Pikiran Rakyat
USD Jual 14.185,00 Beli 13.885,00 | Umumnya berawan, 21.6 ° C

Ini Beberapa Penyebab Warga Bekasi Lebih Suka Numpang Nikah di Jakarta

Riesty Yusnilaningsih
M. Salman selaku pengusaha 'wedding organizer' asal Kota Bekasi menuturkan banyak warga  Bekasi yang menumpang nikah di Jakarta.*/RIESTY YUSNILANINGSIH/PR
M. Salman selaku pengusaha 'wedding organizer' asal Kota Bekasi menuturkan banyak warga Bekasi yang menumpang nikah di Jakarta.*/RIESTY YUSNILANINGSIH/PR

BEKASI, (PR).- Mayoritas warga Kota Bekasi memilih menggelar pernikahan di luar wilayah tempat tinggalnya. Kenyataan ini kontradiktif dengan keinginan Pemerintah Kota Bekasi menjadikan wilayahnya sebagai tujuan wisata berbasis MICE ('meeting', 'incentives', 'conferencing', 'exhibitions').

Kondisi tersebut diungkap oleh M. Salman selaku pengusaha 'wedding organizer' asal Kota Bekasi. Salman mengacu pada data Kementerian Agama Kota Bekasi yang memperlihatkan sepanjang 2018 terjadi 57.000 pernikahan warga Kota Bekasi. Namun dari jumlah tersebut, hanya 17.000 pernikahan yang diselenggarakan di Kota Bekasi. Selebihnya dilaksanakan di luar Kota Bekasi, terbanyak di sekitar Jakarta.

Salman mengaku, kondisi tersebut bisa dilatarbelakangi banyak hal. Semisal domisili pengantin yang tidak selalu sama-sama asal Kota Bekasi. Kemudian kedekatan jarak dengan Jakarta juga menjadi faktor lain cukup dominannya penyelenggaraan pernikahan di ibukota negara itu.

"Namun berdasarkan pengalaman kami menangani klien, alasan lain yang membuat lokasi pernikahan sering kali digelar di seputaran Jakarta adalah keterbatasan jumlah gedung pertemuan dengan kapasitas besar yang mampu menampung undangan dalam jumlah banyak. Adapun di Jakarta, pilihan gedung pertemuan amat banyak opsinya," kata Salman, Jumat 22 Maret 2019.

Salman mengakui, beberapa tahun belakangan ini, gedung-gedung pertemuan baru mulai bermunculan di Kota Bekasi. Baik yang berdiri mandiri, berada dalam hotel, juga yang terkoneksi dengan pusat perbelanjaan.

Namun tetap saja, jumlahnya tidak sebanding dengan kebutuhan warga Kota Bekasi, khususnya pasangan calon pengantin yang akan menikah. Buktinya, gedung-gedung pertemuan tersebut selalu penuh dipesan tiap akhir pekan. Pemesanan pun harus dilakukan paling lambat enam bulan sebelumnya.

"Sayang kalau kondisi ini terus dibiarkan, sebab perputaran uang terkait pernikahan yang semestinya bisa terserap di Kota Bekasi, jadi 'terbuang' ke tempat lain," ucapnya.
Menanggapi hal tersebut, Koordinator Bidang Pengembangan Kehidupan Perkotaan Tim Percepatan Pembangunan Daerah Kota Bekasi Benny Tunggul setuju perihal masih minimnya gedung pertemuan berkapasitas besar di Kota Bekasi. Dia menyampaikan, saat ini jumlahnya baru berkisar 20-an tempat.

"Namun jumlahnya terus berkembang dan menyebar mulai merata ke berbagai sudut kota," katanya.

Perihal jumlah ideal yang diperlukan, Benny mengaku belum melakukan pendataan perihal kebutuhan saat ini. Namun pihaknya mendorong agar pertumbuhannya bisa terus berlanjut.
"Dalam hal ini, pihak swasta yang bisa membantu mewujudkannya. Kami dari pemerintah akan menstimulasinya karena fokus pariwisata berbasis MICE yang akan menjadi daya jual Kota Bekasi. Untuk ke arah sana, tentu saja 'hall-hall' pertemuan harus diperbanyak jumlahnya," katanya.***

Bagikan: