Pikiran Rakyat
USD Jual 14.301,00 Beli 14.001,00 | Sebagian berawan, 18.4 ° C

Diminta Bayar Rp 15 Miliar, Pemkab Garut Merasa Keberatan

Tim Pikiran Rakyat
ILUSTRASI tempat pembungan sampah.*/DOK. KABAR BANTEN
ILUSTRASI tempat pembungan sampah.*/DOK. KABAR BANTEN

GARUT, (PR).- Bupati Garut Rudy Gunawan mengakui hingga saat ini sampah masih menjadi permasalahan yang paling rumit di Kabupaten Garut. Berbagai upaya penanganan yang telah dilakukanpun masih menemui kegagalan sehingga sedang dicoba mencari solusi lainnya.

"Masalah sampah ini memang masih menjadi persoalan yang sulit kita atasi. Beberapa upaya yang telah kita lakukan masih belum bisa membuahkan hasil yang menggembirakan," ujar Rudy, Rabu 17 April 2019.

Masalah paling berat yang dihadapi pemkab Garut untuk masalah penanganan sampah saat ini, menurut Rudy, yakni keterbatasan di tempat pembuangan akhir (TPA) sampah Pasir Bajing  di wilayah Desa Sukaraja, Kecamatan Banyuresmi. TPA tersebut sudah tak lagi mampu menampung volume sampah sehingga kondisinya kini sudah meluber.

Dikatakan Rudy, pada awalnya Pemkab Garut beranggapan permasalahan sampah ini akan bisa teratasi dengan keberadaan TPA Legoknangka di kawasan Nagreg, Kabupaten Bandung. Sebelumnya telah ada kesepakatan antara Pemkab Garut dengan Pemprov Jabar semasa Gubernur Ahmad Heryawan terkait kerja sama pembunagan sampah dari Garut ke TPA Legoknangka.

Namun, tuturnya, ternyata saat ini ada aturan baru yang dinilai sangat memberatkan Pemkab Garut apabila mau membuang sampah ke TPA Legoknangka. Pemprov Jabar meminta Garut membayar biaya operasional hingga 70 persen padahal sebelumnya hanya diminta 30 persen. Sehingga jika dihitung-hitung, total biaya yang harus dikeluarkan Pemkab Garut untuk bisa membuang sampah ke TPA Legoknangka mencpai Rp 15 miliar per tahun.

"Aturan yang berlaku saat ini terlalu memberatkan bagi kami karena biaya yang harus dikeluarkan terlalu besar," katanya kepada wartawan Kabar Priangan, Aep Hendy. 

Selain itu, Rudy juga menyampaikan jika hingga saat ini TPA Legoknangka masih belum bisa dioperasikan. Melihat kondisi saat ini, kemungkinan besar TPA Legoknangka baru bisa dioperasikan sekitar tahun 2022 pdahal sebelumnya disebut-sebut pengoperasiannya sudah bisa dilakukan awal 2017.

Tahap darurat

Di sisi lain, tambahnya, kondisi sampah di Garut saat ini sudah masuk tahap darurat sehingga harus secepatnya dicarikan solusinya. Oleh karena itu, Pemkab Garut saat ini terus mencari solusi lain agar permasalahan sampah tidak terus menjadi persoalan yang sangat mengganggu.

"Kita putuskan untuk mencari alternatif lain daripada memaksakan diri menggunakan TPA Pasirbajing yang selain mahal, pengoperasiannya pun masih terlalu lama," ucap Rudy.

Diungkapkannya, salah satu alternatif yang coba dilakukan saat ini yakni menjalin kerjasama dengan salah satu perusahaan dari Korea Selatan. Pihak dari Korea Selatan tersebut mempunyai teknologi pengelolaan sampah yang baik dimana sampah bisa dioalh menjadi listrik dan sisa pembakarannya bisa dipakai briket untuk bahan bakar.

Menurut Rudy, penerapan sistem pengelolaan sampah seperti itu saat ini sudah dijalankan di beberapa daerah di Indonesia termasuk Bogor. Rudy optimis dengan cara ini, permasalahan sampah yang muncul selama ini bisa segera teratasi dengan baik.

Upaya lainnya, tambah Rudy, pihaknya juga akan melakukan pemadatan sampah di TPA Pasirbajing agar tak terlalu meluber ke jalanan. Selain itu, Pemkab Garut juga merencanakan untuk membuka beberapa TPA baru di sejumlah kecamatan di antaranya Cisurupan, Banjarwangi, Malangbong dan Pameungpeuk.***

Bagikan: