Pikiran Rakyat
USD Jual 14.280,00 Beli 14.182,00 | Sebagian berawan, 20.9 ° C

Koperasi Eks Narapidana Terorisme, dari Jalan Pedang Menjadi Pemberdayaan Ekonomi

Bambang Arifianto
SEJUMLAH pengurus Koperasi Kontantragis memperlihatkan produk-produk koperasinya di Gedung Pendopo Kabupaten Tasikmalaya, Tawang, Kota Tasikmalaya 5 April 2019. Kontantragis merupakan koperasi yang menampung dan melakukan pemberdayaan ekonomi eks narapidana terorisme, keluarga, dan kalangan pesantren.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR
SEJUMLAH pengurus Koperasi Kontantragis memperlihatkan produk-produk koperasinya di Gedung Pendopo Kabupaten Tasikmalaya, Tawang, Kota Tasikmalaya 5 April 2019. Kontantragis merupakan koperasi yang menampung dan melakukan pemberdayaan ekonomi eks narapidana terorisme, keluarga, dan kalangan pesantren.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR

TIGA kali berurusan dengan hukum lantaran aksi kekerasan dan terorisme, Asep H Arsyad Alsadaad (53) mulai berhenti dari jalan pedang yang sempat dipilihnya.

Pria asal Garut itu tergugah saat bertemu dengan Budi, korban pemboman Hotel JW Marriot, Jakarta beberapa waktu lalu.

Budi yang mengalami luka bakar di badannya membuat Asep terharu. "Saya mulai berpikir menegakkan (syariat Islam) tidak dengan kekerasan lagi," ujar Asep saat ditemui dalam kegiatan Sinergi Kementerian Koperasi dan UKM Dengan Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya Dalam Rangka Pemberdayaan KUKM ‎ di Gedung Pendopo Kabupaten Tasikmalaya, Tawang, Kota Tasikmalaya, Jumat 5 April 2019.

Asep berkenan datang dalam acara seminar yang mempertemukan napiter atau narapidana kasus terorisme dengan korban setelah dibujuk Abu Luqman, mantan kombatan Afganistan asal Indonesia. 

Peristiwa itu membuka mata Asep yang juga sempat terjun langsung dalam konflik di Maluku dan Poso. Ia lantas berkoordinasi dengan sejumlah rekannya dari berbagai faksi atau kabilah Negara Islam Indonesia (NII).

Asep memang sempat menjadi bagian atau anggota NII. Hasilnya, mereka sepakat mendirikan Komunitas Mantan Narapidana teroris dan Gerakan Aktivis Radikal (Kontantragis) di Bandung pada 20 Oktober 2017.

"Karena saya inisiator, saya diangkat menjadi ketua umum," ucap Asep.

Saat itu terkumpul sekira 47 orang yang merupakan mantan kombatan Afganistan, Moro (Filipina), dan Maluku.

PRODUK koperasi narapidana kasus terorisme dipamerkan di Gedung Pendopo Kabupaten Tasikmalaya, Tawang, Kota Tasikmalaya 5 April 2019. Kontantragis merupakan koperasi yang menampung dan melakukan pemberdayaan ekonomi eks narapidana terorisme, keluarga, dan kalangan pesantren.*/DOK. PR

"Alhamdulillah, sekarang sudah bergabung 170 (anggota) yang resmi. Persoalan utama yang membelit para napiter adalah terputusnya akses ekonomi selepas keluar dari penjara. Ketika kami masih bergerak,  kami tidak mengalami kesulitan ekonomi karena ditunjang jemaah," ucapnya.

Hilangnya sumber pendanaan atau tak adanya mata pencaharian membuat para napiter rentan kembali beraksi atau bergabung dalam gerakan teror.

Komunitas tersebut kemudian bertemu dengan ‎Badan Kesbangpol Provinsi Jawa Barat dan Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) pusat pada 2018.

"Kami disarankan untuk membentuk koperasi," tuturnya.

Tiga koperasi dibentuk masing-masing di Kabupaten Tasikmalaya, Garut, dan Purwokerto. Komunitas itu juga merintis koperasi serupa di Cianjur, Subang, dan Sumedang.

" Insya Allah bulan Juni 2019, kami akan (merintis) ke Blitar," tuturnya.

Dana koperasi berasal dari anggota dengan bantuan teknis dari koperasi yang telah mapan. Untuk kebutuhan operasional hingga pendirian koperasi, mereka mendapat bantuan pembiayaan dari Dekopin. Sementara itu, pengetahuan tentang perkoperasian diperoleh dari Lembaga Pendidikan Perkoperasian (Lapenkop) Jawa Barat.

Keluarga ikut dirangkul

Tak hanya napiter, anggota keluarganya serta pengelola pesantren ikut dilibatkan. Mereka mulai belajar meracik kopi, cokelat, menanam sirih untuk bahan baku sabun, hingga membuat kerajinan tas anyaman dari limbah.

Berbagai produk kreatif itu dihasilkan setelah para napiter mendapat bimbingan teknis dari Koperasi Mitra Malabar Bandung.

Meski telah berjalan, Asep mengakui koperasinya masih kesulitan memperoleh pendanaan guna pengembangan usahanya.

Tak jarang, Asep mempertanyakan mudahnya lembaga atau koperasi lain mendapat kucuran dana BUMN. Namun, nasib koperasi napiter malah berbanding terbalik dengan kondisi bantuan yang seret. Asep berharap, permasalahan itu mendapat perhatian dari pemerintah.

Sementara itu, rekan Asep di Koperasi Kontantragis Bahagia Kabupaten Tasikmalaya, Farhan (45) mengatakan, pengolahan lahan untuk pertanian menjadi rancangan kegiatan ke depan.

Beberapa komoditas pertanian seperti sirih wangi untuk bahan baku karbol bakal ditanam. Saat ini, koperasi yang sekretariatnya berada di kawasan Gunung Tanjung, Kabupaten Tasikmalaya itu turut membuka pasar produk-produk Koperasi Mitra Malabar.

Koperasi tersebut menyediakan bahan baku untuk diolah menjadi produk oleh Mitra Malabar. Lalu, Koperasi Kontantragis Bahagia kembali berperan menyebarkan produknya ke pesantren.

"Target kami (pemasaran ke) 1.000 pesantren‎," ucapnya.

Wilayah Tasikmalaya dan Ciamis menjadi target wilayah pemasaran itu.

Farhan memang bukan eks napiter. Namun di koperasinya, beberapa orang yang pernah terlibat dalam aksi radikal dan teror turut didampingi oleh Farhan untuk bersama melakukan pemberdayaan ekonomi melalui koperasi.

Para napiter telah membuktikan mereka mampu berdaya secara ekonomi. Ketimbang menempuh jalan pedang dan angkat senjata, para napiter lebih memilih jalan damai melalui koperasi.

Persoalannya, kapan pemerintah melalui BUMN, pelaku usaha peduli terhadap mereka yang telah kembali ke pangkuan NKRI?***

Bagikan: