Pikiran Rakyat
USD Jual 14.280,00 Beli 14.182,00 | Umumnya cerah, 25.2 ° C

Pergerakan Tanah di Majalengka Terus Terjadi, 14 Rumah Ambruk dan Banyak yang Rusak Ringan

Tim Pikiran Rakyat
RUMAH milik Ahri di Blok Lamelaut Wetan, Desa Hekarmulya, Kecamatan Lemahsugih, kabupaten Majalengka, tiga hari lalu baru anjok bagian depan dan kini nyaris benar-benar ambruk akibat pergerakan tanah tersus terjadi di wilayah tersebut.*/TATI PURNAWATI/KC
RUMAH milik Ahri di Blok Lamelaut Wetan, Desa Hekarmulya, Kecamatan Lemahsugih, kabupaten Majalengka, tiga hari lalu baru anjok bagian depan dan kini nyaris benar-benar ambruk akibat pergerakan tanah tersus terjadi di wilayah tersebut.*/TATI PURNAWATI/KC

MAJALENGKA, (PR).- Pergerakan tanah di Blok Lamelaut, Desa Mekarmulya, Kecamatan Lemahsugih, Kabupaten Majalengka masih terus terjadi. Rumah yang semula hanya miring atau anjlok, kini ambruk. Saat ini, sudah ada 14 rumah yang benar-benar ambruk.

Selain itu, dari pantauan di lokasi, Rabu, 10 April 2019, retakan tanah atau gelombang tanah yang semula hanya selebar satu jengkal sudah mencapai selebar 50-70 cm. Kedalaman lubangnya pun  telah melebihi 1 meter.

Wilayah terdampak gerakan tanah juga semakin meluas, tak hanya menimpa pemukiman penduduk namun hingga ke perkebunan lahan kosong. Bahkan, kolam-kolam ikan milik warga kini airnya banyak yang surut karena pergerakan tanah tersebut.

Menurut Kepala Desa Mekarmulya, Iyet Sumiati, pergerakan tanah di wilayahnya tidak hanya terjadi di saat hujan turun, namun saat siang hari dan cuaca panas sekalipun pergerakan selalu terjadi. Akibatnya kini banyak rumah yang semula rusak ringan menjadi rusak berat, dan yang semula rusak berat menjadi ambruk.

“Sudah ada 14 rumah yang ambruk. Di Blok lamelaut Kulon ada tujuh rumah, Lamelaut Wetan empat rumah dan Cikuluwut ada tiga rumah. Pergerakannya terus terjadi dan semakin parah. Lebar retakan yang semula hanya satu jengkal kini sudah melebar lebih dari 60 cm, yang anjlok semula hanya selurut kini ada yang mencapai satu meteran. Lubang juga kalau diukur pake bambu ke bawah ada yang lebih dari satu meteran,“ ungkapnya.

Warga yang rumahnya belum terdampak rusak berat berencana menyelamatkan materialnya, seperti genting, kusen, dan lainnya. Namun, menurut Iyet, di wilayahnya sangat jarang kaum lelaki dewasa. Para suami hampir seluruhnya  merantau ke luar kota, bahkan ke luar Pulau Jawa untuk berdagang. Desanya lebih banyak perempuan serta laki-laki yang sudah lanjut usia atau anak-anak.

“Butuh bantuan untuk menurunkan genting dan melucuti daun jendela serta kayu-kayu untuk rumah panggung. Kami rencananya memohon BPBD untuk membantunya, karena sulit lelaki yang bisa membantu pengerjaannya,” kata dia, seperti dilaporkan Tati Purnawati untuk Kabar Cirebon.

Dua warga Anita dan Mumun yang terdampak mengatakan, mereka saat ini mengungsi ke rumah sanak saudaranya karena rumahnya rusak. “Dulu pergerakan tanah seperti ini juga pernah terjadi hanya tidak separah sekarang. Mugah-mudahan kali ini pun tidak semakin parah dan kembali lahan ini bisa tertutup  dan bisa ditempati kembali,” kata Anita.

Tidak ada lahan relokasi

Iyet mengungkapkan, pada tahun 2014 ada penelitian geologi di desanya saat terjadi pergerakan tanah yang sama. Hasilnya, lahan yang kini dihuni oleh warga cukup aman, namun disarankan agar warga tidak membuat kolam ikan dan berupaya mengalirkan air langsung ke sungai atau selokan.

Sayangnya, warga tidak menghiraukan himbauan tersebut dan malah semakin banyak warga yang membuat kolam. Kolam ikan bahkan menjadi salah satu usaha serta kebanggaan bagi penduduk di Lamelaut.

Saat ini, ia menambahkan, warga membutuhkan lahan datar untuk membangun rumah yang lebih aman. Namun, di Lamelaut atau Cikuluwut, mereka sulit mendapatkan lahan yang datar dan luas. Terdapat lahan yang luas sekitar 2.000 m2 tapi milik perorangan.***

Bagikan: