Pikiran Rakyat
USD Jual 13.986,00 Beli 14.084,00 | Umumnya cerah, 33 ° C

Kasus Ketiga dalam Sebulan, Pembuangan Bayi Kembali Terjadi di Karawang

Dodo Rihanto
ILUSTRASI bayi.*/CANVA
ILUSTRASI bayi.*/CANVA

KARAWANG, (PR).- Kasus pembuangan bayi kembali terjadi di Kabupaten Karawang. Setelah ditemukan jasad bayi yang terbakar di tumpukan sampah, warga Karawang kembali dihebohkan oleh penemuan bayi laki-laki di Dusun Krajan, Desa Gintungkerta, Kecamatan Klari, Senin 1 April 2019.

"Bayi tersebut diletakkan begitu saja di depan pintu rumah warga pada malam hari. Pelaku meninggalkan bayi dengan pakaian, popok dan selimut," kata Kepala Bidang Humas Polres Karawang, Ajun Komisaris Marjani. 

Menurut Marjani, bayi laki-laki tersebut disimpan di rumah Adang (40) warga Kampung Krajan RT07 RW01, Desa Gintungkerta. Warga bersama polisi langsung mengevakuasi bayi yang masih hidup itu ke RSUD Karawang. 

Saat ditemukan, bayi tersebut dalam kondisi sehat. "Dokter spesialis sudah memeriksa kondisi bayi. Tidak ditemukan penyakit. Semua fungsi organ normal," kata Ruhimin Humas RSUD Karawang. 

Ruhimin menuturkan, bayi dengan berat badan 2,8 kilogram dan panjang 42 sentimeter tersebut menyita perhatian masyarakat. Semenjak ditemukan, banyak warga yang berniat mengadopsi bayi tersebut. 

"Ada beberapa keluarga yg ingin mengadopsi bayi ini. Tadi ada satu keluarga dari Purwakarta yang datang langsung ingin mengadopsi. Namun kami tidak berikan. Sebab kami hanya sebatas melayani, Dinas Sosial yang menentukan siapa yang berhak mengadopsinya," kata Ruhimin. 

Dalam satu bulan terakhir, setidaknya terjadi tiga kasus pembuangan bayi. Salah satunya bahkan ditemukan dalam kondisi terbakar di tumpukan sampah. Fenomena maraknya pembuangan bayi itu mendapat perhatian khusus dari Wakil Ketua Komnas Anak Jawa Barat, Wawan Wartawan. Pria asal Karawang itu meminta aparat kepolisian segera mencari pelaku dan melakukan pendalaman terkait motif kasus tersebut.

Wawan juga meminta Pemkab melakukan langkah-langkah antisipatif terkait maraknya kasus pembuangan bayi, dimulai dengan pendataan warga pendatang, terutama wanita pekerja malam. Sebab, kasus pembuangan bayi itu diduga berawal dari hubungan gelap pasangan tak sah.

"Menurut saya, bayi yang dibuang kehadirannya tidak diharapkan orang tuanya. Akibat seks bebas orang tuanya hamil di luar nikah, sehingga saat bayi lahir langsung dibuang dan bahkan dibunuh," kata Wawan.

Menurutnya, razia tempat kos-kosan harus lebih digiatkan lagi. Sebab pada umumnya, orang tua bayi tinggal di tempat kos. Mereka diyakini bukan asli warga Karawang. Mereka berasal dari luar daerah, seperti Subang, Indramayu, Cirebon bahkan Kota Bandung. "Secara administrasi kependudukan mereka tidak terdata di Karawang. Hal ini yang mungkin menyulitkan monitoring terhadap mereka," ujarnya.

Wawan juga meminta masyarakat untuk lebih peka dan peduli terhadap lingkungan sekitar. Jika di lingkungannya ditemukan wanita hamil tanpa keluarganya, maka warga harus segera melapor ke aparat desa/kelurahan setempat.

"Terakhir saya mengimbau kepada orang tua untuk terus memonitor anak-anaknya, terutama anak perempuan jangan sampai terjadi prilaku seksual di luar nikah," kata Wawan.***

Bagikan: