Pikiran Rakyat
USD Jual 14.273,00 Beli 13.973,00 | Umumnya cerah, 19.1 ° C

Kuningan Mencanangkan Sebagai Kota Angklung

Anwar Effendi
SENI angklung bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat Kuningan.*/ANWAR EFFENDI/PR
SENI angklung bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat Kuningan.*/ANWAR EFFENDI/PR

KUNINGAN, (PR).- Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kuningan mencanangkan diri sebagai Kota Angklung di dunia. Rintisan awal sudah dilakukan dengan mewajibkan setiap sekolah yang ada di Kuningan harus memiliki alat musik tradisional angklung, sekaligus seni tersebut menjadi bagian kegiatan ekstra kurikuler bagi pelajar.

Bupati Kuningan Acep Purnama mengatakan, program Kota Angklung akan terus digenjot, tidak hanya di institusi pendidikan. Tapi seluruh lapisan masyaralat di Kuningan diupayakan memiliki angklung sekaligus bisa memainkannya.

"Kalau pelajar dan sekolah kini sudah banyak yang memainkan angklung. Demikian juga dengan komunitas masyarakat, mulai banyak yang menggeluti seni angklung. Ke depan, diupayakan akan lahir sanggar-sanggar seni di seluruh desa yang ada di Kuningan. Jadi, nanti seni angklung tak terpisahkan dari masyarakat kuningan," ujar ACep Purnama saat ditemui seusai Festival Angklung Internasional di kawasan Waduk Darma, Kuningan, Minggu 28 Agustus 2019.

Acep mengungkapkan, Kabupaten Kuningan punya alasan yang kuat untuk menjadi Kota Angklung di dunia. Selain masyarakatnya makin mencintai seni angklung, jauh sebelum itu Kuningan punya sentra produksi angklung, yakni di Desa Cibuntu. Perajin angklung dari Desa Cibuntu sudah dikenal sebagai penghasil alat musik angklung berkualitas.

Menurut Acep, produksi angklung dari perajin Desa Cibuntu sudah menyasar ke sejumlah wilayah. Bahkan pesanan juga ada yang datang dari luar negeri. Cuma sayang, produksi masih terkendala dengan bahan baku yang tidak tersedia setiap saat. Hal ini terkait dengan, bambu yang akan dibuat alat musik angklung, harus menunggu saat musim tebang. 

Bambu khusus

Kadisporapar Jaka Chaerul menambahkan, angklung yang dihasilkan perajin Desa Cibuntu memang dibuat dari bambu jenis khusus. Hal itu untuk menjaga suara dari angklung tetap terjaga secara kualitas. Masalahnya, bambu-bambu itu tidak bisa setiap saat ditebang (panen). Di sisi lain, pesanan kadang datang bersamaan, sementara stok bambu di perajin sudah habis.

"Usaha pembuatan angklung di Desa Cibuntu kini makin menggeliat. Pesanan dari berbagai pihak dari dalam kota tambah banyak. Belum lagi ada permintaan dari luar kota dan provinsi. Namun, dengan banyaknya pesanan itu, para perajin tetap membuat angklung dengan kualitas terbaik. Tidak asal jadi lantas kirim, ucap Jaka.

Bupati Acep juga makin semangat menggejot berbagai kegiatan yang mengarah pada pengenalan Kuningan sebagai Kota Angklung. Kegiatan semacam festival angklung internasional diupayakan berlangsung secara rutin. Demikian juga dengan sanggar-sanggar seni, diharapkan bisa menampilkan atraksi seni angklung dengan terjadwal.

"Untuk seni angklung, Kuningan memiliki sejarah panjang. Kita punya seniman angklung yang cukup terkenal, yakni Daeng Soetigna. Untuk itu, generasi muda sekarang harus mampu meneruskannya. Jangan sampai orang asing semangat mempelajari seni angklung, sementara kita sebagai pemilik seni itu, justru mengabaikannya," tutur Acep.
 
Diharapkan, seni angklung bisa disuguhkan setiap saat, utamanya ketika datang turis dari mancanegara. Karena atraksi seni tradisional seringkali manjadi daya tarik bagi wisatawan asing. Panggung-panggun seni yang ada di sejumlah objek wisata, harus dimanfaatkan secara maksimal oleh para seniman menampilkan kreasinya. "Tidak hanya seni angklung. Seni tradisional lainnya harus bisa beratraksi di panggung seni sejumlah objek wisata, agar bisa dinikmati para wisatawan," pungkas Acep.***

Bagikan: