Pikiran Rakyat
USD Jual 14.628,00 Beli 14.328,00 | Sedikit awan, 25.8 ° C

Aliran Air yang Liar Sebabkan Pergerakan Tanah di Mekarmulya Majalengka

Tim Pikiran Rakyat

PETUGAS BPBD Majalengka memperhatikan kondisi tanah yang anjlok akibat pergerakan tanah di Blok Lamelaut, Desa Mekarmulya, Kecamatan Lemahsugih, kabupaten Majalengka.*/TATI PURNAWATI/KABAR CIREBON
PETUGAS BPBD Majalengka memperhatikan kondisi tanah yang anjlok akibat pergerakan tanah di Blok Lamelaut, Desa Mekarmulya, Kecamatan Lemahsugih, kabupaten Majalengka.*/TATI PURNAWATI/KABAR CIREBON

MAJALENGKA,(PR).- BPBD Kabupaten Majalengka masih mensiagakan sejumlah petugasnya di lokasi bencana alam pergerakan tanah di Desa Nekarmulya, Kecamatan Lemahsugih. Sementara itu, Badan Geologi Bandung telah melakukan penelitian pergerakan tanah  di tiga lokasi di Majalengka dan membawa sampel tanah untuk diteliti dan hasilnya diharapkan sudah bisa diperoleh pekan depan.

Menurut keterangan Kepala BPBD Kabupaten Majalengka Agus Permana,  Badan Geologi Bandung melakukan penelitian pergerakan tanah di Blok Lamelaur, Desa Mekarmulya, Kecamatan Lemahsugih, yang penghuninya kini telah mengungsi semua.

Peneliian, menurut Agus, untuk diperoleh kepastian kondisi tanah dan langkah Pemerintah Kabupaten Majalengka untuk melakukan penanganan lebih lanjut.

“Langkah pertama penanganan bencana telah dilakukan yaitu penyelamatan jiwa bagi warga terdampak serta penyelamatan harta benda, membangun posko darurat sambil mengadvokasi warga untuk tidak berada di lokasi bencana, serta berkoordinasi dengan Badan Geologi untuk dilakukan penelitian. Penelitian telah dilakukan tinggal menunggu hasil,” ungkap Agus Permana.

Disampaikan Agus, saran sementara dari pihak Geologi di wilayah bencana adalah harus membuat drainase agar air terkumpul dalam satu titik kemudian air dialirkan ke bagian bawah hingga ke aliran sungai. Selama ini aliran air yang berasal dari air hujan atau mata air  tidak jelas kemana arahnya dan cenderung liar, hal itu pula yang diduga menjadi penyebab pergerakan tanah.

Pihak Geologi juga menerangkan tanah di wilayah tersebut adalah tanah lapukan gunung purba sehingga tanah mudah berpori dan terbawa oleh air apalagi bentuk tanahnya curam sehingga gaya tarik gravitasi memudahkan air mendorong tanah kebawah.

Lahan seperti ini tidak diperbolehkan untuk membangun kolam ikan atau areal pesawahan, namun sebaliknya harus  ditanami pohon keras yang lebih kuat yang bisa menyerap air. Serta tidak boleh ditanami pohon bambu karena pohon bambu justru menambah beban dan akhirnya mudah terbawa longsor.

“Upaya jangka pendek yang dilakukan setelah melakukan penyelamatan jiwa dan benda, sesuai saran dari Badan Geologi adalah menutup lubang yang terbuka akibat pergerakan tanah,  agar air dari permukaan tanah tidak menyerap ke bawah dan membuat pergerakan tanah semakin besar dan meluas. Setelah itu mengalirkan air ke bawah hingga ke alur sungai agar air bisa lebih terkendali mengurangi terjadinya pergerakan tanah,” ungkap Agus Permana kepada wartawan Kabar Cirebon, Tati Purnawati.

Upaya beikutnya adalah menanami kawasan tersebut dengan pohon keras serta tidak boleh ada kolam atau yang sifatnya menampung air langsung ke tanah agar tanah bisa ada pengikat.

“Kami sudah menyampaikan persoalan tersebut kepada waga agar mereka bergotong-royong menutup lubang-lubang tanah yang diakibatkan oleh pergerakan tanah agar air tidak langsung masuk ke lubang yang akan semakin memperparah pergerakan tanah atau bencana,” tutur Agus.

Sementara itu Kepala Desa Mekarmulya Iyet Sumiati menyebutkan, jika masyarakat harus direlokasi di wilayahnya tidak tersedia lahan datar yang cukup luas, semua bertebing-tebing. Kalaupun ada lahan yang datar paling luas hanya sekitar 1.500 hingga 2.000 m2 yang tidak memungkinkan bisa menampung seluruh pengungsi. Di samping itu lahannya milik perorangan.***

Bagikan: