Pikiran Rakyat
USD Jual 14.280,00 Beli 14.182,00 | Sebagian cerah, 26.1 ° C

Modal dan Buruh Jadi Kendala, Pabrik Genting Majalengka Semakin Banyak Gulung Tikar

Tim Pikiran Rakyat
SEORANG pekerja sedang mengangkat genting di sebuah pabrik genting di Desa Pinangraja, Kecamatan Jatiwangi, Kabupaten Majalengka. Kini, banyak pabrik yang gulung tikar. Tahun 2018 masih ada 24 pabrik, kini tinggal 10 pabrik saja yang masih memproduksi.*/TATI PURNAWATI/KC
SEORANG pekerja sedang mengangkat genting di sebuah pabrik genting di Desa Pinangraja, Kecamatan Jatiwangi, Kabupaten Majalengka. Kini, banyak pabrik yang gulung tikar. Tahun 2018 masih ada 24 pabrik, kini tinggal 10 pabrik saja yang masih memproduksi.*/TATI PURNAWATI/KC

MAJALENGKA,(PR).- Hampir sebagian besar pabrik genting di Kabupaten Majalengka suda gulung tikar. Kekurangan modal menjadi salah satu masalah yang dialami sebagian besar pengusaha itu. Saat ini, pabrik genting di Desa Pinangraja, Kecataman Jatiwangi, Kabupaten Majalengka bersisa 10 pabrik, padahal tahun 2018 masih ada 24 pabrik.

Kekurangan modal membuat para pengusaha tidak bisa membeli bahan baku dan membayar upah pekerja. Masalah lainnya, seperti dilaporkn Tati Purnawati dari Kabar Cirebon, ada pengusaha yang berperilaku dengan spekulasi tinggi sehingga mengakibatkan kerugian.

Didi Supriadi, salah seorang pengusaha yang masih terus menjalankan pabriknya di Desa Pinangraja mengatakan, kekurangan modal menjadi kendala karena bahan baku semakin sulit diperoleh, jaraknya jauh, dan harganya mahal. Harganya kini telah mencapai Rp120 ribu per truk di lokasi dan Rp220 ribu di pabrik.

SEORANG pekerja sedang mengangkat genting di sebuah pabrik genting di Desa Pinangraja, Kecamatan Jatiwangi, Kabupaten Majalengka. Kini, banyak pabrik yang gulung tikar. Tahun 2018 masih ada 24 pabrik, kini tinggal 10 pabrik saja yang masih memproduksi.*/TATI PURNAWATI/KC

Selain itu, persoalan tenaga kerja juga menjadi kendala. Saat ini, hanya buruh yang sudah berusia di atas 45 tahun yang masih bersedia bekerja di pabrik. Generasi muda sudah tidak bersedia kerja di pabrik genting dan lebih memilih bekerja di pabrik garmen. Buruh di pabrik genting pun bekerja disela-sela waktu ketika tidak pergi ke sawah untuk tanam atau panen.

“Pabrik yang masih jalan pun hanya beroperasi selama tujuh bulanan dalam setahun, karena empat bulannya dipergunakan buruh untuk ke sawah saat masa tanam dan panen. Selain itu, pada hari Jumat hingga Minggu, buruh juga libur,” kata Didi, Minggu, 24 Maret 2019.

Karena itulah, meski ia memiliki 30 mesin. tidak seluruh mesin bisa beroperasi karena kurangnya pekerja pabrik. Selain itu, ada juga risiko kerusakan yang cukup tinggi jika pekerja kurang baik dalam mengolah atau melakukan pembakaran terutama untuk genting morando atau glasir.

Didi menambahkan, kondisi itu membuat banyak pengusaha yang menyewakan pabrik ke mitra usahanya atau bahkan dijual. “Kalau kondisi pabriknya masih bagus penyewa pasti bersedia, tapi kalau kondisi pabriknya sudah rusak tidak dipelihara karena kurang modal, ya susah juga untuk disewakan,” ungkap Didi.

Pemasaran terbanyak untuk bangunan proyek

Didi mengatakan, pemasaran genting sebetulnya masih stabil dan mampu bersaing bila dibandingkan dengan produk lain seperti beton ataupun alumunium. Hanya, penjualan genting memiliki masa-masa sepi di saat proyek pemerintah belum berjalan atau di awal tahun anggaran karena lelang proyek baru berjalan.

Omset tertinggi penjualan genting selama ini adalah genting palentong karena kebanyakan untuk bangunan proyek termasuk proyek perumahan. Genting berbahan tanah dinilai lebih awet dibanding genting bahan semen atau alumunium.***

Bagikan: