Pikiran Rakyat
USD Jual 14.095,00 Beli 14.193,00 | Cerah berawan, 29.9 ° C

Pelenyapan sampai Sumber Mineral, Misteri Terowongan Wilhelmina

Tim Pikiran Rakyat
Salah satu dari empat terowongan jalur kereta api di Bagolo, dengan yang terpanjang Terowongan Wihelmina (1.208 meter), di Bagolo Emplak, Kabupaten Pangandaran.*/AGUS KUSNADI/KP
Salah satu dari empat terowongan jalur kereta api di Bagolo, dengan yang terpanjang Terowongan Wihelmina (1.208 meter), di Bagolo Emplak, Kabupaten Pangandaran.*/AGUS KUSNADI/KP

BERNAMA Wilhelmina, tapi dikenal oleh penduduk setempat dengan sebutan Sumber. Bukan nama orang, tapi nama terowongan jalur kereta api Banjar-Cijulang di Bagolo Emplak, Kabupaten Pangandaran.

Kata "Sumber", menurut pemahaman masyarakat lokal, dimaknai sebagai lokasi yang menunjukkan adanya kandungan material tertentu di bawah perut bumi. Sumber material itu diyakini ada di sekitar lokasi terowongan tersebut.

Perangkat Desa Bagolo, Kec. Kalipucang, Ilin (50), mengatakan, ia mendapatkan informasi dari neneknya yang ketika masa penjajahan Belanda, kurang lebih tahun 1915 menjadi juru masak para gegeden kompeni Belanda. Suatu ketika, neneknya itu diajak jalan-jalan oleh kompeni Belanda menelusuri lokasi tempat dibuatnya terowongan Sumber.

"Ketika itu, nenek saya mendengar dengan jelas dari para kumpeni Belanda bahwa di sekitar terowongan Sumber diindikasikan adanya kandungan minyak bumi," katanya menirukan ucapan neneknya ketika berkisah kepada Agus Kusnadi dari Kabar Priangan.

Selain itu, tak jauh dari terowongan Sumber, tepatnya sekitar Bagolo Kolot, ditemukan bebatuan berharga. Kenapa berharga, karena batu-batuan itu mengandung unsur emas dan perak.

Salah satu dari empat terowongan jalur kereta api di Bagolo, dengan yang terpanjang Terowongan Wihelmina (1.208 meter), di Bagolo Emplak, Kabupaten Pangandaran.*/AGUS KUSNADI/KP

Ilin menambahkan, biasanya dahulu, masyarakat sekitar yang telah diajak berjalan-jalan menelusuri lokasi di sekitar terowongan Sumber selalu "dilenyapkan" oleh penjajah Belanda. Akan tetapi, karena neneknya merupakan juru masak para kumpeni,ia tidak mengalami tindakan "pelenyapan". 

Itu merupakan suatu keberuntungan karena neneknya bisa selamat. Sang nenek bukan hanya bisa menikmati suasana kemerdekaan, tapi juga bisa menceritakan pengalamannya tersebut kepada anak dan cucunya.

"Untungnya nenek saya itu tukang masak para gegeden Belanda sehingga tidak ditembak, setelah selesai diajak jalan-jalan ke lokasi dibuatnya terowongan Sumber. Mungkin, pikir Belanda ketika itu, jika nenek saya ditembak, siapa nanti yang menyediakan makanan untuk mereka," ungkapnya.

Uga Bagolo yang memprediksi akan adanya oray dan rumahnya

Di tempat terpisah, Kepala Bidang Kebudayaan Disparbud Pangandaran, Aceng Hasim, mengatakan, pembangunan terowongan dan jalur kereta api yang melintasi daerah Bagolo Emplak dan Pamotan itu selalu dikait-kaitkan oleh masyarakat setempat dengan Uga Bagolo. Ada ungkapan tentang Uga Bagolo yang mengatakan, "Pageto urang Bagolo bakal dikongkorong oray dongko, imahna nyalungsum taneuh muru ka laut kidul."

"Makna dari Uga Bagolo yaitu suatu waktu daerah Bagolo akan dilintasi jalur kereta api, terjemahan dari dikongkorong oray dongko. Selain dilintasi jalur kereta api,  akan dibangun pula terowongan, terjemahan dari imahna nyalungsuman taneuh," kata Aceng.

Aceng menambahkan, terkait jalur kereta api di Bagolo setidaknya terdapat empat terowongan dan dua jembatan yang cukup unik. Terowongan itu pun memiliki namanya masing-masing.

"Pada jalur kereta api di Bagolo terdapat Terowongan Wihelmina (1.208 meter), Terowongan Batulawang (281,5 meter), Terowongan Hendrik (105 meter), serta Terowongan Juliana (147,70 meter). Selain itu ada Jembatan Kacepit (250 meter) dan Jembatan Lembah Putri (150 meter)," papar Aceng.***

Bagikan: