Pikiran Rakyat
USD Jual 14.540,00 Beli 14.240,00 | Sedikit awan, 21.5 ° C

Pemda Turunkan Tim Tangani Kasus Penyimpangan Seks

Tim Pikiran Rakyat
KETUA P2TP2A, Diah Kurniasari.*/ AEP HENDY/ KABAR PRIANGAN
KETUA P2TP2A, Diah Kurniasari.*/ AEP HENDY/ KABAR PRIANGAN

GARUT,  (PR).- Kasus penyimpangan seks yang menimpa belasan anak di bawah umur di wilayah Kelurahan Margawati, Kecamatan Garut Kota menjadi perhatian Pemkab Garut. Untuk menangani hal itu, Pemkab Garut pun menurunkan tim khusus.

"Kita tentunya sangat prihatin atas kasus penyimpangan seks yang menimpa belasan anak di bawah umur di wilayah Kecamatan Garut Kota ini. Sejak awal kasus ini mencuat, kita langsung lakukan penanganan," ujar Wakil Bupati Garut, Helmi Budiman, Kamis 25 April 2019.

Dilaporkan Aep  Hendy, wartawan Kabar Priangan,  penanganan terhadap anak yang mengalami penyimpangan seks ini sudah dilakukan sejak sekitar satu bulan terakhir, tak lama setelah kasus ini terungkap. Penanganan yang dilakukan di antaranya berupa terapi dan pemberian pemahaman dengan tujuan mereka tak merasa trauma dan tak lagi mengulangi perbuatannya.

Helmi menyebutkan, terapi lebih difokuskan terhadap 19 anak yang mengalami langsung penyimpangan seks tersebut. Kondisi mental mereka harus segera dipulihkan mengingat mereka masih anak-anak di bawah umur dan mempunyai masa depan yang cerah.

Sebagai bentuk keseriusan penanganan kasus ini, Pemkab Garut pun sudah membentuk tim khusus yang terdiri dari berbagai elemen. Selain Dinas Sosial, ada juga dari Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, dan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) yang juga masuk dalam tim penanganan kasus penyimpangan seks ini.

Upaya pemulihan mental para korban yang juga pelaku ini tutur Helmi, perlu mendapat dukungan dari berbagai pihak termasuk masyarakat. Peran masyarakat dalam hal ini dinilainya sangat besar karena sikap yang salah yang dilakukan masyarakat atas kasus ini bisa menimbulkan terjadinya hal yang tak diharapkan terhadap pemulihan kondisi mental anak-anak.

"Oleh karenanya kami juga meminta dengan sangat agar masyarakat tak memvonis buruk perbuatan yang dilakukan anak di bawah umur itu. Jika masyarakat memandang bersalah, maka hal ini akan sangat memberatkan jiwa anak-anak itu sehingga mereka akan trauma," katanya.

Helmi juga menuturkan, peran orang tua juga sangat besar dalam membentuk kejiwaan anak termasuk sikap orang tua yang harus mampu menyeimbangkan antara kemajuan teknologi dengan pengawasan. Apalagi dalam kasus penyimpangan seks yang menimpa belasan anak di bawah umur di Garut Kota ini berawal dari adegan video porna yang terdapat di handphone yang ditonton anak-anak.

Di sisi lain Helmi mengakui pihaknya kesulitan membuat aturan agar gawai (gadget) tak digunakan oleh anak-anak karena bisa berdampak buruk apalagi jika tanpa adanya pengawasan orang tua. Oleh karenya, jalan terbaiknya saat ini yakni sikap orang tua yang harus benar-benar bijak dan tidak pernah lengah dengan aktivitas da pergaulan anak-anaknya.

Ungkapan keprihatinan atas kasus penyimpangan seks yang dilanda belasan anak di bawah umur ini juga disampaikan Ketua P2TP2A Kabupaten Garut yang juga isteri Bupati Garut, Diah Kurniasari. Menurutnya, perbuatan penyimpangan seks ini di kalangan anak-anak korban sekaligus pelaku dikenal dengan sebutan "kukudaan".

Menyikapi hal ini menurut Diah, P2TP2A lebih fokus untuk melindungi anak-anak agar tidak trauma dan bisa tetap beraktivitas secara normal termasuk sekolah. Selain itu, P2TP2A juga fokus memberikan rehabilitasi agar kondisi kejiwaan mereka bisa kembali normal dan tidak sampai trauma.

"Masa depan mereka harus diselamatkan sehingga kita lebih fokus untuk melindungi dan merehabilitasi mereka. Kami tak ingin mental mereka hancur dan masa depannya terbuang begitu saja apalagi kebanyakan dari mereka masih duduk di bangku sekolah dasar meski ada juga dua orang yang sudah SMP," ujarnya.***

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bagikan: