Pikiran Rakyat
USD Jual 14.150,00 Beli 13.850,00 | Umumnya berawan, 23.4 ° C

Pemilih Disabilitas Netra Keluhkan Kekurangan Templat Braille

Hilmi Abdul Halim
SEORANG penyandang disabilitas netra mengikuti pemungutan suara Pemilihan Umum 2019 di Tempat Pemungutan Suara Kelurahan Nagrikaler Kecamatan Purwakarta Kabupaten Purwakarta, Rabu, 17 April 2019. Pemilih disabilitas tersebut belum mendapatkan kebebasan karena tidak semua jenis surat suara disediakan templat beraksara braille.*/HILMI ABDUL HALIM/PR
SEORANG penyandang disabilitas netra mengikuti pemungutan suara Pemilihan Umum 2019 di Tempat Pemungutan Suara Kelurahan Nagrikaler Kecamatan Purwakarta Kabupaten Purwakarta, Rabu, 17 April 2019. Pemilih disabilitas tersebut belum mendapatkan kebebasan karena tidak semua jenis surat suara disediakan templat beraksara braille.*/HILMI ABDUL HALIM/PR

PURWAKARTA, (PR).- Penyandang disabilitas netra di Kabupaten Purwakarta mengaku tidak puas saat mengikuti pemungutan suara Pemilihan Umum 2019. Ini karena templat beraksara braille yang disediakan hanya untuk surat suara Pemilihan Presiden dan Dewan Perwakilan Daerah.

Untuk mencoblos tiga surat suara lainnya, mereka terpaksa didampingi petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara setempat. "Jadi kurang tepercaya kerahasiaannya," kata pemilih disabilitas netra Mulyana Wijaya (38), Rabu, 17 April 2019

Mulyana menggunakan hak pilihnya di Tempat Pemungutan Suara (TPS) 41 Gang Beringin Kelurahan Nagrikaler Kecamatan Purwakarta. Tiga surat suara tanpa templat ialah untuk pemilihan anggota Dewan Perwakilan Rakyat tingkat pusat, provinsi dan daerah.

Petugas pendamping memberi informasi letak calon anggota legislatif yang akan dipilih pemilih disabilitas netra tersebut. Namun, mereka merasa lebih puas menggunakan templat. "Mudah-mudahan saja masih terjaga kerahasiaannya dan tidak dicurangi," kata Mulyana.

Menurut pantauan wartawan Pikiran Rakyat, durasi pencoblosan pemilih disabilitas netra di bilik suara mencapai 10-15 menit. Tak hanya pemilih yang kebingungan, para petugas yang mendampinginya juga terlihat kebingungan menangani pemilih berkebutuhan khusus tersebut.
 

Selain menyediakan templat untuk semua jenis surat suara, pemilih disabilitas juga menyarankan Komisi Pemilihan Umum meningkatkan sosialisasi teknis pemilihan. "Tidak hanya pada pemilih disabilitas tapi juga pada panitia penyelenggaranya sosialisasinya," kata pemilih disabilitas netra lainnya, Rita Nurhana (37).

Meskipun demikian, Rita menilai penyelenggaraan Pemilu 2019 lebih baik dibandingkan Pemilihan Kepala Daerah serentak 2018 lalu. Menurutnya, templat beraksara braille sebelumnya tidak disediakan sama sekali seperti sekarang.

Rita dan Mulyana merupakan anggota Persatuan Tuna Netra Indonesia di Purwakarta. Secara keseluruhan, jumlah anggota Pertuni di daerahnya tercatat sebanyak ratusan orang dengan pengurus yang aktif sekitar 100 orang. Mereka pun tercatat sebagai pemilih Pemilu 2019.

Dalam Daftar Pemilih Tetap Pemilu 2019, pemilih disabilitas tercatat sebanyak 1.096 orang. Mereka terbagi dalam lima kategori penyandang disabilitas yakni tuna daksa (269 orang), tuna netra (207), tuna rungu/wicara (194), tuna grahita (136), dan penyandang disabilitas lainnya (209).

Selain hanya dua jenis surat suara, templat beraksara braille untuk pemilih disabilitas juga hanya disediakan untuk wilayah pusat Kabupaten Purwakarta. "Tidak banyak yang bisa membaca aksara braillenya juga, apalagi di pelosok. Jadi hanya disediakan di kota," kata Ketua KPU Purwakarta Ahmad Ikhsan Faturrahman.***

Bagikan: