Pikiran Rakyat
USD Jual 14.540,00 Beli 14.240,00 | Sedikit awan, 22.2 ° C

Bertambah, Petugas KPPS di Jabar yang Meninggal Jadi 34 Orang

Dewiyatini
Kematian/DOK. PR
Kematian/DOK. PR

BANDUNG, (PR).- Jumlah petugas KPPS (Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara) di Jawa Barat yang meninggal bertambah menjadi 34 orang.

Ketua KPU (Komisi Pemilihan Umum) Jawa Barat Rifqi Ali Mubarok mengatakan, rata-rata usia petugas KPPS itu adalah 40 tahun ke atas. Rifqi Ali Mubarok juga mengatakan selain yang meninggal, terdapat 14 orang yang kini dirawat karena kelelahan.

“Jumlahnya terus bertambah. Jumlah di Jabar paling banyak,” ujar Rifqi Ali Mubarok, Senin 22 April 2019 malam.

Petugas KPPS yang meninggal berasal dari Kota Bandung (3 orang), Cimahi (3 orang), Cianjur (3 orang), Indramayu (2 orang), Kabupaten Cirebon (3 orang), Kabupaten Sukabumi (3 orang), Kota sukabumi (1 orang), Karawang (2 orang), Kabupaten Bogor (2 orang), Kuningan (2 orang), Kabupaten Tasikmalaya (3 orang), Kota Bekasi (2 orang), Kabupaten Bandung (2 orang), Depok (1 orang), dan Purwakarta (2 orang).

PILPRES 2019.*/REUTERS

Rifqi Ali Mubarok menyebut, musibah tersebut murni karena volume kerja yang tinggi sehingga petugas kelelahan. Ia membantah adanya tekanan psikologis kepada para petugas KPPS.

“Sebagian besar karena faktor usia yang sudah tidak muda lagi. Volume kerja yang tinggi itu menyebabkan faktor kelelahan. Ditambah ada beberapa yang memiliki riwayat sakit jantung,” ucap dia.

Dia mengatakan, banyaknya petugas KPPS yang meninggal akan dijadikan bahan evaluasi. Peristiwa tersebut juga telah dilaporkan ke KPU RI.

“Saya kira kelelahan menjadi faktor utamanya. Ditambah lagi faktor usia. Ada yang usianya 60 tahun,” katanya.

Honor tak sebanding

Pengamat politik Universitas Pendidikan Indonesia Idrus Affandi menyebut, Pemilu 2019 ini sulit dilaksanakan. Banyak dampak yang harus diterima berbagai pihak.

Menurut Idrus Affandi, setidaknya ada 6 hal yang terjadi seperti volume kerja petugas yang tinggi, konstelasi politik juga tinggi, anggaran yang tidak terkendali, persaingan yang lebih ketat, konsentrasi partai politik terpecah, dan keuntungan bagi calon anggota legislatif yang tidak seimbang.

“Akhirnya memang berat. Ingin menang Pilpres, juga menang Pileg. Banyak yang memanfaatkan segala cara untuk mendapatkan segalanya,” kata dia.

Yang terkena dampak paling berat, kata Idrus Affandi, adalah petugas di lapangan. Dengan honor yang tidak sebanding dengan volume kerjanya, petugas dipaksa melampaui batas maksimum kemampuan fisiknya. Ditambah lagi, kemungkinan besar adanya tekanan psikologis.

Kehadiran saksi di TPS, kata Idrus Affandi, tidak lantas menjadi bagian cek dan ricek penghitungan suara. SDM dari saksi yang diutus parpol kemungkinan besar tidak sanggup menjaga konsistensi konsentrasinya dalam waktu penghitungan yang cukup panjang.

“Mekanisme penghitungan yang kemudian diunggah menggunakan sistem teknologi informasi juga tidak memudahkan,” ucapnya.***

Bagikan: