Pikiran Rakyat
USD Jual 14.285,00 Beli 14.187,00 | Sebagian berawan, 19.6 ° C

Petani Diminta Percepat Masa Tanam Sebelum Masuk Musim Kemarau

Nurhandoko
PETANI di wilayah Cigembor, Kecamatan/Kabupaten Ciamis  sedang memanen padi, Kamis, 25 April 2019. Pascapanen serta menghadapi musim kemarau, Dinas Pertanian Ciamis mulai gencar melakukan sosialisasi percepatan masa tanam.*/NURHANDOKO WIYOSO/PR
PETANI di wilayah Cigembor, Kecamatan/Kabupaten Ciamis sedang memanen padi, Kamis, 25 April 2019. Pascapanen serta menghadapi musim kemarau, Dinas Pertanian Ciamis mulai gencar melakukan sosialisasi percepatan masa tanam.*/NURHANDOKO WIYOSO/PR

CIAMIS,(PR).- Petani diminta segera melakukan percepatan tanam padi untuk  mengatisipasi kemungkinan kekurangan air pada saat kemarau. Percepatan masa tanam diharapkan nantinya bisa mempertahankan surplus beras.

“Pascapanen, sebaiknya petani langsung mempersiapkan diri mengolah lahan untuk percepatan masa tanam. Saat ini frekuensi hujan mulai berkurang,  salah satu pertanda  bakal memasuki kemarau,” tutur Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Ciamis, Kustini,  Kamis, 25 April 2019.

Dia mengatakan, percepatan masa tanam dimaksudkan  untuk mengantisipasi tanaman kekurangan air saat musim kemarau. Bila petani mulai menanam benih, maka ketika memasuki kemarau tanaman sudah besar serta tidak lagi membutuhkan banyak air.  

“Tanaman padi bukan tanaman air akan tetapi membutuhkan banyak air, terutama pada masa pertumbuhan. Semakin tanaman padi besar kebutuhan air berkurang, saat itu mulai berbuah dan dapat panen lebih awal, serta mengejar waktu agar dapat kembali tanam,” katanya.
PETANI di wilayah Cigembor, Kecamatan/Kabupaten Ciamis  sedang memanen padi, Kamis, 25 April 2019. Pascapanen serta menghadapi musim kemarau, Dinas Pertanian Ciamis mulai gencar melakukan sosialisasi percepatan masa tanam.*/NURHANDOKO WIYOSO/PR

Dengan adanya percepatan tanam, lanjutnya, petani dapat menanam dan memanen tiga kali per tahun. Namun, apabila terlambat tanam, maka petani akan menghadapi ancaman kekurangan air pada musim kemarau. Hal tersebut utamanya dialami oleh persawahan yang pengairannya setengah teknis.  

“Untuk pengairan teknis dan sumber air tersedia, memang rutin panen tiga kali setahun. Akan tetapi bagi yang setengah teknis kadang harus menghadapi kendala keterbatasan air. Untuk itu, maka perlu percepatan tanam sehingga untuk masa tanam berikut, petani masih dapat panen,” katanya.Lebih lanjut dia mengatakan luas areal persawahan di Ciamis mencapai 35.000 hektare, terbagi menjadi sawah dengan pengairan teknis, setengah teknis, hingga sawah tadah hujan. Khusus sawah tadah hujan, luasnya sekitar 8.000 hektar tersebar di berbagai wilayah.

Abah, seorang petani di Cigembor, Ciamis, mengatakan , ia memang ingin secepatnya kembali mengolah sawah yang baru dipanen. Namun, hal itu baru bisa dilakukan setelah tanah diistirahatkan. “Inginnya begitu panen langsung olah lahan, akan tetapi kan tanah juga perlu istirahat sebentar. Setelah itu baru tanam. Panen kali ini hasilnya lumayan bagus,” tuturnya disela panen.

Panen raya cukup baik tanpa serangan hama

PETANI di wilayah Cigembor, Kecamatan/Kabupaten Ciamis  sedang memanen padi, Kamis, 25 April 2019. Pascapanen serta menghadapi musim kemarau, Dinas Pertanian Ciamis mulai gencar melakukan sosialisasi percepatan masa tanam.*/NURHANDOKO WIYOSO/PR

Kustini menambahkan, Januari 2019 hingga akhir Maret 2019, wilayah lumbung padi tatar galuh Ciamis seperti Kecamatan Purwadadi, Lakbok, Banjarsari, dan sekitarnya memasuki panen raya. Beberapa wilayah lain, masa panen berlangsung hingga pertengahan bulan April 2019.

“Musim panen kali ini cukup bagus, relatif tidak ada serangan hama penyakit. Kami perkirakan rata-rata produksinya mencapai 6,5 ton – 7 ton GKG per hektare. Beberapa wiilayah memang ada yang lebih, akan tetapi di tempat lain ada yang kurang,” ungkapnya.

Bulan Januari 2019, panen mencapai 1.100 hektar, sedangkan bulan Februari hingga Maret luasnya mencapai sekitar 20.000 hektar. Akan tetapi, Kecamatan Purwadadi dan Lakbok hingga saat ini masih menghadapi kendala yakni ancaman banjir, karena wilayah tersebut seperti cekungan.***

Bagikan: