau penggabungan terhadap puluhan SD tersebut, lanjut Ade, dikarenakan pihak sekolah kekurangan peserta didik.

Ia menyebut, idealnya untuk seorang kepala sekolah harus memliki 672 siswa dibagi menjadi 6 kelas.

"Yang artinya masing-masing kelas efektifnya harus memliki 28 peserta didik," katanya.

Terkait kerusakan infrastruktur, tambah Ade, dari jumlah keseluruhan SD di Kabupaten Garut yang mencapai 1.587, saat ini hanya tinggal 30 persennya saja yang masih belum tersentuh perbaikan.

Seluruh SD yang infrastukturnya dalam kondisi rusak tersebut tahun depan sudah bisa diperbaiki apabila pemerintah kembali mengalokasikan dana alokasi khusus (DAK) sebesar Rp 66 miliar.***

 

Bagikan: