Pikiran Rakyat
USD Jual 14.185,00 Beli 13.885,00 | Umumnya berawan, 21.4 ° C

Simulasi Pemilu, Banyak Warga Kebingungan dan Salah Coblos

Hilmi Abdul Halim
KELOMPOK Penyelenggara Pemungutan Suara di Tempat Pemungutan Suara 13 Desa Tanjungsari Kecamatan Pondoksalam Kabupaten Purwakarta menyiapkan surat suara dalam simulasi Pemilihan Umum pada akhir pekan lalu. Menurut hasil evaluasi ditemukan surat suara yang tidak sah karena kesalahan mencoblos maupun tidak dicoblos.*/HILMI ABDUL HALIM/PR
KELOMPOK Penyelenggara Pemungutan Suara di Tempat Pemungutan Suara 13 Desa Tanjungsari Kecamatan Pondoksalam Kabupaten Purwakarta menyiapkan surat suara dalam simulasi Pemilihan Umum pada akhir pekan lalu. Menurut hasil evaluasi ditemukan surat suara yang tidak sah karena kesalahan mencoblos maupun tidak dicoblos.*/HILMI ABDUL HALIM/PR

PURWAKARTA, (PR).- Simulasi Pemilihan Umum untuk segmen perdesaan di Kabupaten Purwakarta menunjukkan masih banyak pemilih yang salah mencoblos surat suara. Selain itu, lebih banyak pemilih yang mencoblos gambar partai dibandingkan nama calon legislatif.

Pemahaman masyarakat mengenai pelaksanaan Pemilu 2019 dinilai masih minim. "Ini harus jadi perhatian semua pihak," kata Koordinator Divisi Pengawasan dan Hubungan Antar Lembaga Badan Pengawas Pemilu Kabupaten Purwakarta, Oyang Este Binos, Senin 25 Maret 2019.

Menurut pantauan Bawaslu, masih banyak pemilih yang kebingungan mengikuti proses pencoblosan saat simulasi akhir pekan lalu. Dari mulai memasuki tempat pemungutan suara, mencoblos surat suara di bilik suara hingga memasukkannya ke kotak suara.

Binos menemukan jumlah surat suara tidak sah cukup banyak karena alasan tidak dicoblos dan salah mencoblos. Kesalahan itu diakui lebih banyak ditemukan pada surat suara pemilihan anggota Dewan Perwakilan Rakyat di tingkat daerah, provinsi hingga pusat.

"Surat suara tidak sah mencapai 38 dari 198 pengguna hak pilih di TPS tersebut. Tentunya ini jadi catatan bagi Komisi Pemilihan Umum agar lebih masif melakukan sosialisasi," tutur Binos. Khususnya, sosialisasi teknis pencoblosan surat suara.

Upaya serupa juga perlu dilakukan oleh setiap calon legislatif agar pemilih tidak hanya mencoblos partainya. Mereka diharapkan untuk memaksimalkan kampanye pribadi selama masa kampanye yang menyisakan waktu kurang dari 20 hari.

Selebihnya, Bawaslu menyoroti kinerja Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara saat simulasi di TPS tersebut. Menurutnya, masih ada kesalahan dalam tahapan seperti penghitungan surat suara dari kotak suara sebelum dibuka satu per satu.

Kesalahan itu diakui Ketua KPU Purwakarta Ahmad Ikhsan Faturrahman. "Memang benar masih terjadi kesalahan, tapi tidak terlalu fatal, hanya kurang sesuai standar operasional prosedur. KPPS kelihatan masih ragu," katanya.

Ikhsan mengaku lebih menyoroti pemilih yang belum memahami syarat maupun tahapan pencoblosan Pemilu kali ini. Ia mengatakan, KPPS sempat menolak pemilih pindahan yang termasuk dalam Daftar Pemilih Tambahan karena tidak membawa dokumen persyaratan seharusnya.

"Yang ditolak itu kemarin DPTb ada yang hanya bawa Kartu Tanda Penduduk saja. Seharusnya bawa juga formulir A5 (pindah memilih) dari KPU di daerah asalnya," kata Ikhsan. Sedangkan pemilih yang termasuk Daftar Pemilih Tetap dan Khusus bisa hanya menunjukkan e-KTP atau Surat Izin Mengemudi dan Paspor.

Mengenai angka partisipasi pemilih dalam simulasi Pemilu, Ikhsan menilai cukup bagus yakni mencapai 75 persen dari 260 pemilih di DPT. Ia menargetkan partisipasi pemilih di Kabupaten Purwakarta mencapai 80 persen saat pelaksanaan sebenarnya pada 17 April 2019 mendatang.***

Bagikan: