Pikiran Rakyat
USD Jual 14.006,00 Beli 14.104,00 | Cerah berawan, 27.4 ° C

Replika Kerajaan Tembong Agung Bisa Menarik Wisata Jatigede

Adang Jukardi
KESENIAN Kuda Renggong meriahkan acara ‘Hard Fest Pesona Jatigede#3’ di objek wisata Tanjung Duriat, Jatigede, beberapa waktu lalu.*/ADANG JUKARDI/PR
KESENIAN Kuda Renggong meriahkan acara ‘Hard Fest Pesona Jatigede#3’ di objek wisata Tanjung Duriat, Jatigede, beberapa waktu lalu.*/ADANG JUKARDI/PR

SUMEDANG, (PR).- Sejumlah aktivis Jatigede menilai Pemkab Sumedang lamban dan pasif  dalam mengajukan proposal Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) pariwisata Jatigede kepada Kementerian Pariwisata. Padahal, KEK menjadi kunci percepatan pembangunan pariwisata di Bendungan Jatigede.

“Ketika Menteri Pariwisata Arief Yahya meminta bupati segera mengajukan proposal KEK pariwisata Jatigede dalam acara Pesona Jatigede beberapa waktu lalu, mengandung arti pemdanya lamban. Katanya ingin dan sangat berharap Jatigede menjadi KEK pariwisata. Nyatanya,  sudah 3 tahun Bendungan Jatigede beroperasi, proposalnya belum juga diajukan. Padahal, pemerintah pusat welcome kepada Pemkab Sumedang untuk secepatnya mengajukan KEK Jatigede,” ujar aktivis Jatigede yang juga Budayawan Sumedang, Ki Wangsa Wijayakusumah ketika dihubungi di Sumedang, Rabu 3 April 2019.   

Menurut dia, ketika Pemkab Sumedang sangat membutuhkan KEK pariwisata Jatigede, seharusnya dari dulu sudah membuat proposal dan mengajukannya kepada pemerintah pusat. Bahkan setelah diajukan, pemda mesti  proaktif dan jemput bola mengawal proposal tersebut hingga direalisasikan.

“Kelihatannya pemda kurang berani dan terkesan menunggu bola. Kalau seperti itu, sampai kapan pun KEK pariwisata Jatigede tidak akan terealisasi. Saya menduga, konsepnya pun belum dibuat. Kalau benar, berarti selama tiga tahun ke belakang pemda gembar-gembor pariwisata Jatigede sudah menjadi KEK, cuma retorika belaka,” kata Ki Wangsa. 

Ia menuturkan, ketika Menteri Pariwisata Arief Yahya meminta bupati segera mengajukan proposal, Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir harus  segera mengintruksikan jajarannya untuk secepatnya membuat konsep KEK pariwisata Jatigede hingga dibuatkan proposalnya. Dalam membuat konsep, pemda harus melibatkan masyarakat, akademisi serta para pegiat pariwisata,  seni dan budaya untuk membahasnya bersama. “Jadi, pembuatan konsepnya harus bottom up planning menyerap aspirasi dari bawah (masyarakat),” ucapnya. 

Sejarah dan budaya

Lebih jauh Ki Wangsa menjelaskan, yang paling potensial dikembangkan di sekitar Bendungan Jatigede, memang  sektor pariwisata.  Selain wisata air, juga wisata sejarah dan budaya. Untuk wisata sejarah, di sekitar Waduk Jatigede bisa dibangun replika Kerajaan Tembong Agung, yakni kerajaan pertama di Sumedang yang rajanya Prabu Guru Aji Putih. Makamnya ikut tergenang Waduk Jatigede. Selain itu, bisa juga dibangun kampung adat Jatigede, prasasti dan wisata sejarah lainnya.

“Kalau mau digali, begitu banyak potensi pariwisata di sekitar Jatigede. Oleh karena itu, pembuatan dan pengajuan proposal KEK Pariwisata Jatigede tak bisa ditawar-tawar lagi. Harus segera, supaya pembangunan pariwisata berkembang pesat,” katanya menegaskan. 

Ia menambahkan, KEK pariwisata Jatigede harus dirasakan dan dinikmati manfaatnya oleh OTD (orang terkena dampak) pembangunan Waduk Jatigede. Sebab, mereka sudah kehilangan mata pencahariannya sebagai petani dan pekebun. Bahkan dulu, perputaran uang dari hasil pertanian dan perkebunan masyarakat di sekitar Jatigede mencapai sekira  Rp 300 miliar/tahun. Perputaran uang sebesar itu,  dari lahan sawah dan kebun milik masyarakat yang tergenang seluas 3.500 hektare.

“Nah melalui KEK pariwisata Jatigede ini, bisa tidak pemerintah pusat termasuk bupati mengembalikan perputaran uang masyarakat Jatigede yang hilang Rp 300 miliar per tahun? Kalau pemerintah peduli, jawabannya harus bisa bahkan harus lebih. Caranya, gali potensi pariwisata Jatigede sampai go international. Jangan wisata lokal saja,” tutur Ki Wangsa. 

Menanggapi hal itu, Sekretaris Umum Dewan Kebudayaan Sumedang Tatang Sobarna mengatakan, proposal KEK pariwisata Jatigede harus segera dibuat dan diajukan ke Kementerian Pariwisata. Sebab, hal itu menjadi kunci percepatan pembangunan kepariwisataan Jatigede. “Pak bupati harus segera membuat dan mengajukan proposalnya.  Apalagi, proposalnya sudah diminta langsung oleh Menteri Pariwisata Arief Yahya pada acara Pesona Jatigede, beberapa waktu lalu. Cuma bagaimana konsepnya? saya kurang tahu persis. Harus ditanyakan ke Bappppeda,” kata Tatang.***

Bagikan: