Pikiran Rakyat
USD Jual 14.540,00 Beli 14.240,00 | Sedikit awan, 22.2 ° C

Dalam Sehari, Ditemukan Dua Bayi di Kardus

Hilmi Abdul Halim
ILUSTRASI penemuan bayi.*/DOK. KABAR BANTEN
ILUSTRASI penemuan bayi.*/DOK. KABAR BANTEN

PURWAKARTA, (PR).- Sedikitnya terjadi tiga kali peristiwa penemuan bayi di Kabupaten Purwakarta dalam dua pekan terakhir. Dua bayi di antaranya ditemukan sekaligus dalam satu hari di Kecamatan Plered dan Babakancikao, Senin 8 April 2019.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polisi Resor Purwakarta Ajun Komisaris Handreas Adrian mengatakan, bayi yang ditemukan di Kecamatan Babakancikao diperkirakan masih hidup. "Namun saat diperiksa dokter di rumah sakit sudah meninggal dunia," katanya.

Bayi laki-laki itu ditemukan warga dalam kardus di bawah pohon nangka Desa Mulyamekar sekitar pukul 9.00. Sejumlah saksi memperkirakan bayi tersebut baru lahir beberapa saat sebelum ditemukan dengan usia kandungan 5-6 bulan.

Meski kondisi badannya kebiru-biruan dengan tali ari-ari masih menempel di perutnya, warga meyakini bayi tersebut masih hidup. Mereka pun membawa bayi tersebut ke Rumah Sakit Asri sebelum akhirnya dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah Bayu Asih Purwakarta.

Penemuan bayi juga dilaporkan oleh warga di sekitar kawasan Pasar Citeko Kecamatan Plered sekitar pukul 10.00, dalam keadaan masih hidup. Bayi berjenis kelamin laki-laki itu diperkirakan berusia tujuh bulan.

Kepala Polisi Sektor Plered Komisaris Slamet Harijanto menceritakan kronologi penemuan bayi tersebut. "Pertama kali ditemukan oleh penjaga mesjid yang curiga dengan suara tangisan bayi. Setelah dicek ternyata memang ada," katanya.

Penemuan itu menggemparkan para warga karena bayi sempat diamankan di kantor Unit Pelaksana Teknis Pasar Citeko sebelum di bawa ke Kantor Polsek setempat. Warga menduga bayi itu sengaja dibuang karena orang tuanya mengalami depresi.

"Orang tua dan kakek bayi itu berhasil ditemukan. Saat ini sudah berada di kantor Polsek Plered," ujar Slamet. Kasus kali ini hampir sama seperti kasus penguburan bayi di Kecamatan Kiarapedes yang terjadi dua pekan sebelumnya.

Sementara itu, Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia Kabupaten Purwakarta, Nur Aisah Jamil mengaku prihatin dengan peristiwa tersebut. Menurutnya, kondisi kejiwaan yang tidak stabil diakui menjadi salah satu penyebab orang tua menelantarkan bayi kandungnya.

Aisah mengatakan peristiwa itu bisa dicegah dengan bantuan orang-orang di sekitar sang ibu. "Di antaranya memberikan pemahaman kepada ibu pranikah atau pasutri, penguatan mental dari para pemuka agama, dukungan dari keluarga dekat dan hubungan sosial harus ditingkatkan," tuturnya.***
 

Bagikan: