Pikiran Rakyat
USD Jual 14.425,00 Beli 14.125,00 | Umumnya berawan, 17.7 ° C

Di Lokasi Rehabilitasi Metal, Muncul Obama di Antara Jokowi dan Prabowo

Riesty Yusnilaningsih
PENGHUNI lokasi rebilitasi mental Yayasan Galuh, Kelurahan Sepanjang Jaya, Kecamatan Rawalumbu, Kota Bekasi memberikan hak suaranya dalam Pemilu, Rabu 17 April 2019.*/RIESTY SUNILANINGSIH
PENGHUNI lokasi rebilitasi mental Yayasan Galuh, Kelurahan Sepanjang Jaya, Kecamatan Rawalumbu, Kota Bekasi memberikan hak suaranya dalam Pemilu, Rabu 17 April 2019.*/RIESTY SUNILANINGSIH

WAKTU menunjukkan pukul 11.30. Ratusan penghuni Yayasan Galuh, Kelurahan Sepanjang Jaya, Kecamatan Rawalumbu, Kota Bekasi berhamburan dari bangsalnya untuk menuju aula tempat menu makan siang siap disantap.

Belasan penghuni lokasi rehabilitasi metal itu semula sudah bersiap memeriahkan gelaran pesta demokrasi. Namun hingga waktu makan siang tiba, Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara yang akan "menjemput" suara para penghuni belum kunjung tiba.

Baru selepas makan siang, secara bergantian petugas dari tiga Tempat Pemungutan Suara tiba di Yayasan Galuh.

Selama menanti kehadiran para petugas TPS, 40 penghuni Yayasan Galuh yang akan memilih rupanya telah memiliki jagoan masing-masing. Namun, sebatas calon presiden seperti yang diutarakan Lina, warga Bekasi Timur. Sebagai orang yang pernah mengenyam bangku kuliah di Semarang, ia mengaku akan memilih Joko Widodo sebagai presiden.

"Soalnya Pak Jokowi orang Solo, kan dekat dengan Semarang," ucap Lina mengutarakan alasannya, Rabu 17 April 2019.

Sementara David, penghuni Yayasan Galuh lainnya lebih memilih mempercayakan aspirasinya kepada Prabowo. "Pokoknya Prabowo," ujarnya tanpa merinci alasannya.

Lain Lina dan David, lain lagi Rojali. Saat ditanya siapa yang akan dipilihnya untuk surat suara pemilihan presiden, ia mantap menjawab "Obama," nama mantan presiden Amerika Serikat.

Tingkat pemahaman tak terukur

Pengurus Yayasan Galuh, Jajat Sudrajat memahfumi jawaban dan pilihan para penghuni yang masih dalam tahapan terapi mental tersebut. Jajat mengatakan, sejak mendapat kabar bahwa penyandang disabilitas mental, mulai Pemilu 2019 sama-sama memiliki hak pilih, belum ada satu pihak pun yang datang untuk melakukan sosialisasi. Baik perihal prosedur pemilihan maupun calon-calon yang berlaga di ajang pemilihan lima tahunan tersebut.

"Jadinya, kami juga tidak paham, harus seperti apa lalu tidak mengerti juga nantinya pilihan para penghuni berdasarkan apa. Mungkin sesuai sepengetahuannya saja," katanya.

PENGHUNI lokasi rebilitasi mental Yayasan Galuh, Kelurahan Sepanjang Jaya, Kecamatan Rawalumbu, Kota Bekasi memberikan hak suaranya dalam Pemilu, Rabu 17 April 2019.*/RIESTY SUNILANINGSIH

Jajat kewalahan mengondisikan para penghuni yang akan mencoblos. Apalagi para calon pemilih tersebut harus menunggu cukup lama hingga akhirnya panitia tiba.

"Mereka tidak betah duduk lama, makanya banyak yang kabur-kaburan. Tapi kami tetap menghargai hak politik mereka yang memang sudah ada ketentuannya," ucapnya.

Akibat minimnya sosialisasi, 16 penghuni yang mendapat kesempatan menyalurkan hak politiknya terlihat kebingungan saat disodori sepaket surat suara. Terutama surat suara DPD, DPR RI, DPRD Jabar, juga DPRD Kota Bekasi.

Sebab, di surat suara tersebut hanya tertera nama-nama dan ukuran kertasnya terlalu besar saat harus dilipat kembali. Satu pemilih, rata-rata membutuhkan waktu minimal lima menit untuk menyelesaikan pencoblosan surat suara.

"Saya tidak paham mereka mengerti sampai tahap mana, yang terlihat hanya mereka sempat kesulitan melipat surat suara, selebihnya itu tergantung mereka," kata anggota Badan Pengawas Pemilu Kelurahan Sepanjang Jaya Nurhayati.

Surat suara yang dicoblos para penghuni Yayasan Galuh tentunya tidak akan diketahui karena langsung dikembalikan ke TPS, dicampurkan dengan surat suara pemilih lainnya, baru kemudian dihitung.***

Bagikan: