Pikiran Rakyat
USD Jual 14.185,00 Beli 13.885,00 | Berawan, 22 ° C

Bakti Napi, Agar Bekasi Tidak Panas Lagi

Tommi Andryandy
WARGA binaan serempak menanam pohon di sekitar Lembaga Pemasyarakatan Kelas III Bekasi, Kecamatan Cikarang Pusat Kabupaten Bekasi, Jumat 22 Maret 2019. Pada peringatan Hari Bhakti Pemasyarakatan ini, warga binaan berharap Bekasi tidak panas lagi.*/ TOMMI ANDRYANDY/ PIKIRAN RAKYAT
WARGA binaan serempak menanam pohon di sekitar Lembaga Pemasyarakatan Kelas III Bekasi, Kecamatan Cikarang Pusat Kabupaten Bekasi, Jumat 22 Maret 2019. Pada peringatan Hari Bhakti Pemasyarakatan ini, warga binaan berharap Bekasi tidak panas lagi.*/ TOMMI ANDRYANDY/ PIKIRAN RAKYAT

PAGI, Jumat 22 Maret 2019, di Lembaga Pemasyarakatan Kelas III Bekasi (Cikarang) tampak lebih sibuk dari biasanya. Tak sekadar apel rutin yang dilanjutkan senam pagi, aktivitas warga binaan bertambah, yaitu menghijaukan lingkungan sekitar.

Penghijauan digelar dalam rangka peringatan Hari Bhakti Pemasyarakatan. Meski begitu, para warga binaan memastikan kegiatan tersebut tidak sebatas seremoni. Lebih dari itu, mereka memiliki mimpi besar, tak ingin Kabupaten Bekasi panas lagi.

“Tiap hari itu terik banget, cuaca begini mana enggak ada pepohonan. Siapa tahu aja ini bibit tumbuh jadi pohon rindang,” kata salah seorang warga tatkala selesai menanam benih pohon mahoni di depan pintu masuk Lapas Cikarang, di Desa Pasirtanjung Kecamatan Cikarang Pusat Kabupaten Bekasi.

Seperti yang diungkapkan warga tersebut, cuaca Bekasi memang dikenal panas, berbeda dengan Bandung sebagai pusat Jawa Barat atau mungkin Tasik dan Garut di wilayah selatan.

Teriknya cuaca di Bekasi dipercaya banyak orang disebabkan karena masifnya kawasan industri. Setiap mata memandang, utamanya di wilayah Cikarang, pabrik menjadi pemandangan utama. sayangnya, cuaca yang panas ini tidak diimbangi dengan keberadaan pohon yang rindang.

Kondisi ini yang dicoba diubah para warga binaan. Meski bukan pergerakan besar, upaya para napi ini patut diapresiasi.

Penanaman pohon ini digelar sedikitnya oleh 30 warga binaan yang menyebar di sekitar Lapas. Untuk diketahui, Lapas berada di tengah hamparan sawah dengan saluran irigasi sekunder. Penanaman pohon dilaksanakan di sepanjang jalan yang berdampingan dengan saluran irigasi tersebut.

 “Ini merupakan bagian dari peringatan Hari Bhakti Pemasyarakatan. Seperti namanya, kami ingin hari bakti ini diwujudkan dengan aksi nyata. Apa yang bisa dilakukan Lapas Cikarang bersama warga binaan terhadap lingkungan sekitar. Jika sebelumnya dilakukan dengan membangun sarana umum bagi warga sekitar, kini lingkungan hidup dengan menanam pohon,” ujar Kepala Lapas Cikarang, Kadek Anton Budiharta.

Penanaman pohon dilakukan juga bersama komunitas pecinta lingkungan seperti Komite Peduli Lingkungan Hidup Indonesia (KPLHI) Kabupaten Bekasi yang menyumbang 5.000 bibit dan Serdadu Komunitas Cibeet (Sekoci) yang turut menyumbang 500 bibit.

Berbagai pohon yang ditanam, mulai dari pohon penyerap polusi udara semisal mahoni, juga pohon buah-buahan. “Ada duren, mangga, jambu serta pohon produktif lainnya. Diharapkan buahnya ini dapat dimanfaatkan warga,” kata dia.

Kendati begitu, Kadek memastikan penanaman pohon tidak sebatas kegiatan seremonial. Lebih dari itu, pihaknya bakal membentuk tim yang bertugas khusus untuk memelihara pohon yang ditanam.

Pohon masih kurang

Kepala Seksi Pertamanan Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Pemukiman dan Pertanahan Kabupaten Bekasi, Agus Dwi membenarkan jumlah pohon di Kabupaten Bekasi jauh dari ideal. Indikatornya, sangat sedikit bahu jalan yang memiliki pepohonan rindang.

“Ditambah lagi memang dengan anggaran yang minim. Anggaran kami Rp 1 miliar untuk penataan pohon se-Kabupaten Bekasi. Kami lakukan penanaman di Kalimalang namun memang masih jauh dari ideal. Padahal keberadaan pohon ini penting. Kami berharap kebijakkan terhadap lingkungan ini porsinya lebih besar karena kan agar Bekasi tidak begitu gersang lagi,” ujarnya. (Tommi Andryandy/”PR”)***

 

Bagikan: