Pikiran Rakyat
USD Jual 14.032,00 Beli 14.130,00 | Umumnya berawan, 29.2 ° C

Pemkot Bogor Lirik Monorail untuk Antisipasi Keberadaan LRT

Windiyati Retno Sumardiyani
KENDARAAN melaju di jalur sistem satu arah Istana Bogor, Senin, 22 April 2019. Pemerintah Kota Bogor berencana menggunakan moda transportasi monorail untuk mengurangi kemacetan, dampak dibangunnya LRT di Kota Bogor pada 2020.*/WINDIYATI RETNO SUMARDIYANI/PR
KENDARAAN melaju di jalur sistem satu arah Istana Bogor, Senin, 22 April 2019. Pemerintah Kota Bogor berencana menggunakan moda transportasi monorail untuk mengurangi kemacetan, dampak dibangunnya LRT di Kota Bogor pada 2020.*/WINDIYATI RETNO SUMARDIYANI/PR

BOGOR, (PR).-  Pemerintah Kota Bogor ingin mengantisipasi dampak keberadaan Light Rail Transit (LRT) yang akan akan tersambung dari Cibubur ke Bogor pada 2020 mendatang.  Wakil Wali Kota Bogor, Dedie A Rachim, menuturkan, keberadaan LRT diprediksi akan menambah kemacetan di Kota Bogor sehingga perlu diantisipasi sejak dini.

“Sudah ada Keppres tentang kelanjutan pembangunan LRT Cibubur-Cimanggis-Bogor.  Kota Bogor harus mengantisipasinya, enggak bisa begini, udah jadi baru dipikirin,” ujar Dedie A Rachim, saat dijumpai “PR” di Gedung DPRD, Kota Bogor, Senin, 22 April 2019.

Berdasarkan kajian  sementara,  keberadaan LRT di Kota Bogor diprediksi akan menambah kunjungan sekitar 120 ribu pengunjung perhari.  Salah satu yang perlu diantisipasi adalah pendistribusian pengunjung tersebut di Kota Bogor dengan menggunakan moda transportasi lanjutan LRT.  

“Kebayang enggak kalau enggak diantisipasi? 120 ribu orang itu keliling Bogor.  Kita bisa pakai monorail untuk menyebarkan mereka. Saat ini, PT Inka dan Pembangunan Perumahan sudah punya produksinya namanya Metro Kapsul.  Kita sedang pikirkan apakah cocok sebagai sarana transportasi sambungan untuk LRT ke depan,” ucap Dedie.

Pelajari berbagai usulan

KERETA Light Rail Transit di PT Industri Kereta Api (INKA) Madiun, Rabu 10 April 2019. Kementerian Perhubungan memesan 32 rangkaian LRT yang akan digunakan untuk melayani transportasi wilayah Jabodetabek dan ditargetkan selesai seluruhnya pada 2020.*/ANTARA

Menurut Dedie, penggunaan Metro Kapsul di Kota Bogor  masih dalam tahap usulan.  Pemkot Bogor, juga sedang mempertimbangkan keinginan  Pemerintah Belanda yang berhasrat menghibahkan moda transportasi sejenis monorail di Kota Bogor. 

Moda transportasi tersebut direncanakan dapat menghubungkan penumpang dari wilayah Cibuluh Jambu 2 hingga ke Tajur. Saat ini, Pemkot Bogor terus berkoordinasi dengan lintas sektor seperti Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek, pemerintah pusat, dan pemerintah provinsi untuk menyelaraskan program transportasi di Kota Bogor.

“Kami harus pelajari itu. Mereka punya keinginan menghibahkan 24 tram seattle ke Kota Bogor.  Hibah Belanda itu masih usulan, kalau bisa dimanfaatkan untuk rakyat kenapa tidak? Kita respons saja dulu,” ujar Dedie.

Disinggung potensi kemacetan yang ditimbulkan jika Kota Bogor menambah moda transportasi monorail, Dedie menyebutkan bahwa Pemkot Bogor akan mengambil kebijakan yang tepat.  Jika ada monorail, Pemkot Bogor akan mendistribusikan angkutan umum lainnya di lokasi yang membutuhkan.

“Jadi nanti monorail itu bisa dioperasikan di sekitar Kebun Raya Bogor saja, gampang nanti angkutan lain bisa didistribusikan ke arah yang paling tepat. Ini semua untuk rakyat, jadi jangan dipikirkan yang negatifnya dulu. Kalau Bogor lebih maju kenapa tidak,” kata Dedie.

Belum ada kepastian waktu

ILUSTRASI. METRO Kapsul Bandung.*/DOK.PIKIRAN RAKYAT

Kepala Dinas Perhubungan Kota Bogor, Rakhmawati, menambahkan, sejauh ini Pemkot Bogor belum mendapatkan kepastian kapan LRT akan dibangun di Kota Bogor.  Namun demikian, Rakhmawati memastikan, Pemkot Bogor telah menyiapkan strategi untuk mengantisipasi dampak kemacetan di Kota Bogor khususnya kawasan Baranangsiang. 

"Sejauh ini pembangunannya masih sampai Cibubur, sinkronisasi dan antisipasi itu pasti ada. Titik-titik untuk mendukung LRT juga disiapkan, tetapi kami juga perlu memastikan dulu, jadi dibangun atau enggak," ujar Rakhmawati. 

Mengenai kemungkinan keberadaan monorail, Rakhmawati  belum dapat memastikan realisasi moda transportasi tersebut.  Termasuk kemungkinan hibah moda transportasi dari Belanda juga masih dikaji apakah layak beroperasi di Kota Bogor atau tidak.***

Bagikan: