Pikiran Rakyat
USD Jual 14.150,00 Beli 13.850,00 | Sedikit awan, 20.1 ° C

Nur Handiah, Semula PNS Kini Jadi Ratu Kerang

Agung Nugroho
NUR Handiah Jaime Taguba (57 tahun) menjadi inspirasi kaum wanita setelah sukses menekuni kerajinan berbahan baku kerang.*/AGUNG NUGROHO/PR
NUR Handiah Jaime Taguba (57 tahun) menjadi inspirasi kaum wanita setelah sukses menekuni kerajinan berbahan baku kerang.*/AGUNG NUGROHO/PR

PELAJARAN berharga yang bisa dipetik dari perjuangan Hj Nur Handiah Jaime Taguba (57 tahun) ialah jangan pernah menyerah meski hidup di masa susah. Dari titik nol, melaluinya dengan jatuh bangun dan kerja keras, kini wanita kelahiran Banyumas 9 Maret 1961, menikmati kesuksesan yang luar biasa.

Kisah hidupnya telah menjadi inspirasi banyak orang, terutama bagi kaum wanita. Bahkan dari usaha yang ditekuninya selama hampir dua puluh tahun, belasan penghargaan baik di lingkup Jawa Barat, nasional maupun internasional, telah diraihnya.

Nur yang pernah meraih penghargaan Kartini Award itu kini berjuluk sebagai “Ratu Kerang” dari Cirebon. Dia sukses mengelola pusat kerajinan kerang yang dinamai dengan Istana Kerang di perusahaannya di Desa Astapada, Kecamatan Tengah Tani, Kabupaten Cirebon.

Berwisata ke Cirebon, seolah belum lengkap bila tidak mengunjungi Istana Kerang. Berbagai macam produk kerajinan yang terbuat dari kerang ada di istana seluas 1.100 m2 lebih.

Dari mulai bahan-bahan keseharian rumah tangga, sampai perabotan-perabotan mewah seperti lampu gantung, furniture,  berbagai ragam hiasan dan banyak lagi. Tidak berlebihan bila tempat yang menjadi etalase itu disebut sebagai istana kerang, karena keseluruhannya dibuat dari kerang dengan desain-desain menarik dan sangat artistik.

Untuk Istana Kerang itu, Nur beberapa kali meraih penghargaan sebagai Desainer Terbaik di tingkat nasional maupun internasional. Misalnya untuk penghargaan internasional diantaranya dari Asean Programm Consultan (APC), wanita ini meraih “The Best Designer of Seashell Handicraft”, juga meraih “Gold Award Desain Terbaik 2010”dari “Indonesian Export Award” dari Kementrian Perindustrian, serta belasan penghargaan lainnya.

Istana Kerang juga tercatat sebagai peserta rutin pameran internasional kerajinan kerang di Frankfurt, Jerman pada setiap bulan Februari. Pada Februari tahun 2019 baru lalu, Istana Kerang Cirebon untuk kelima kalinya, dan selalu menjadi primadona di event bergengsi tersebut.

Jatuh bangun

Kesuksesan yang luar biasa itu, diraih tidak dengan jalan mudah. Nur menceritakan kalau dia harus jatuh bangun dan berdarah-darah untuk bisa sukses sampai hari ini.

“Ini semua diraih tidak dengan cara mudah. Saya jatuh bangun merintis usaha ini. Saya hanya punya prinsip tidak boleh ada kata menyerah. Alhamdulillah, dibarengi dengan doa, saya bisa terus menjalani usaha sampai hari ini,”tuturnya.

Nur merintis usaha Istana Kerang benar-benar dari titik nol di tahun 2000, justru diawali ketika Indonesia dilanda krisis moneter (krismon) di tahun 1998. Dia merasakan bagaimana banyak perusahaan bangkrut dan pemutusan hubungan kerja (PHK) terjadi dimana-mana.

Banyak tetangganya yang ekonominya ambruk karena PHK. Nur yang saat itu sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), bekerja di Kantor Syahbandar Indramayu, turut merasakan kegetiran yang sama.

“Saya menyaksikan PHK dimana-mana. Sebagai PNS saya juga ikut khawatir. Dari situ, di masa krisis itu, saya dan suami mencoba merintis usaha ini,” tuturnya.

Nur kebetulan memiliki seorang suami asal Filipina, bernama Jaime Taguba. Usaha kerang itu diawali saat suaminya ditawari oleh temannya di Filipina untuk memasok kulit kerang simpring.

“Tadinya kami menolak. Tapi karena krismon, akhirnya kami menerima. Pertama kami hanya sebagai pemasok kerang simpring. Hanya saja, kebutuhan setiap saat selalu bertambah. Sampai akhirnya saya dan suami penasaran dan pergi ke Filipina. Ternyata kulit kerang itu di Filipina dibuat berbagai bentuk kerajinan, bahkan diekspor ke berbagai negara,” tutur Nur.

Jadi produsen

Melihat bagaimana kulit kerang dibuat berbagai jenis kerajinan, akhirnya Nur bergeser, dari semula hanya sebagai pemasok kulit kerang, kini mencoba merangkainya menjadi produk kerajinan seperti yang dilihatnya di Filipina. Dari situ, ternyata dia meraih sukses luar biasa hingga produknya disukai banyak masyarakat internasional, dan sampai sekarang terus berkembang.

“Pasarnya justru untuk ekspor. 98 persen produk kerajinan kerang saya diekspor ke berbagai negara di Asia, Eropa sampai Amerika. Pasar dalam negeri, baru beberapa tahun belakangan mulai tumbuh. Untuk pasar dalam negeri, saya sangat terbantu oleh ekonomi digital, banyak pelanggan saya memanfaatkan saluran digital untuk membeli. Saluran digital lebih interaktif, konsumen bisa pesan apa saja dan kapan saja, saya tinggal memproduksi sesuai keinginan mereka,” tutur Nur.     

Istana Kerang Cirebon kini dikenal luas di internasional maupun nasional dan produk kerajinannya yang unik itu justri dirintis Nur dengan puluhan pekerja yang dulunya terkena PHK disaat krismon. Melalui perusahaan CV Multidimensi, Nur bahkan membina sejumlah desa sebagai plasma dari usaha kerajinannya itu, tidak saja kulit kerang simpring, tetapi seluruh jenis kerang bisa didesain secara artistik dan menarik di istananya itu.

“Saya punya desa binaan, tidak saja di Cirebon, tetapi di Bali, Bekasi dan daerah lain. Untuk bahan baku, alhamdulillah, karena kita negara lautan, cukup melimpah dan sangat beragam. Saya membangun jaringan untuk bahan baku kulit kerang di seluruh pulau besar di Nusantara,” tuturnya.

Demi fokus ke usaha ini, Nur  memilih pensiun dini dari PNS di tahun 2010, dan di tahun-tahun itu, usaha kerajinan kerangnya terus berkembang dengan jangkauan pasar makin luas. Di banyak pameran kerajinan kerang, baik di tingkat nasional maupun internasional, Istana Kerang selalu banyak dikunjungi orang, termasuk para pembeli dari manca negara.

Hanya saja, Nur mulai merasakan kalau beberapa tahun belakangan ini, saat memasuki era digital atau Revolusi Industri  4.0, mulai terjadi pergeseran pola konsumsi untuk produk kerajinannya. Trend konsumen lebih suka membeli produk yang ringkas dan simpel dengan ukuran kecil.

“Ada pergeseran pola orientasi konsumen. Mungkin ini berhubungan dengan era digital dan Revolusi 4.0. Ya kita ikuti saja arus perubahan ini. Saya mempersiapkan dengan memulai regenerasi melalui salah satu putri saya yang memilih menekuni usaha ibunya,” tuturnya.

Pergeseran pola itu dianggapnya sebagai perubahan dan tantangan baru yang membutuhkan pemikiran-pemikiran baru. Nur optimis regenerasi itu bisa menjadi satu jawaban menghadapi pergeseran tersebut sembari tetap berpegang pada kunci sukses lain, ialah tidak pernah berhenti untuk menciptakan kreasi-kreasi baru yang lebih inovatif.(Agung Nugroho/”PR”)***

Bagikan: