Pikiran Rakyat
USD Jual 14.279,00 Beli 14.181,00 | Sedikit awan, 15.9 ° C

Puluhan Tahun Warga Empat Desa Seberangi Sungai Tanpa Jembatan

Shofira Hanan
SAEJUMLAH warga Desa Neglasari menyeberangi jalan di tengah aliran sungai yang cukup deras, di Neglasari, Agrabinta, belum lama ini. Selama puluhan tahun, warga harus bertarung dengan alam yang seringkali ‘menenggelamkan’ jalur penghubung mereka.*/SHOFIRA HANAN/PR
SAEJUMLAH warga Desa Neglasari menyeberangi jalan di tengah aliran sungai yang cukup deras, di Neglasari, Agrabinta, belum lama ini. Selama puluhan tahun, warga harus bertarung dengan alam yang seringkali ‘menenggelamkan’ jalur penghubung mereka.*/SHOFIRA HANAN/PR

PULUHAN tahun masyarakat empat desa di Kecamatan Agrabinta yang terhubung dengan satu ruas jalan, harus mengalah dengan kondisi alam. Jalan utama yang menghubungkan keempat wilayah itu, seringkali ‘hilang’ tertutup aliran sungai yang semakin deras saat hujan turun.

Jalan penghubung Desa Neglasari, Mulyasari, Bunisari, dan Karangsari itu memang timbul tenggelam sesuai dengan kondisi cuaca. Kepala Desa Neglasari Kecamatan Agrabinta Nasihin menjelaskan, hal itu akhirnya berdampak banyak terutama bagi proses pendidikan, kesehatan, dan perekonomian warga.

”Karena kalau musim hujan, jalan penghubung ini bisa tertutup total oleh aliran Sungai Jamilaer. Akses ke sekolah, fasilitas kesehatan, atau perekonomian otomatis tertutup, karena tidak mungkin menyebrang,” kata Nasihin, Jumat 29 Maret 2019.

Ia menjelaskan, sejak tahun 1982 kondisi itu tidak berubah banyak. Tidak ada sama sekali jembatan penghubung yang bisa digunakan, saat aliran sungai meluap menutup jalan. Selama ini, warga hanya bisa melintas ketika air surut meskipun jalan tidak sepenuhnya kering.

Kondisi itu, diakui Nasihin sangat memprihatinkan, terutama bagi para pelajar yang terpaksa tidak berangkat ke sekolah. Padahal, ada beberapa sekolah di wilayah tersebut, yakni SD Cikahuripan, SD Cikole, Mts Leles, SMK Leles, SMP 3 Agrabinta, dan satu madrasah aliyah.

”Mereka terpaksa tidak ke sekolah, karena memang tidak bisa memaksakan diri. Arus besar sekali, bahkan pernah ada yang nekat menyeberang tapi motornya malah hanyut terbawa arus,” ucapnya.

Tak hanya bagi pelajar, sebagai kepala desa, Nasihin juga mengkhawatirkan jika ada warga yang sakit atau hendak melahirkan. Pasalnya, benar-benar tidak ada jalur aman yang bisa dilalui pada keadaan darurat sekalipun.

Tidak tersentuh pembangunan

Nasihin tidak pernah mengabaikan kondisi yang ada, ia bahkan mengaku sudah sering mengajukan pembangunan jembatan di lokasi tersebut. Setidaknya, pemerintah bisa membangun sebuah jembatan gantung dengan material yang kokoh sehingga tidak mudah rusak.

Keinginan tersebut bukan tanpa sebab, selain karena selama puluhan tahun wilayah itu tidak tersentuh pembangunan, selama ini warga hanya bertahan dengan jembatan bambu sederhana. Jembatan itu pun, diketaui hanya bisa digunakan sebentar karena pasti hancur kembali oleh arus sungai.

”Setiap tahun membangun jembatan bambu, dan setiap tahun juga jembatannya rusak. Swadaya saja, supaya setidaknya bisa menyeberang dan aktivitas tidak selalu lumpuh saat jalan tertutup arus sungai,” ujar Nasihin.

Sebenarnya tidak hanya satu sungai yang membutuhkan jembatan. Menurut dia, setidaknya ada lima titik sungai lain yang juga memerlukan jembatan agar dapat dilalui. Di antaranya, Sungai Kaliciakak, Gonggang, Bojonghuni, Cigenuk, dan Cikahuripan.

“Kami selalu memohon bantuan kepada pihak terkait, supaya dibantu. Tapi, mungkin, karena Neglasari ini terlalu besar, terlalu jauh, dan terbatasnya anggaran makanya belum juga ada bantuan yang masuk,” kata dia.

Berdasarkan keterangan Nasihin, kebutuhan jembatan penghubung yang dibutuhkan antara lain sepanjang 70 meter. Diharapkan, jembatan itu bisa diandalkan untuk penggunaan harian masyarakat empat desa terhubung.

Lebih lanjut dikatakan, sebenarnya ada dana desa yang bisa dioptimalkan untuk kebutuhan jembatan. Akan tetapi, dari hasil musyawarah setiap tahunnya, diputuskan agar pembangunan jalan darat lebih didahulukan menggunakan dana tersebut.

”Memang jalan darat di desa kami pun sepanjang 59 kilometer masih berupa tanah. Akan becek parah dan sulit dilalui saat musim hujan, makanya masyarakat juga memilih untuk membangun jalan dulu,” ucapnya.

Mewakili masyarakat di desa-desa tersebut, Nasihin sangat mengharapkan agar pemerintah kabupaten bersedia menyentuh wilayah itu. Masyarakat sudah terlalu lama menunggu adanya pembangunan. Mereka juga tidak berhenti mengharapkan, lingkungan mereka dapat lebih nyaman untuk ditinggali tanpa terkendala apapun.***
 

Bagikan: