Pikiran Rakyat
USD Jual 14.425,00 Beli 14.125,00 | Umumnya berawan, 17.3 ° C

Nurcahya, Hansip Penjaga TPS yang Semangatnya Masih Membara Meski Usianya Senja

Tati Purnawati
NURCAHYA (84) warga Blok Jumat, Desa Panyingkiran, Kecamatan Jatitujuh, Kabupaten Majalengka, diusianya yang tak muda masih semangat untuk mengabdikan diri menjadi petugas hansip di desanya hingga semangat kerja untuk menjaga keamanan nyaris mengalahkan anak muda walaupun tanpa di gaji.*/TATI PURNAWATI/KC
NURCAHYA (84) warga Blok Jumat, Desa Panyingkiran, Kecamatan Jatitujuh, Kabupaten Majalengka, diusianya yang tak muda masih semangat untuk mengabdikan diri menjadi petugas hansip di desanya hingga semangat kerja untuk menjaga keamanan nyaris mengalahkan anak muda walaupun tanpa di gaji.*/TATI PURNAWATI/KC

DI usianya yang hampir senja, Nurcahya (84) warga Blok Jumat, Desa Panyingkiran, Kecamatan Jatitujuh, Kabupaten Majalengka,  masih semangat untuk mengabdikan diri menjadi petugas hansip di desanya. Semangat kerja Nurcahya untuk menjaga keamanan nyaris mengalahkan anak muda walaupun tanpa di gaji.

Diapun menjadi petugas hansip andalan oleh pemerintah desa setempat. Selain karena dedikasinya, dia juga memiliki pengalaman yang cukup lama. Sejak usia 15 tahun sudah menjadi OKD yang hingga kini tak henti menjadi petugas keamanan. Saat kerja dia selalu mengenakan pakaian kebesarannya lengkap dengan topi dan sabuk serta sepatu.

Walaupun usianya sudah tak muda, ia masih tetap bekerja mengangkat barang berat, membersihkan saluran air ke sawah dan lingkungan. Suaranyapun masih tetap nyaring dan jelas dan daya ingatnya juga masih sangat kuat. Hanya gigi yang sebagian besar sudah ompong.

Diapun masih diandalkan untuk menjaga keamanan di tempat hajatan yang harus menindak orang rese saat berada di panggung, mengatur kendaraan parkir dan lain-lain yang butuh energi kuat.

“Menjaga keamanan panggilan jiwa, karena dari dulu sejak usia 15 tahun sudah bertempur sama tentara melawan PKI,” ungkap Nurcahya yang akrab dipanggil Pak Nur oleh warga setempat, saat ditemui tengah menjaga kotak suara di Kantor Balai Desa setempat, Selasa, 16 April 2019.

Kepada wartawan kabar Cirebon Tati Purnawati, Nurcahya mengisahkan bahwa ia anak pertama dari 10 bersaudara anak pasangan Wahid dan Saiya ini asalnya dari Desa Pilangsari, tetangga desa tempat dia kini tinggal. Katanya sejak Tahun 1950 sudah menajdi OKD kemudian menjadi OPR yang dipimpinn Letnan Hasan asal Sumedang.

Kapungkur mah nyepeng senjata dan dipasihan jenis empil, teras geren gentos deui ku mucitum dugi ka dipasihan senjata otomatis, ngalawan PKI di Galumpit, di Sumber,” ungkap Nurcahya yang mengingat lebih dari 4 PKI yang dia bunuh.

Setelah selesai melawan PKI dia tetap berjuang menjaga keamanan di wilayahnya. Di usia 15 tahun Nurcahnya menikah dengan Kaspen yang kala itu berusia 12 tahun. Dari buah perkawinanya dikaruniai anak 2.

“Saya menikah 7 kali, pertama dengan tetangga namun dia meninggal, saya menikah lagi dengan tetangga desa, pernah juga dnegan warga Kerticala Indramayu namun hanya dua tahun, terakhir sekarang dengan Surni (65) di Panyingkiran,” kata Nurcahya yang mengaku tidak sekolah karena orang tuanya melarang.

Dari tujuh orang wanita yang dinikahinya memiliki anak 5, selama hidupnya diapun terus menjadi hansip, kalaupun pernah berhenti selama dua tahun saat menikah dengan warga Indramayu. Setelah pulang lahi ke Jatitujuh dia kembali jadi hansip. Diapun sampai ingat satu persatu kepala desa yang menjadi atasanya di tempat kerja.

Selama menjadi hansip dia tidak mendapatkan upah yang layak dari pekerjaanya. Upah yang diperolehnya hanya dari iuran gabah hasil panen para petani yang dihitung berdasarkan luas tanam 5 kg per 100 bata atau sekitar 4 kuintal per tahun. Karena total pendapatan gabah sebanyak 16 kuintal dibagi untuk 4 orang hansip. Itupun harus dipungut ke masing-masing pemilik sawah.

Saat ditanya soal menjaga kesehatan, dia mengaku tak pernah di obat. Resep sehatnya hanya minum air mentah setiap pagi sebanyak seperempat liter.

Caranya sore hari pukul 18.00 WIB dia mewadahi air sumur ke dalam botol air mineral, kalau jaman dulu katanya dimasukan ke dalam kendi, kemudian disimpan di bawah tenpat tidur  paginya saat bangun tidur langsung diminum. “Tidak ada resep sehat, hanya minum air mentah tiap pagi yang sudha disimpan di bawah tempat tidur,” kata Nurcahya.

Hal itu dibenarkan Kepala Desa Panyingkiran Cecep Kossasih dan sesama hansip Sarwita (72). Menurut Cece, di desanya ada 4 hansip, dua usia muda sekitar 35 tahun dan dua lagi Nurcahya serta Sarwita yang sama-sama sudah usia lanjut.

“Kemarin juga dia ikut apel kesiap siagaan untuk pengamanan pemiliu di Kantor Kecamatan sama hansip lain dan polisi. Dia paling tua,” kata Cecep.

Keempat hansip tersebut menjadi andalan menjaga keamanan lingkungan, terlebih Nurcahya yang punya pengalaman sejak usia muda dan bekerja sejak mertuanya menjadi kepala desa dua periode.

“Si Aki bekerja sejak dulu, saya tidak ingat kapan mulai bekerja, hanya kata mertua saya dia sudah bekerja jadi hansip selama puluhan tahun ketika mertua jadi kuwu dulu,” ungkap Cecep.

Desa tidak memberikan upah yang layak kepada para hansip selain upahnya memungut sendiri kepada para pemilik sawah yang hasilnya di bagi empat. Karena Desa tidak memiliki Pendapatan Asil Desa, yang harusnya upah hansip dibayar dari PAD.

"Kalau si Aki ini kadang membersihkan saluran air atau babad rumput bersama pengairan, dari sana dia punya upah atau dari orang yang menyelenggarakan hajatan dia diberi upah Rp 50.000 per hari. Sedangkan dua hansip lain yang masih usia muda ada kerja tambahan memungut sampah seminggu dua kali," kata Cecep***

Bagikan: