Pikiran Rakyat
USD Jual 14.280,00 Beli 14.182,00 | Umumnya cerah, 26 ° C

Tebing Penyangga Jalan Longsor, Akses ke Cibingbin Terancam Putus

Nuryaman
LONGSOR tebing penyangga jalan bagian abutment (kepala jembatan) Sungai Cijangkelok di sekitar Dusun Karangsari, Desa Dukuhbadag, Kecamatan Cibingbin, Kabupaten Kuningan makin parah.*/NURYAMAN/PR
LONGSOR tebing penyangga jalan bagian abutment (kepala jembatan) Sungai Cijangkelok di sekitar Dusun Karangsari, Desa Dukuhbadag, Kecamatan Cibingbin, Kabupaten Kuningan makin parah.*/NURYAMAN/PR

KUNINGAN, (PR).- Longsor tebing penyangga jalan bagian abutment (kepala jembatan) Sungai Cijangkelok di sekitar Dusun Karangsari, Desa Dukuhbadag, Kecamatan Cibingbin, Kabupaten Kuningan makin parah. Longsor tersebut nyaris memutus satu-satunya ruas jalan menuju Desa Dukuhbadag dan Bantarpanjang di ujung timur wilayah kabupaten tersebut. 

Menurut sejumlah warga Desa Dukuhbadag Rabu 17 April 2019 longsor susulan menyita tebing dan fondasi badan jalan itu, terjadi setelah sungai besar yang bermuara ke Sungai Cisanggarung itu  kembali meluap pada Senin 15 April 2019 malam.

Tinggi muka air Sungai Cijangkelok mengalir deras di sekitar jembatan tersebut, menurut warga setempat, malam itu sempat mengalami peningkatan setinggi lebih dari dua meter dan menerjang kembali titik longsor tebing abutment jembatan itu. Terpantau “PR” Online,  akibat terjangan arus lupan sungai tersebut  area bidang longsor pada bagian kepala jembatan itu semakin melebar menyita badan jalan di atasnya.

Lebar badan jalan yang tadinya sekitar 5 meter pada bagian kepala jembatan itu, kini tinggal tersisa separuhnya. Dan, yang masih memungkinkan dilalui mobil, kini tinggal tersisa sekitar dua meteran karena tanah penyangga badan jalan tersisa di tepi bidang longsor itu sudah rapuh, bahkan sebagian lenyap tersosok arus luapan sungai.

Sebagaimana diberitakan, longsor awal melanda tebing pada bagian kepala jembatan itu terjadi awal Maret 2019 akibat tergerus arus luapan sungai Cijangkelok. Namun, sejak itu titik longsor menyita badan alur jalan kabupaten itu tidak mendapat penanganan fisik. Kecuali hanya ditutupi terpal plastik dan di bagian atasnya dipagar bambu pemberi tanda bagi pengendara dan pejalan kaki agar tidak masuk dan terperosok.

Hanyut

Suyoto (45) warga Desa Dukuhbadag, kepada “PR” Online menyebutkan saat terjadi luapan sungai Senin sore hingga malam, terpal plastik penutup bidang longsor itu hanyut. “Temboknya saja hancur, apalagi terpal plastik. Begitu terjadi banjir terpal plastik itu langsung saja lepas terbawa hanyut,” ujar Suyoto.

Namun, menurut Suyoto dan sejumlah warga sekitar, luapan Cijangkelok awal Maret 2019 maupun Senin 15 April 2019 tidak sampai meluber melanda permukiman penduduk, seperti pernah terjadi pada musim hujan awal tahun 2019.  Terlebih area permukiman warga Deas Dukuhbadag di tepian sungai tersebut  sekarang sudah terbenteng bentangan tembok penghadang luapan sungai.

Kini warga Desa Dukuhbadag dan Desa Bantarpanjang mengharapkan pemerintah daerah Kabupaten Kuningan segera menangani titk longsor pada bagian abutment jembatan tersebut tadi agar jangan sampai jalan itu terputus total. Masalahnya jalan itu merupakan satu-satunya ruas jalan akses dua desa tersebut. Jika jalan atau jembatan itu sampai terputus total, dua desa di ujung timur wilayah Kuningan itu praktis akan terisolasi total dari transportasi kendaraan.

Menyikapi itu, Kepala Bidang Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Kuningan Apep Kusmara, dua pekan lalu kepada “PR” menyatakan titik longsor mengancam memutus jalan pada bagian kepala jembatan di Desa Dukuhbadag itu, sudah direncanakan dalam waktu dekat ini akan ditangani pihaknya dengan bentuk penanganan bangunan fisik permanen.***

Bagikan: