Pikiran Rakyat
USD Jual 14.628,00 Beli 14.328,00 | Cerah berawan, 27 ° C

Pengaduan Berita Hoaks di Jawa Barat Terus Meningkat Jelang Pilpres 2019

Shofira Hanan

CIANJUR, (PR).- Penyebaran hoaks atau berita bohong di Jawa Barat terus mengalami peningkatan sejak Desember 2018. Konten hoaks yang peningkatannya paling signifikan adalah hoaks yang terkait konten politik. Media sosial hingga portal media bodong, disebut menjadi beberapa sumber penyebaran hoaks hingga saat ini.

Kepala Divisi Diseminasi dan Klrarifikasi pada Jabar Saber Hoaks, Alfianto Yustinova mengatakan, pada Desember tahun lalu, dari keseluruhan hoaks yang diklarifikasi, 16 persen diantaranya merupakan hoaks politik.

“Saat ini persentasenya terus naik, Januari ini hoaks politik menjadi 25 persen. Lalu pada Februari, jadi 36 persen. Karena memang sedang momentum politik juga,” ujar dia, dalam Sosialisasi Jabar Saber Hoaks dengan tema Cianjur Hantam Hoaks, Rabu 27 Maret 2019.

Data tersebut diperoleh berdasarkan jumlah pengaduan berita bohong yang dilakukan masyarakat Jawa Barat. Menurut Alfi, setidaknya ada lebih dari 100 pengaduan yang masuk ke media sosial maupun kontak Saber Hoaks setiap pekannya.

Berdasarkan data terakhir di akhir Maret ini, terdapat 136 pengaduan kasus. Sebanyak 88 kasus terklarifikasi, 25 kasus tidak terklarifikasi, dan 23 kasus belum terklarifikasi.  “Hasil setiap pengaduan memang selalu kami posting di instagram. Jadi masyarakat tahu, berita apa saja yang palsu atau tidak,” ucapnya.

Alfi menilai, masyarakat saat ini dinilai sudah cukup kritis menghadapi berita bohong, terbukti dengan aktifnya mereka membuat pengaduan hingga meminta klarifikasi berita. Menurut data, rata-rata masyarakat yang membuat pengaduan berada pada usia 25-35 tahun. Kalangan ini memang merupakan golongan mayoritas pengguna internet dan media sosial di Indonesia.

Hal ini, patut diapresiasi karena pada dasarnya berita bohong seringkali sarat dengan unsur kesengajaan. Terlalu banyak manipulasi di dalamnya, terutama jika ada sesuatu yang sedang menjadi tren kemudian viral. “Jadi, masyarakat harus teliti ketika mengakses informasi. Perhatikan sumbernya, harus diwaspadai kalau beritanya bersumber dari blog,” ujar Alfi. Ia menyarankan masyarakat mengakses atau membaca berita dari media resmi atau mainstream. Setidaknya, berita dan media tersebut sudah terverifikasi.

Lebih lanjut dikatakan, Jabar Saber Hoaks mengharapkan, agar kaum miilenial dapat lebih melek dan tidak mudah menerima berita bohong. “Bijaklah dalam bermedsos, budayakan saring sebelum sharing,” kata dia.

Kegiatan sosialisasi seperti ini akan diselenggarakan di 12 kota/kabupaten di Jawa Barat selama 2019. Jabar Saber Hoaks juga akan berkoordinasi dengan sejumlah perusahaan, seperti Google dan Facebook untuk kegiatan itu.

Sementara itu, Kepala Dinas Komunikasi Informasi Persandian dan Statistik Cianjur, Tedi Artiawan mengatakan, saat ini pemerintah setempat melakukan sejumlah upaya agar masyarakat tidak terjebak hoaks terkait isu daerah. “Cianjur punya beberapa media sosial yang memberitakan berita-berita daerah. Seluruh informasi soal Cianjur dimuat di masing-masing akun,” kata Tedi.***

Bagikan: