Pikiran Rakyat
USD Jual 14.280,00 Beli 14.182,00 | Sebagian cerah, 32.4 ° C

Sambil Jalan Santai, Menaker Kampanyekan Pentingnya Pendidikan Vokasi

Riesty Yusnilaningsih
MENTERI Ketenagakerjaan RI Hanif Dhakiri bersama 2.000 peserta "Fun Walk Skills For the Future" di area Car Free Day Jalan Ahmad Yani hingga 'finish' di Balai Besar Pengembangan Latihan Kerja (CEVEST) Bekasi, Minggu, 7 April 2019.*/RIESTY YUSNILANINGSIH/PR
MENTERI Ketenagakerjaan RI Hanif Dhakiri bersama 2.000 peserta "Fun Walk Skills For the Future" di area Car Free Day Jalan Ahmad Yani hingga 'finish' di Balai Besar Pengembangan Latihan Kerja (CEVEST) Bekasi, Minggu, 7 April 2019.*/RIESTY YUSNILANINGSIH/PR

BEKASI, (PR).- Kementerian Tenaga Kerja terus menggenjot pelatihan vokasi bagi angkatan kerja. Hasil dari pelatihan vokasi ini, diyakini sebagai modal berharga angkatan kerja dalam memenangi persaingan di era revolusi industri 4.0

Demikian disampaikan Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri di hadapan sekitar 2.000 peserta "Fun Walk Skills For the Future" di area Car Free Day Jalan Ahmad Yani hingga 'finish' di Balai Besar Pengembangan Latihan Kerja (CEVEST) Bekasi, Minggu, 7 April 2019. Kegiatan tersebut, merupakan bentuk kampanye kepada angkatan kerja Indonesia tentang pentingnya pelatihan 'skill' dimasa depan.

Menurut Hanif, persaingan bisnis dan pembangunan dewasa ini tidak lagi bertumpu pada pemanfaatan sumber daya alam, tapi telah bergeser pada penguasaan teknologi informasi dan keterampilan angkatan kerja yang membutuhkan SDM berkualitas.

"Harus ada intervensi dalam pembangunan SDM, agar 'skill' dan kompetensi angkatan kerja Indonesia mampu bersaing. Salah satu cara cepat untuk meningkatkan kompetensi angkatan kerja adalah dengan pelatihan vokasi,” kata Hanif.

Terkait dengan pelatihan vokasi, Kemnaker telah melakukan beberapa terobosan, yakni masifikasi pelatihan di Balai Latihan Kerja, pemagangan terstruktur, serta sertifikasi uji kompetensi. Masifikasi pelatihan di BLK dengan memberikan 'triple skilling' yakni 'skilling', 'up-skilling', dan 're-skilling'. 'Skilling' untuk angkatan kerja yang ingin mendapatkan 'skill'. 'Up-skilling' untuk pekerja yang ingin meningkatkan 'skill', dan 're-skilling' untuk pekerja yang ingin mendapatkan keterampilan baru.

Prioritas pembangunan SDM juga dalam rangka menyelamatkan bonus demografi yang akan dialami Indonesia. Di mana puncaknya terjadi pada era 2025-2030. Kala itu, 70 persen penduduk Indonesia adalah usia produktif. 

Hanif mengutip hasil riset McKinsey Global Institute yang menyebutkan, Indonesia akan menjadi negara dengan ekonomi terbesar ke-7 di dunia. Namun capaian itu mensyaratkan penduduk usia produktif memiliki 'skill' dan kompetensi.

"Masifikasi pelatihan vokasi kita lakukan untuk pekerja saat ini, serta anak-anak pekerja yang kelak menjadi angkatan kerja saat puncak bonus demografi terjadi,” katanya.

Pendidikan vokasi ini bisa diakses masyarakat secara cuma-cuma di 19 BLK milik pemerintah yang tersebar di seluruh Indonesia. Demi menyiapkan angkatan kerja yang tangguh di era revolusi industri 4.0, Hanif memastikan BLK yang ada tersebut selalu diupayakan agar selalu relevan dengan perkembangan zaman.

"Kami responsif terhadap perubahan zaman yang masif ini dengan melakukan tindakan inovatif, terlihat dari penyesuaian program-program pelatihan yang dapat diakses di BLK. Seperti di Kota Bekasi ini, sudah hadir program pelatihan animasi yang merupakan jawaban atas tingginya minat dan permintaan akan keahlian di bidang ini," katanya.***

Bagikan: