Pikiran Rakyat
USD Jual 14.150,00 Beli 13.850,00 | Berawan, 21.6 ° C

Kerugian Akibat Banjir di Indramayu Tembus Rp 4 Miliar

Gelar Gandarasa
POLISI mengevakuasi anak korban banjir di Desa Plumbon, Indramayu, Selasa 9 April 2019 lalu.*/ GELAR GANDARASA/ PR
POLISI mengevakuasi anak korban banjir di Desa Plumbon, Indramayu, Selasa 9 April 2019 lalu.*/ GELAR GANDARASA/ PR

INDRAMAYU, (PR).- Banjir yang merendam Kabupaten Indramayu menyisakan dampak bagi masyarakat. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Indramayu mencatat kerugian mencapai Rp 4,135 miliar. Demi kemudahan penanganan, Pemkab Indramayu pun berharap penanganan wilayah sungai dialihkan dari BBWS ke pemerintah provinsi.

Kemungkinan nilai kerugian yang diderita Kabupaten Indramayu akibat banjir bisa saja bertambah. Bupati Indramayu Supendi mengatakan, hingga saat ini pemerintah daerah masih melakukan pendataan di lapangan. “Infrastruktur sedang didata mana saja yang rusak,” kata Supendi, Senin 15 April 2019. Menurutnya, pendataan sangat penting dilakukan. Sebab infrastruktur sangat berkaitan erat dengan roda perekonomian masyarakat.

Untuk itu, jika ada infrastruktur yang terdampak negatif oleh banjir, perlu diperbaiki segera. Pemerintah daerah akan mencari jalan pendanaan untuk perbaikan. “Memanfaatkan dana yang tersedia atau dari CSR. Yang terpenting infrastruktur rusak jangan mengganggu masyarakat,” ungkap dia.

Supendi menambahkan, langkah penanggulangan dan perbaikan sungai terus dilakukan. Namun pembongkaran jalan di Pagirikan Indramayu sebagai salah satu upayanya, belum bisa terlaksana. Dia mengatakan, diperlukan upaya normalisasi sungai terlebih dahulu supaya perbaikan berjalan lancar.

Semua langkah upaya itu perlu dibarengi kesadaran dari masyarakat. Salah satunya untuk tidak mendirikan bangunan liar di sempadan sungai. Bangunan itu sudah pasti mengganggu aliran sungai sehingga bisa mengakibatkan banjir. Pemerintah daerah meminta BBWS untuk menertibkan bangunan liar di sempadan sungai. “Karena itu kewenangan BBWS,” tutur dia.

Dia berharap, kewenangan pengelolaan sungai juga dimiliki oleh pemerintah provinsi. Dengan demikian, pemerintah daerah bisa mudah berkoordinasi dengan pemerintah provinsi untuk penanganan masalah sungai.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) kabupaten Indramayu Edi Kusdiana menyatakan, kondisi pasca banjir di Indramayu aman. Wilayah-wilayah terdampak banjir sudah mendapatkan penanganan dengan baik. Selain itu, rumah rusak sudah berangsur diperbaiki oleh warga. “Sekarang warga sudah beraktivitas normal kembali,” tuturnya.

Banjir yang melanda Indramayu meninggalkan dampak besar bagi masyarakat. Data dari BPBD Kabupaten Indramayu, total banjir telah merendam sebanyak 8.271 rumah warga. Jumlah masyarakat korban banjir mencapai 24.813 jiwa.

Banjir Indramayu disebabkan oleh tingginya gelontoran air dari Bendung Rentang Majalengka cukup tinggi. Air yang digelontorkan dari Rentang 1.000 meter kubik per detik sementara kapasitas Sungai Cimanuk 1.200 meter kubik. Tingginya debit air diperparah dengan hujan yang turun terus menerus di daerah hulu Cimanuk. Akibatnya ada tambahan gelontoran air 400 meter kubik ke Indramayu. Sungai Cimanuk pun tidak bisa menampung kiriman air dari hulu dan akhirnya meluap.

Belum lagi kondisi tanggul Cimanuk banyak yang kritis karena termakan usia. Air pun tak jarang merembes dari dalam tanggul sehingga menggenangi rumah warga. Bangunan liar di sempadan sungai juga turut menjadi penyebab banjir. Dikhawatirkan tanggul yang ada akan bocor karena tak kuat lagi menahan tingginya debet air.***

Bagikan: