Pikiran Rakyat
USD Jual 14.080,00 Beli 13.780,00 | Umumnya cerah, 28.4 ° C

Pemilih Perdesaan Lebih Antusias tapi Minim Pengetahuan

Hilmi Abdul Halim
SEORANG pemilih lanjut usia mengikuti simulasi pemungutan suara Pemilihan Umum 2019 di Desa Tanjungsari Kecamatan Pondoksalam Kabupaten Purwakarta pada saat simulasi, Sabtu, 23 Maret 2019. Pemilih dari segmen perdesaan dinilai lebih antusias namun minim pengetahuan.*/HILMI ABDUL HALIM/PR
SEORANG pemilih lanjut usia mengikuti simulasi pemungutan suara Pemilihan Umum 2019 di Desa Tanjungsari Kecamatan Pondoksalam Kabupaten Purwakarta pada saat simulasi, Sabtu, 23 Maret 2019. Pemilih dari segmen perdesaan dinilai lebih antusias namun minim pengetahuan.*/HILMI ABDUL HALIM/PR

PURWAKARTA, (PR).- Kabupaten Purwakarta menjadi lokasi simulasi Pemilihan Umum untuk segmen pemilih perdesaan. Pemilih dari segmen tersebut dinilai lebih antusias mendatangi Tempat Pemungutan Suara namun masih banyak yang belum mengetahui teknis pencoblosan surat suara.

Kondisi serupa terjadi di TPS 13 Desa Tanjungsari Kecamatan Pondoksalam Kabupaten Purwakarta pada saat simulasi, Sabtu, 23 Maret 2019. "Di Purwakarta jam 7.00 (pemilih) sudah antre (di TPS)," kata Komisioner Divisi Teknis di Komisi Pemilihan Umum Provinsi Jawa Barat, Endun Abdul Haq.

Ia membandingkannya dengan pemilih dari segmen perbatasan di Kabupaten Bogor dan perkotaan di Cirebon. Dalam simulasi serupa yang digelar beberapa waktu lalu diketahui bahwa pemilih dari kedua segmen tersebut lebih banyak yang tiba di TPS mulai pukul 11.00.

"Itu artinya pemilih di segmen perdesaan ini lebih antusias mengikuti pencoblosan dibandingkan segmen perbatasan atau perkotaan," ujar Endun menyimpulkan untuk sementara. Meski demikian, ia mengakui pemilih di perdesaan lebih lama melakukan pencoblosan di bilik suara.

Menurut pantauan PR saat simulasi di Purwakarta, waktu rata-rata pemilih berada di bilik suara mencapai lima menit. Endun mengkhawatirkan waktu yang dibutuhkan masing-masing pemilih untuk mencoblos akan lebih lama saat pelaksanaan sebenarnya dibandingkan dengan simulasi.

Karena itu, KPU Purwakarta berupaya mengantisipasi waktu pencoblosan yang terlalu lama. Salah satunya, kata Ketua KPU Purwakarta Ahmad Ikhsan Faturrahman, dengan meningkatkan sosialisasi mengenai teknis pencoblosan surat suara.

"Salah satu keluhan untuk manula itu saat membuka dan melipat surat suara," kata Ikhsan. Kendala tersebut dialami pemilih dari kalangan lanjut usia yang diperkirakan mendominasi jumlah pemilih di TPS yang menjadi lokasi simulasi kali ini.

Salah seorang pemilih Hani (68) mengaku kesulitan dalam melipat surat suara pemilihan anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang berukuran lebih besar dibandingkan surat suara pemilihan presiden. "Melipat dan mencoblosnya juga kesulitan karena (calon legislatifnya) kebanyakan," katanya.

Demikian pula yang dirasakan oleh pemilih lainnya bernama Uding (58). Ia membutuhkan waktu hampir 10 menit selama di bilik suara. "Kertasnya (surat suara) terlalu besar jadi agak repot membukanya," ujar dia seusai mengikuti simulasi.

Simulasi tersebut sekaligus menjadi bahan pembelajaran bagi Panitia Pemilihan tingkat Kecamatan di seluruh Purwakarta. Mereka sengaja dihadirkan di lokasi simulasi agar memahami teknis pemungutan suara hingga perhitungan suara dan melakukan antisipasi masalah.***

Bagikan: