Pikiran Rakyat
USD Jual 14.150,00 Beli 13.850,00 | Umumnya cerah, 18.4 ° C

Praktik Penangkapan Baby Lobster Mulai Marak di Pesisir Selatan Tasikmalaya

Bambang Arifianto
NELAYAN bersiap mencari lobster saat laut surut di Pantai Sindangkerta, Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya, Sabtu, 27 Oktober 2018 lalu. Praktik penangkapan baby lobster mulai marak di pesisir selatan Kabupaten Tasikmalaya.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR
NELAYAN bersiap mencari lobster saat laut surut di Pantai Sindangkerta, Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya, Sabtu, 27 Oktober 2018 lalu. Praktik penangkapan baby lobster mulai marak di pesisir selatan Kabupaten Tasikmalaya.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR

SINGAPARNA, (PR).- Praktik penangkapan benih atau baby lobster mulai marak di pesisir pantai selatan Kabupaten Tasikmalaya kendati melanggar aturan. Nelayan tergiur menangkap baby lobster lantaran harga jualnya yang tinggi.

Maraknya aktivitas pengambilan bibit udang tersebut tercium petugas gabungan dari kepolisian air dan udara (Polairud), TNI Angkatan Laut dan Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Kabupaten Tasikmalaya pekan lalu. Pada Kamis, 4 April 2019 malam, petugas telah memperoleh informasi masyarakat adanya kegiatan penangkapan baby lobster di kawasan perairan Blok Batu Kakapa, Desa Ciheras, Kecamatan Cipatujah.

Praktik tersebut jelas melanggar Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No 56/2016. "Ada17 nelayan yang mengambil baby lobster," kata Kepala Unit Pelaksana Teknis Pangkalan Pendaratan Ikan DKPP Kabupaten Tasikmalaya Tata Rusmana saat dihubungi, Rabu, 10 April 2019.

Jumlah tersebut bisa diketahui lantaran para penangkap benih lobster  beroperasi pada malam hari menggunakan perahu dan lampu penerangan. Dengan lampu yang bersumber dari listrik tenaga genset, mereka menjaring tangkapannya yang berkumpul mendekati sumber cahaya lampu.

Mereka juga biasa beroperasi dengan jarak sekitar 100-200 meter dari tepi pantai. Area penangkapan benih udang tersebut merupakan kawasan terumbu karang.

"Sama Polairud dikasih peringatan tembakan (ke udara), mereka mematikan lampu dan kabur," ucap Tata. Para nelayan tersebut diperkirakan berasal dari wilayah Garut.

Rupanya aksi  penangkapan baby lobster juga terus berlanjut dan ditiru sejumlah nelayan asal Kabupaten Tasikmalaya pada Selasa, 9 April 2019 malam. Petugas mendapati aktivitas 22 nelayan yang diduga berasal dari Tasikmalaya saat menangkap benih lobster di sepanjang Ciheras hingga Pantai Sindangkerta, Cipatujah.

Lagi, mereka mendapat tembakan peringatan dan segera bergegas pergi ketika kepergok petugas yang melakukan patroli di darat. Aksi pengambilan bibit lobster terbilang baru pertama di wilayah Kabupaten Tasikmalaya. Sebelumnya, nelayan-nelayan di selatan Tasikmalaya tidak menangkap baby lobster yang memang dilarang dalam aturan. "Baru kemarin (menjalar) ke Tasik," ucapnya. 
Kegiatan ilegal itu justru dilakukan di wilayah pantai selatan Sukabumi dan Garut. Tata menaksir dengan jumlah 17 hingga 22 nelayan, mereka bisa mengambil 1500 ekor baby lobster dalam semalam.

Kini, patroli terus dilakukan petugas karena semakin maraknya aksi penangkapan baby lobster di pesisir selatan Tasikmalaya.

Harga penjualan tinggi

Nelayan asal Tasikmalaya mulai tergiur menangkap benih udah itu karena harga penjualannya yang tinggi. Namun, praktik tersebut dilarang karena memotong siklus hidup lobster.

‎"Dampaknya putusnya siklus kehidupan lobsternya sendiri (karena) benihnya diambil," ucapnya. Pelarangan penjualannya pun berlaku di tempat pelelangan ikan (TPI). DKPP memasang spanduk Pelarangan itu di TPI-TPI yang ada di wilayahnya.

"Makanya baby lobster tak dijual di pelelangan," kata Tata.

Penjualan dilakukan di luar pelelangan secara tersembunyi. Ia berharap, para nelayan mau mematuhi aturan larangan menangkap benih lobster demi kelestariannya. 

Hal senada dilontarkan Kepala Seksi Pemberdayaan Nelayan BidangTangkap DKPP Kabupaten Tasikmalaya‎ Roestyawan Effendy. "Kami sudah memasang spanduk tentang Permen (peraturan menteri) No 56/2016," kata Roestyawan.

Ia mengakui mulai maraknya penangkapan benih lobster di kawasan pesisir Tasikmalaya selatan. "PR" juga mencoba meminta tanggapan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti saat berkunjung ke Pondok Pesantren Suryalaya, Rabu, 10 April 2019 siang.

Susi yang penuh semangat bicara tentang apresiasinya atas kunjungan ke pesantren tersebut mendadak bungkam saat ditanya mengenai mulai maraknya penangkapan baby lobster di Kabupaten Tasikmalaya. Ia memilih diam saat disodori pertanyaan tersebut selepas duduk di dalam mobil yang membawa keluar dari area pesantren. 

Seperti diberitakan, Susi dan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Pandjaitan berselisih pendapat tentang penjualan bibit lobster. Kedua menteri Pemerintahan Joko Widodo tersebut juga pernah berbeda pendapat tentang penenggalaman kapal pencuri ikan yang ditangkap petugas.

"PR" sempat memantau aktivitas penangkapan ‎udang atau lobster di Pantai Sindangkerta beberapa waktu lalu saat siang hari. Penangkapan dilakukan menggunakan peralatan tradisional dengan memasang jaring pada ceruk atau alur karang yang timbul ketika permukaan laut menyusut.***

Bagikan: