Pikiran Rakyat
USD Jual 14.150,00 Beli 13.850,00 | Sedikit awan, 22.4 ° C

Tidak Semua Pasien ODGJ Menyalurkan Hak Suaranya

PASIEN dengan status orang dengan gangguan jiwa memberikan hak suaranya di TPS 02, Rumah Sakit Marzoeki Mahdi, Kelurahan Menteng, Kota Bogor, Rabu, 17 April 2019. Dari 350 pasien rawat inap, hanya 7 pasien yang memberikan hak pilihnya.*/WINDIYATI RETNO SUMARDIYANI/PR
PASIEN dengan status orang dengan gangguan jiwa memberikan hak suaranya di TPS 02, Rumah Sakit Marzoeki Mahdi, Kelurahan Menteng, Kota Bogor, Rabu, 17 April 2019. Dari 350 pasien rawat inap, hanya 7 pasien yang memberikan hak pilihnya.*/WINDIYATI RETNO SUMARDIYANI/PR

WAJAH Kurniawan (36) sumringah. Pasien  rumah sakit Marzoeki Mahdi, Kelurahan Menteng, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor itu langsung tersenyum seusai menyalurkan hak pilihnya di TPS 02, Kelurahan Menteng, Rabu, 17 April 2019.

Meskipun berstatus sebagai orang dengan gangguan jiwa (ODGJ), pria yang sudah menjalani perawatan selama 20 hari itu mengaku tak kesulitan menggunakan hak pilihnya. Oleh penyelenggara pemungutan suara, Kurniawan diberi dua kertas suara presiden dan wakil presiden, serta surat suara DPD dapil Jawa Barat.

“Sudah diberi pengarahan dari jauh-jauh hari, jadi gampang saja. Cuma agak grogi karena dilihat orang banyak,” ujar Kurniawan saat dijumpai seusai memberikan hak pilihnya.

Sepintas, memang tidak ada perlakuan istimewa bagi para pasien ODGJ yang memberikan hak pilih. Tepat jam 12.00, petugas PPS Kelurahan Menteng 02, mendatangi ruang rehabilitasi sebagai tempat pencoblosan pasien ODGJ. Petugas PPS kemudian menjelaskan tata cara pencoblosan kepada tujuh pasien ODGJ yang mendapatkan hak pilih mereka. Tanpa didampingi petugas, pasien ODGJ tersebut kemudian mengambil surat suara dan menyalurkan hak pilih di bilik suara yang disediakan.

Kurniawan  sendiri  satu dari tujuh orang pasien ODGJ Rumah Sakit Marzoeki Mahdi yang  bisa menyalurkan hak pilihnya. Berdasarkan data awal Rumah Sakit Marzoeki Mahdi Bogor, seharusnya ada sekitar 107 pasien ODGJ yang  mendapatkan hak pilih. Namun demikian, setelah didata ulang, hanya separuhnya saja yang  bisa menyalurkan hak pilihnya. Sisanya tidak memiliki hak suara karena terkendala administrasi.

Kepala Subbag Hukum dan Organisasi Masyarakat Rumah Sakit Marzoeki Mahdi Prahardian Priatama menuturkan, dari 50 orang yang seharusnya memberikan hak pilih, beberapa di antaranya sudah di bawa pulang oleh keluarga. Sehingga hanya tujuh pasien yang dapat menyalurkan hak pilihnya.

“Kami coba bantu urus A5 107 orang ini, kami minta administrasi KTP mereka. Terakhir data yang ada memang sekitar 50 orang, setelah dicek yang terdaftar di DPT ada 30 orang, dari jumlah itu, ada yang pulang, dan memilih di rumahnya, jadi sisanya hanya 7 orang,” ucap Dian.

Menurut Dian, sebenarnya total pasien OGDJ di RS Marzoeki Mahdi Kota Bogor hanya mencapai 350 pasien. Namun demikian, hanya 107 orang yang masuk dalam kategori pasien tenang. Dalam memberikan hak pilih, pasien OGDJ tidak perlu melampirkan surat keterangan sehat. Para pasien hanya perlu menunjukkan kelengkapan administrasi serta memiliki nalar untuk memilih.

“Kalau yang akut, mereka belum bisa mengendalikan diri, jadi enggak mungkin dibiarkan untuk memilih. Rata-rata yang mencoblos ini yang sudah menjalani perawatan hingga 20 hari,” kata Dian.***

Bagikan: