Pikiran Rakyat
USD Jual 14.150,00 Beli 13.850,00 | Umumnya berawan, 22.8 ° C

Bukan Tinta, Pemilih di Empat TPS di Cirebon Pakai Kunyit Usai Mencoblos

Ani Nunung Aryani
Pemilu 2019/ANTARA
Pemilu 2019/ANTARA

CIREBON, (PR).- Empat TPS (Tempat Pemungutan Suara) di Kampung Benda Kerep, RW 11, Kelurahan Argasunya, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon menggunakan cairan kunyit sebagai pengganti tinta penanda usai mencoblos saat pemungutan suara Pemilu 2019.

Penggunaan cairan kunyit yang berwarna kuning di kampung tersebut sudah menjadi tradisi sejak warga menggunakan hak pilihnya pada Pemilu 2009 lalu.

Sebelumnya, warga selalu menolak berpartisipasi dalam setiap penyelenggaraan pemilu. Penggunaan sari kunyit di empat TPS tersebut merupakan bagian dari kompromi agar warga di kampung tersebut bersedia berpartisipasi dalam pemungutan suara.

Komisi Pemilihan Umum Kota Cirebon menyiapkan cairan kunyit sebagai bagian dari logistik pemilu khusus di empat TPS tersebut.

ILUSTRASI pencoblosan tps pemilu KPU pileg.*/DOK.PIKIRAN RAKYAT

Menurut Ketua PPK Kecamatan Harjamukti, Naimen Adi Suryo, di RW 11 Kelurahan Argasunya, terdapat 4 TPS yaitu TPS 57, 58, 59, da 60. Keempat TPS tersebut termasuk unik karena menggunakan cairan kunyit sebagai penanda usai melakukan pencoblosan.

"Kalau tempat lain menggunakan tinta, di sini menggunakan kunyit," ujar Naimen seusai pemantauan kesiapan logistik Pemilu 2019 di Kampung Benda, Kelurahan Argasunya, Kota Cirebon bersama Forkopimda Selasa 16 April 2019.

Menurut dia, penggunaan cairan kunyit sesuai dengan permintaan sejumlah kiai di pesantren di kampung tersebut yang tidak ingin ibadah mereka terganggu usai pencoblosan akibat penggunaan tinta.

"Warga khawatir penggunaan tinta bisa menutupi pori-pori kulit yang menjadi penghalang sahnya wudu," katanya.

Menurut dia, penggunaan cairan kunyit sebagai penanda penggunaan hak pilih warga dirasa lebih cocok.

Jadwal terpisah

Selain menggunakan cairan kunyit, keunikan pelaksanaan pemungutan suara di kampung Benda Kerep. yakni pembedaan jadwal pencoblosan antara laki-laki dan perempuan.

“Pagi hari jadwal perempuan dulu yang mencoblos, sesetelah itu, siangnya, baru laki-laki,” katanya.

Menurut Naimen, KPU tidak mempermasalahkannya. “KPU bahkan mengakomodasi kearifan lokal tersebut dan turut menyiapkan tinta dari kunyit di 4 TPS yang ada di RW 11 tersebut,” katanya.

Ketua Panwaslu Kecamatan Harjamukti Taufik Hidayat menilai, penggunaan cairan kunyit sebagai pengganti tinta sah karena dilegalkan KPU dengan surat keputusan.

Menurut dia, KPU pusat maupun KPU Jabar sudah memahami tradisi unik di kampung tersebut. Sebagai pertanggungjawaban, KPU Kota Cirebon membuat berita acara soal penggunaan cairan kunyit.

"Peraturan KPU maupun Undang-Undang juga tidak mengharuskan tinta, hanya menyebutkan harus ada penandaan setelah mencoblos," ujarnya.

Menurut Taufik, di empat TPS di kampung tersebut tercatat ada 894 orang yang masuk daftar pemilih tetap.***

Bagikan: