Pikiran Rakyat
USD Jual 14.616,00 Beli 14.316,00 | Cerah berawan, 29 ° C

Sarana Kereta Api di Jabotabek Dinilai Usang 

MENTERI Perhubungan RI Budi Karya Sumadi meninggalkan Stasiun Bogor usai melaksanakan rapat terbatas, Kamis 4 April 2019. Budi menyebutkan gangguan operasional kereta komuter yang terjadi, akibat sarana dan prasarana yang sudah usang.*/WINDIYATI RETNO SUMARDIYANI/PR
MENTERI Perhubungan RI Budi Karya Sumadi meninggalkan Stasiun Bogor usai melaksanakan rapat terbatas, Kamis 4 April 2019. Budi menyebutkan gangguan operasional kereta komuter yang terjadi, akibat sarana dan prasarana yang sudah usang.*/WINDIYATI RETNO SUMARDIYANI/PR

BOGOR,(PR).- Sarana dan prasarana kereta api di jalur Jakarta Bogor Tangerang Bekasi (Jabotabek) seperti rel kereta api, listrik aliran atas, dan penangkal petir sudah usang. Hal tersebut berimbas pada gangguan operasional kereta komuter Jabotabek. 

Demikian diungkapkan Menteri Perhubungan Republik Indonesia, Budi Karya Sumadi usai menggelar rapat terbatas di Stasiun Bogor, Kamis 4 April 2019. Budi menuturkan, rapat terbatas digelar berkaitan dengan gangguan operasional kereta komuter yang terjadi selama 1-3 April 2019. Dalam kurun waktu tersebut, tercatat 13 gangguan perjalanan terjadi di sejumlah rute kereta komuter. 

"Saya sengaja hadir untuk mengevaluasi apa yang terjadi dan menentukan langkah berikutnya. Ada yang bisa saya simpulkan bahwa peralatan di Jabotabek ini ada yang usianya sedikit lanjut," ujar Budi.

Menurut Budi, sarana dan prasarana yang lanjut usia tersebut terus terganggu akibat cuaca ekstrem yang melanda kawasan Jabotabek belakangan ini. Budi mencontohkan, daya petir yang biasanya mencapai 200 kilo ampere, saat ini meningkat menjadi dua kali lipat. Akibatnya operasional kereta komuter pun terganggu. 

"Identifikasi lainnya, frekuensi perjalanan semakin ketat. Oleh karena itu  saya minta ke KAI untuk membuat tim task force untuk mengatasi permasalahan ini,"  ucap Budi. 

Tugas tim satuan tugas percepatan ini, lanjut Budi, melakukan penanganan jangka pendek terhadap permasalahan yang berkaitan dengan gangguan operasional kereta komuter. Sasaran utama perbaikan yakni rel kereta, aliran listrik atas, dan alat yang berkaitan dengan petir.

"Kita pun bentuk tim khusus yang menangani petir, tim khusus ini akan menganalisa beberapa kejadian, mengidikasi spot-spot yang jadi problem, untuk menyelesaikan teknis yang baik," kata Budi. 

Mengenai target perbaikan jangka pendek, Budi meminta tim satuan tugas tersebut dapat agar menyelesaikan kendala tersebut maksimal 2 minggu. Untuk jangka menengah hingga jangka panjang, Menhub RI meminta PT KAI dapat menyelesaikan permasalahan tersebut dalam jangka waktu 6 hingga 1 tahun.

"Untuk jangka menengah dan panjang tentu berkaitan dengan anggaran, nanti kita akan koordinasikan, karena untuk membuat pekerjaan yang prima dibutuhkan dana dan cara untuk menyelesaikan ini. Minggu depan kami akan rapat lagi, sambil menunggu evaluasi, kami minta tim terus bekerja," kata Budi. 

Meski demikian, Budi mengatakan, usangnya sarana prasana di jalur Jabotabek tak berhubungan dengan peristiwa anjloknya kereta komuter di Kelurahan Kebon Pedes, beberapa waktu lalu. 

"Kereta anjlok  itu terjadi karena ada penurunan tanah, karena hujan yang berlebih, ya kaitannya pada cuaca ektrem dan maintenance, apalagi rel kita sudah berumur, jadi tim adhoc ini harus lebih ekstra," ucap Budi.

Direktur Jenderal Perkeretaapian Kemenhub Zulfikri menambahkan, titik-titik rawan gangguan akan jadi fokus perhatian tim satgas yang dibentuk oleh PT KAI. Tim tersebut juga akan berdiskusi dengan ahli tentang faktor eksternal berkaitan dengan dampak petir kepada operasional kereta komuter.

"Ini ditugaskan kepada KAI karena mereka yang melakukan perawatan, Ditjen Perkeretaapian juga sudah melakukan audit, nanti seminggu lagi kami evaluasi," ucap Zulfikri.

Direktur PT KAI Edi Sukmoro menyatakan, anggaran PT KAI saat ini hanya sebesar Rp 1,1 triliun. Anggaran tersebut termasuk biaya pemeliharaan sarana dan prasarana. Sementara yang dibutuhkan PT KAI sejumlah Rp 3,8 triliun. "Mudah-mudahan tahun depan bisa naik, logikanya sih naik," ucap Edi.***

Bagikan: