Pikiran Rakyat
USD Jual 14.150,00 Beli 13.850,00 | Berawan, 21.6 ° C

Bubur Ayam dan Pertengkaran karena Copras Capres

Bambang Arifianto
PENYAIR Matdon menjadi pembicara dalam bedah buku kumpulan cerita pendeknya di Cafe & Kitchen Route 66 di Jalan Kyai Haji Zaenal Mustofa, Kota Tasikmalaya, Selasa, 26 Maret 2019. Buku tersebut berisi kumpulan Cerpen Matdon terkait pertengkaran karena persoalan kecil, perbedaan pilihan politik dan kisah lainnya.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR
PENYAIR Matdon menjadi pembicara dalam bedah buku kumpulan cerita pendeknya di Cafe & Kitchen Route 66 di Jalan Kyai Haji Zaenal Mustofa, Kota Tasikmalaya, Selasa, 26 Maret 2019. Buku tersebut berisi kumpulan Cerpen Matdon terkait pertengkaran karena persoalan kecil, perbedaan pilihan politik dan kisah lainnya.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR

HILANGNYA korek api karena terbawa teman ternyata bukan hal sepele. Pertengkaran karena persoalan tersebut bisa berujung teman dibui dan persahabatan bertahun-tahun lamanya hancur seketika.

Persoalan remeh temeh macam begini, rupanya kerap luput dan tak pernah terpikirkan bakal terjadi. Namun di tengah konstelasi pemilu, copras capres, kemarahan gampang tersulut hanya karena perbedaan pilihan menggerus persaudaraan dan pertemanan.

Hidup dengan rileks dan saling menghargai perbedaan jadi kunci persaudaraan dan pertemanan tetap langgeng di tengah situasi Pemilu. Barangkali itu pesan Matdon, penyair sekaligus Rois'Am Majelis Sastra Bandung saat menjadi pembicara dalam bedah buku kumpulan cerita pendek karyanya berjudul Bubur Ayam di Caffe & Kitchen Route 66 di Jalan Kyai Haji Zaenal Mustofa, Kota Tasikmalaya.

Dalam karyanya, Matdon menyuguhkan 11 Cerpen yang banyak bercerita tentang pertengkaran-pertengkaran remeh yang meletus lantaran perbedaan selera, pilihan politik hingga pertemanan yang terkoyak. Cerpen Matdon seperti menjadi refleksi masyarakat yang tak ragu mengumbar kebencian dan permusuhan menjelang Pemilu 2019.

Lihat saja Cerpen berjudul Pencurian Korek Api yang mengawali tulisan ini. Kisah unik itu dimulai saat Malik divonis satu tahun penjara dan denda Rp 47 ribu karena dianggap terbukti nyolong korek api milik Timbul.

Kejadian tersebut berlangsung saat Malik, Timbul dan beberapa temannya bermain kartu remi di sebuah rumah singgah. Timbul tak terima korek apinya pindah di saku celana Malik dan menudingnya mencuri. Tudingan pun berbuah laporan ke kepolisian dengan sangkaan pasal 362 dan 363 KUHP. 

Demikian pula kasus perbedaan selera dalam cerpen Bubur Ayam. Kakak adik, Ohit dan Opit baku hantam hingga masuk rumah sakit karena perbedaan itu. Ohit kekeuh bubur ayam paling enak ada di Pasar Ciroyong dan Opit sebaliknya, Pasar Andir.

Kasus-kasus absurd lain terjadi dalam cerpen Pil Pahit, serta Prabowo dan Jokowi. Tiga sekawan yang sama-sama  mencalonkan diri sebagai kepala desa tewas dibunuh pengusaha sablon karena enggan membayar hutang kaos dan spanduk kampanye.

Motif si pembunuh pun terasa muskil dengan menuduh tiga sekawan tersebut pembohong karena janji membayar hutang tak ditepati. "Bagaimana mungkin mereka bisa memimpin desa kalau mereka pembohong," ucap Mang Aher, pengusaha sablon itu dalam Cerpen Pil Pahit. 

Sedangkan pada Prabowo dan Jokowi, Matdon menampilkan cerita histeria pendukung kedua Capres yang disebutnya saling bertatap curiga. Matdon membuat tamsil wajah-wajah masyarakat yang berubah menjadi muka Prabowo dan Joko Widodo bertebaran di mana-mana. Bahkan wajah Matdon ikut berubah separuh mirip Prabowo dan Jokowi. Wajahnya kembali normal setelah ia berwudhu tepat ketika adzan Magrib berkumandang.

Matdon mengakui cerpen-cerpennya terinspirasi dari pertengkaran-pertengkaran akibat masalah remeh di masyarakat. Ia sempat menjadi saksi perceraian suami isteri yang bertengkar karena perbedaan pilihan capres dalam Pemilu di Cijerah. "Saya mencoba mengungkapkan persoalan yang ada dengan sederhana," ujarnya.

Pertengkaran dengan latar belakang situasi Pilpres, Pilkades hingga selera makanan berpotensi menggoyah keguyuban masyarakat. "Ini persoalan biasa tetapi pasea (bertengkar) karena hal-hal kecil," ujarnya. 

Kesederhanaan persoalan itu ternyata butuh kepekaan tersendiri guna menangkapnya dari realitas keseharian. Persoalan elite bisa berbeda saat merembes ke tataran masyarakat kecil. Gesekan lebih keras lebih dirasakan masyarakat bawah hanya karena elit yang berseteru dengan pemicu berupa permasalahan sederhana.

"Dan saya sulit menangkap kesederhanaan-kesederhanaan itu," kata Mufidz At-Thoriq, pegiat literasi Kota Tasikmalaya yang menjadi pemantik diskusi. Kisah-kisah satir Matdon mesti menjadi ruang refleksi dan jeda agar selepas Pemilu kita tetap masih bersaudara.***

Bagikan: