Pikiran Rakyat
USD Jual 14.280,00 Beli 14.182,00 | Sebagian berawan, 20.9 ° C

Menjelajah Pertanian Masa Lalu dan Masa Depan di Museum Pertanian

Windiyati Retno Sumardiyani
PENGUNJUNG menyaksikan artefak pertanian masa lalu di Museum Pertanian di Jalan Djuanda, Kota Bogor, Senin, 22 April 2019. Kementerian Pertanian resmi membuka Museum Pertanian dengan tema bertolak dari masa lalu, menapak masa depan.*/WINDIYATI RETNO SUMARDIYANI/PR
PENGUNJUNG menyaksikan artefak pertanian masa lalu di Museum Pertanian di Jalan Djuanda, Kota Bogor, Senin, 22 April 2019. Kementerian Pertanian resmi membuka Museum Pertanian dengan tema bertolak dari masa lalu, menapak masa depan.*/WINDIYATI RETNO SUMARDIYANI/PR

“Sekitar abad ke-1 Masehi, penduduk  nusantara mulai mengenal persawahan dan teknologi pertanian. Sejak kerajaan Mataram kuno dan Sriwijaya, Indonesia sudah mengenal kebudayaan bercocok tanam yang maju”

SEPENGGAL kalimat tersebut terpajang di sudut lantai dasar Museum Pertanian, Jalan Djuanda, Kota Bogor.  Kalimat pembuka tersebut seakan mengajak pengunjung untuk menengok sejarah pertanian di Indonesia pada masa lampau.

Museum Pertanian yang baru saja diresmikan Kementerian Pertanian, Senin, 22 April 2019 memang sengaja menyajikan sejarah panjang pertanian di Indonesia. Tak hanya menyajikan pertanian masa lampau, museum yang terletak satu komplek dengan Museum Tanah itu juga menunjukkan gambaran pertanian masa depan Indonesia.

Penjelajahan Museum Pertanian dimulai dari pajangan artefak pertanian masa lalu  di lantai dasar gedung C. Mulai dari kalender pranata mangsa, pacul, hingga patung petani kerbau membajak sawah terpampang di kawasan tersebut.  Pengunjung pun dapat berswafoto di beberapa sudut menarik seperti  dapur petani dengan pose meniup kompor suluh, atau sepeda onthel dengan tambahan properti baju lurik dan caping.

Memasuki lantai 2, suara debur ombak dan replika kapal VOC yang pertama kali datang ke Indonesia akan langsung menyambut pengunjung. Perkembangan kondisi pertanian di era 1600-1945 yang didominasi komoditas perkebunan seperti kopi, karet, tembakau ada di lantai ini. Deretan kebijakan dan sosok menteri pertanian dalam periode Indonesia Merdeka juga dihadirkan di lantai dua tersebut.

Naik ke lantai 3, pengunjung dapat menyaksikan teknologi pertanian masa depan. Potret lumbung pangan dunia 2045, dan ilustrasi tentang penggunaan teknologi canggih dengan peralatan seperti drone, traktor otonom, sensor lingkungan dan iklim, dan citra udara menjadi akhir penjelajahan gedung C.

Tak hanya soal pertanian, galeri pertanian juga terjadi di gedung lainnya. Di lokasi tersebut, diorama peternakan domba garut dan patung sapi Belgian Blue dengan ukuran sebenarnya terpampang di Gedung D. Di gedung tersebut, pengunjung juga bisa menyaksikan film pertanian di sinema, sebelum menikmati pemandangan Gunung Salak dan Gede Pangrango dari lantai atas gedung D.

Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian Syukur Iwantoro menyatakan, Museum Pertanian tersebut memang didesain untuk menggambarkan kondisi pertanian saat ini hingga masa depan. Melalui Museum Pertanian tersebut, pengunjung diharapkan tak hanya menjadi destinasi wisata di Kota Bogor, namun juga bisa menjadi motor penggerak bahwa dunia pertanian  hadir untuk negeri.

“Proses pembangunan pertanian tergambar secara gamblang di sini. Kita bisa melihat sejarah pertanian yang terus berkreasi dan efisien,” ucap Syukur.

Lebih lanjut, Syukur pun berharap museum tersebut bisa menjadi tempat bernostalgia bagi masyarakat lintas generasi. Kementerian Pertanian, kata Syukur, akan terus mengembangkan museum tersebut agar lebih menarik lagi.

Mantan Menteri Pertanian periode 2009-2014 Suswono berharap, Museum Pertanian yang hadir di Bogor dapat membangkitkan semangat anak muda untuk lebih mencintai pertanian. Museum tersebut diharapkan dapat menggambarkan bahwa usaha pertanian masih menjanjikan dan menguntungkan.

“Museum ini tentunya jangan sekedar jadi tempat flashback saja, tetapi juga gambaran pemanfaatan teknologi ke depan. Pertanian ke depan, pasti tenaga kerja semakin sulit,  robotik itu tentu tidak mustahil, saya minta pertanian kita bisa memanfaatkan dunia digital. Negara lain sudah melakukan, harapan ini ada di Indonesia,” kata Suswono.****

Bagikan: