Pikiran Rakyat
USD Jual 14.393,00 Beli 14.093,00 | Umumnya cerah, 17.3 ° C

Kubu Prabowo-Sandiaga Uno Klaim Menang di Jabar, Pengamat Politik Ungkap 3 Penyebabnya

Dewiyatini
PILPRES 2019/ANTARA
PILPRES 2019/ANTARA

BANDUNG, (PR).- Badan Pemenangan Daerah (BPD) Prabowo-Sandiaga Uno Jawa Barat mengklaim Prabowo-Sandiaga Uno menang 60% suara di Jabar.

Ketua BPD Prabowo-Sandiaa Uno Jabar Haris Bobihoe menegaskan, kemenangan tersebut harus dikawal ketat, salah satunya dengan mengamankan formulir C1 sebagai bukti otentik penghitungan suara di TPS.

Bahkan, Haris Bobihoe meyakinkan, berdasarkan data yang dikantongi Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandiaga Uno, pasangan tersebut unggul secara nasional.

Sekretaris BPD Prabowo-Sandiaga Uno Jabar Haru Suandharu mengatakan, kemenangan 60 persen suara Prabowo-Sandiaga Uno di Jabar didapat berdasarkan hasil hitung cepat yang digelar BPD Prabowo-Sandiaga Uno Jabar. Oleh karena itu, kata Haru Suandharu, peluang kemenangan Prabowo-Sandiaga Uno  versi penghitungan manual masih terbuka lebar.

"Ini posisi di Jabar, Prabowo-Sandiaga Uno yang menang. Itu yang kita (kami) terus semangati teman-teman saksi karena saksi masih kerja sampai pukul 12 malam,” katanya di Kota Bandung, Rabu 17 April 2019.

CALON presiden Prabowo Subianto menyampaikan keterangan pers di kediaman di Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan, Rabu 17 April 2019.*/ANTARA

Haru Suandharu juga meminta seluruh saksi terus mengawal proses penghitungan suara Pilpres 2019. Hingga kini, Haru Suandharu mengatakan banyak menerima laporan kecurangan dalam proses pemungutan suara.

Haru Suandharu mencontohkan, salah satu laporan kecurangan yang cukup banyak diterima yakni terkait surat suara yang sudah tercoblos untuk Jokowi-Ma'ruf Amin.

Haru Suandharu mengajak masyarakat untuk menunggu hasil penghitungan resmi dari KPU

Memanfaatkan karakter pemilih religius

Hasil hitung cepat dari sejumlah lembaga survei menunjukkan pasangan Joko Widodo dan Ma’ruf Amin unggul dari Prabowo-Sandiaga Uno. Namun khusus di Jawa Barat, raihan suara Jokowi-Ma’ruf Amin kembali tidak dapat melampaui Prabowo-Sandiaga Uno. Hal tersebut pernah terjadi dalam Pilpres 2014.

Pengamat poltik Universitas Padjadjaran Firman Manan menyebut, terdapat beberapa hal yang menyebabkan kekalahan Jokowi-Ma’ruf Amin di Jabar.

Pertama, berkaitan dengan perubahan suara di saat-saat terakhir. Firman Manan mengatakan, perubahan itu terjadi dengan memanfaatkan karakter pemilih di Jabar yang religius.

“Sentimen emosional terkait dengan keagamaan akan mengubah preferensi. Ditambah lagi pernyataan dukungan dari ulama seperti Adi Hidayat, Abdul Somad, Aa Gym, dan Arifin Ilham dapat mengarahkan dukungan,” ujarnya, Rabu 17 April 2019.

Kedua, Firman Manan menyebut, mesin partai yang mendukung tidak beralan maksimal. Partai politik di luar PDIP lebih mengutamakan kerja untuk pemilihan anggota legislatif.

Ketiga, dukungan dari kepala daerah juga tidak mampu mendorong pemilih untuk mencoblos Jokowi-Ma’ruf Amin.

“Mereka tidak dapat bergerak maksimal sehingga di posisi akhir tidak ada perubahan signifikan,” ucap Firman Manan.

Sementara untuk partai politik, beberapa partai mendapatkan raihan suara signifikan sehingga mampu melampaui ambang batas parlemen. Setidaknya, hal itu diraih partai Nasdem dan PAN.

“Pengertian cukup signifikan itu wajar karena undecided voter yang cukup tinggi pada kisaran 10-20% justru memberikan suaranya pada partai-partai menengah,” ujar Firman Manan.

Hal itu terjadi karena kepercayaan undecided voter bahwa partai-partai besar sudah dipilih oleh strong voters. Firman Manan menyebut, pola-pola udecided voter memang seperti itu dalam setiap pemilu.

Akan tetapi, angka raihan yang sebenarnya baru akan terlihat setelah semua hasil penghitungan suara masuk ke KPU. Selain itu, tingkat partisipasi pemilih juga akan memperlihatkan parpol mana saja yang diuntungkan.

“Tapi yang saya lihat di pileg ini, parpol benar-benar menggenjot mesinnya sampai titik maksimal sehingga hasilnya sesuai dengan yang diharapkan,” katanya.

Untuk parpol baru, kata Firman Manan, seperti prediksi dia sebelumnya, sulit menembus ambang batas parlemen yaitu 4%. Menurut dia, masyarakat tidak terlalu memahami dan mengenal parpol baru tersebut. Ditambah lagi, parpol baru memang belum memiliki basis massa.

“Berbeda dengan partai lama, pasti sudah memiliki basis massa. Bahkan pemilih bisa saja tahu ada partai baru ketika mereka datang ke TPS,” ucap Firman Manan.***

Bagikan: