Pikiran Rakyat
USD Jual 14.280,00 Beli 14.182,00 | Sebagian cerah, 27.2 ° C

Berbahaya Layaknya Rokok Konvensional, Penjualan Rokok Elektrik di Kota Bogor Dibatasi

Windiyati Retno Sumardiyani
PARA pengusaha rokok elektrik mengikuti sosialisasi penegakan perda kawasan tanpa rokok di Aula Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bogor, Selasa, 9 April 2019. Mulai April 2019, Pemerintah Kota Bogor membatasi penjualan rokok elektrik.*/WINDIYATI RETNO SUMARDIYANI/PR
PARA pengusaha rokok elektrik mengikuti sosialisasi penegakan perda kawasan tanpa rokok di Aula Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bogor, Selasa, 9 April 2019. Mulai April 2019, Pemerintah Kota Bogor membatasi penjualan rokok elektrik.*/WINDIYATI RETNO SUMARDIYANI/PR

BOGOR,(PR).- Penjualan rokok elektrik  mulai dibatasi di Kota Bogor.  Berdasarkan Peraturan Daerah Kota Bogor Nomor 10 tahun 2018 pada pasal 1,  rokok elektrik dan shisha masuk dalam kategori rokok sehingga tidak bisa dijual sembarangan.

Dalam surat edaran yang diterima  pengusaha rokok elektrik, para penjual rokok elektrik diminta untuk mematuhi tiga aturan yang tertera dalam Perda nomor 10/2018 tentang Kawasan Tanpa R. Pertama, pedagang dilarang menjual rokok kepada anak di bawah usia 18 tahun dengan menunjukkan bukti identitas diri. 

Kedua, masyarakat dilarang menerima sponsorship dalam kegiatan apapun dari perusahaan rokok. Terakhir, pedagang dilaramg memperlihatkan secara jelas jenis dan produk rokok, tetapi dapat ditunjukkan dengan tanda tulisan “di sini tersedia rokok”.

Kepala Bidang Pemberdayaan Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kota Bogor, Erna Nuraena, menuturkan, pembatasan penjualan rokok elektrik saat ini disamakan dengan rokok.  Hal tersebut dilakukan karena rokok elektrik memiliki kandungan yang sama dengan rokok seperti nikotin.

ROKOK elektrik.*/ DOK. PIKIRAN RAKYAT

“Kami perlu mengatur penjualan rokok elektrik karena rokok  elektrik efeknya lebih berbahaya.  Masyarakat merasa aman karena  baunya yang nyaman, padahal dampak kesehatannya tidak bisa kontrol,” ujar  Erna di sela sosialisasi Perda KTR kepada pelaku dan pengusaha vape dan shisa di Aula Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bogor, Selasa, 9 April 2019.

Erna menyatakan contoh dari agen antitembakau Prancis. Dikatakannya, satu hisap shisha setara dengan 70 hisapan rokok biasa. Sementara, kandungan tar dari asap satu shisha sama dengan 27 hingga 102 batang rokok.

Kawasan tanpa rokok yang ditetapkan perda juga menjadi kawasan tanpa vape

Pembatasan rokok elektrik perlu dilakukan lantaran pengguna rokok elektrik yang usia remaja di Kota Bogor cenderung meningkat.  Selain itu, kasus penyalahgunaan dengan memasukkan obat ilegal dan narkotika semakin marak dan sulit dikendalikan.

“Kami bukan melarang, tetapi membatasi agar perokok pemula tidak bertambah.  Setelah 10 tahun keberadaan perda,  tingkat kepatuhan perda KTR sudah meningkat, tetapi rendah untuk perokok elektrik,” ucap Erna.

Tak hanya membatasi penjualan rokok elektrik, warga Kota Bogor kini juga tidak boleh sembarangan menghisap rokok elektrik. Sesuai perda tersebut, Kota Bogor melarang penggunaan rokok elektrik dan vape di delapan kawasan yang diatur dalam perda.

ILUSTRASI Kawasan Tanpa Rokok.*/DOK PR

Kepala Bagian Hukum Kota Bogor, Novy Hasby Munawar, mengatakan, sesuai pasal 7 Perda 10/2018,  kawasan tanpa rokok tersebut meliputi tempat umum, tempat kerja, tempat ibadah, tempat bermain atau berkumpulnya anak-anak, dan kendaraan angkutan umum. Selain itu, lingkungan tempat proses belajar mengajar, sarana kesehatan, sarana olahraga, dan tempat lainnya yang ditetapkan salah satunya taman kota.

“Nanti akan ada penegak perda KTR, jika ketahuan melanggar tahapannya pertama bisa teguran lisan, teguran tertulis, penghentian kegiatan sementara, penghentian kegiatan tetap, penyitaan, hingga denda administratif paling sedikit Rp1 juta ,” ucap Hasby.

Penjual keberatan dengan aturan display

Sementara itu, perwakilan penjual vape Kota Bogor, Ramli, mengatakan, sejauh ini pengusaha vape sudah menetapkan aturan terkait pembelian rokok elektrik. Salah satunya tidak menerima pembeli di bawah 18 tahun.

Terkait aturan Perda KTR dan pembatasan penjualan rokok elektrik, Ramli dan pengusaha vape Kota Bogor keberatan jika tidak boleh memperlihatkan secara jelas jenis rokok elektrik di toko mereka. Oleh karena itu, para pengusaha rokok elektrik meminta agar kebijakan pelarangan pemajangan rokok elektrik dikaji ulang.

“Kalau masalah display menurut kami kurang tepat.Kalau vape kan berbeda dengan rokok yang dijual bebas di warung-warung dan toko, sementara vape lebih eklusif dijual di toko. Jarang orang umum atau anak kecil yang masuk ke toko untuk coba-coba karena melihat display vape,” katanya.***

Bagikan: