Pikiran Rakyat
USD Jual 14.031,00 Beli 14.129,00 | Sedikit awan, 23.3 ° C

Jabar-Jateng Bangun Integrasi Ekonomi Perbatasan

Agung Nugroho
TOL Cipali.*/DOK. PR
TOL Cipali.*/DOK. PR

SUMBER, (PR).- Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Jawa Tengah berencana menjadikan wilayah perbatasan sebagai zona integrasi untuk pengembangan pariwisata dan perekonomian secara umum. Kedua daerah tersebut kini tengah menyusun rencana pola pembangunan di sepanjang wilayah perbatasan secara lebih terkoordinasi satu sama lain.

Untuk mencapai zona integrasi tersebut, kedua daerah tersebut kini tengah menggelar Musyawarah Rencana Pengambangan Perbatasan (Musrenbangtas) yang berlangsung di Cirebon, 29-30 April 2019. Diharapkan, musrenbangtas akan melahirkan peta jalan (roadmap) pengembangan industri pariwisata di wilayah perbatasan sebagai lokomotif pertumbuhan perekonomian.

Hadir dalam pembukaan Musrenbangtas, masing-masing Wakil Gubernur Jawa Barat, H. Uu Ruzhanul Ulum dan Wagub Jawa Tengah, H Taj Yasin Maimoen. Turut pula Penjabat Bupati Cirebon, H. Dicky Saromi sebagai tuan rumah, serta para Ketua Bappeda kedua provinsi hingga daerah setingkat kabupaten/kota di sepanjang perbatasan Jawa Barat-Jawa Tengah seperti Kabupaten dan Kota Cirebon, Kuningan, Kota Banjar, Ciamis, Pangandaran, Cilacap dan Brebes.

Wagub Jawa Barat, Uu menuturkan, wilaah perbatasan merupakan daerah yang selama ini belum ada pengembangan yang lebih optimal. Daerah dan masyarakatnya cenderung tertinggal karena jauh dari pusat baik ibukota provinsi maupun masing-masing kabupaten/kota.

Padahal, perbatasan Jawa Barat-Jawa Tengah merupakan raksasa tidur yang memiliki potensi perekonomian sangat besar. Tidak saja menyangkut bidang pariwisata, tetapi juga pertanian, industri, jasa dan perdagangan.

“Kalau visi Jabar Juara, wilayah perbatasan atau dalam konteks Jabar ialah Cirebon Raya, akan menjadi alternatif pusat pertumbuhan ekonomi setelah Jababeka dan Bandung Raya. Ke depan, daerah ini justru yang sangat potensial untuk dikembangkan,”tuturnya.

Di Cirebon Raya yang kini dijadikan titik pertumbuhan ekonomi Segitiga Rebana, seluruh fasilitas transportasi dan infrastruktur sangat lengkap, termasuk juga sepanjang perbatasan. Fasilitas sudah memadai, dari mulai Bandara Kertajati dan Nusawiru, tol Trans-Jawa sampai kereta api.

“Bahkan tahun ini bakal segera proses lelang untuk pembangunan jalan told an jalur kereta dari Bandung-Tasikmalaya-Ciamis-Pangandaran sampai ke Cilacap, Jateng,”tuturnya.

Kawasan industri Jateng barat

Wagub Jawa Tengah, Taj Yasin menuturkan, Brebes di perbatasan paling barat, merupakan daerah paling tertinggal di daerahnya. Karena itu, lewat zona integrasi ekonomi, Pemprov Jawa Tengah tengah mempersiapkan lahan seluas 4.000 hektare untuk kawasan industri.  

“Industrialisasi di Brebes untuk mengantisipasi perluasan industri yang kini sudah sampai wilayah Cirebon. Kawasan itu akan terintegrasi dengan pengembangan ekonomi di Cirebon Raya,” tuturnya.

Sementara Pj Bupati Cirebon, Dicky menjelaskan, musrenbangtas diharapkan bisa menjadi kerangka acuan dan aksi pola kerjasama pengembangan industri pariwisata dan perekonomian kedua provinsi.Bagaimanapun, potensi di perbatasan itu sangat besar, bahkan bisa jauh lebih besar daripada titik pertumbuhan di Jababeka dan Bandung Raya.

“Pusat pertumbuhan Indonesia nanti justru terletak di perbatasan Jabar-Jateng. Potensinya luar biasa. Saya melihat, titik pertumbuhan ekonomi Jabodetabek atau Jababeka itu masa lalu, Bandung Raya itu masa kini dan Cirebon Raya atau perbatasan Jabar-Jateng itu masa depan,”tuturnya.

Dicky juga mengingatkan perlunya daerah perbatasan benar-benar mempersiapkan diri untuk menyongsong kemajuan tersebut. Harus ada perubahan paradigma yang lebih kreatif dan inovatif, sehingga mampu membaca peluang dan memaksimalkan potensi sendiri.

“Masing-masing daerah di perbatasan memiliki keunikan atau karakteristik yang justru bisa menjadi modal untuk pengembangan wisata atau ekonomi secara umum. Itu harus digali dan dimaksimalkan mengingat kini terjadi pergeseran dari ekonomi konvensional ke leissure (kepuasan). Perkembangan ekonomi kreatif dan pariwisata itu menandai pergeseran itu. Pola konsumsi berubah, orang sekarang mencari kepuasan dengan mencari pengalaman-pengalaman baru lewat kunjungan wisata,”tuturnya.***

Bagikan: