Pikiran Rakyat
USD Jual 14.301,00 Beli 14.001,00 | Sebagian berawan, 18.4 ° C

Usai Viral, Kakek Enur Menampik Disebut Pengemis Tajir

PETUGAS Dinas Sosial Kota Bogor melakukan pendataan kepada salah seorang pengemis, Herman alias Enur yang diamankan Satpol PP di Pertigaan Semplak, Kota Bogor, Rabu, 20 Maret 2019. Sosok Enur viral di media sosial setelah seseorang mengunggah fotonya saat memasuki mobil pribadi usai mengemis. */WINDIYATI RETNO SUMARDIYANI/PR
PETUGAS Dinas Sosial Kota Bogor melakukan pendataan kepada salah seorang pengemis, Herman alias Enur yang diamankan Satpol PP di Pertigaan Semplak, Kota Bogor, Rabu, 20 Maret 2019. Sosok Enur viral di media sosial setelah seseorang mengunggah fotonya saat memasuki mobil pribadi usai mengemis. */WINDIYATI RETNO SUMARDIYANI/PR

BELUM lama ini, kisah Herman alias Kakek Enur (87) tengah viral di jejaring sosial. Warga dunia maya Kota Bogor heboh karena Enur diceritakan sebagai pengemis kaya yang pulang pergi mengemis menggunakan mobil pribadi.

Rabu, 20 Maret 2019, Enur diamankan Satpol PP Kota Bogor. Dia dibawa ke Kantor Dinas Sosial Kota Bogor. Sosok Enur belakangan viral di media sosial setelah seorang warga mengunggah foto Enur yang masuk ke mobil berwarna kuning usai mengemis di Pertigaan Yasmin, Kota Bogor.   

Sambil berurai air mata, Enur menyebutkan informasi yang beredar di dunia maya tidak sepenuhnya benar. Pria asal Kampung Cisauk, RT 5/1, Desa Cemplang, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor itu mengatakan, mobil yang ia gunakan setiap hari untuk berangkat mengemis bukanlah mobil pribadinya.

Menurut Enur, ia terpaksa menyewa mobil seharga Rp 80 ribu kepada tetangganya karena kondisinya terlalu ringkih untuk naik angkutan umum. Setiap pukul 06.00 WIB, Enur diantar menuju lokasi mengemis di kawasan Semplak, dan Jalan Solis Iskandar, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor, dan dijemput kembali pada pukul 12.00.

“Itu bukan mobil saya, saya nyewa karena kalau ngecer, kaki saya sakit. Biaya menyewa mobil saya sisihkan dari hasil mengemis setiap hari.  Rata-rata dapat Rp 150 ribu, Rp 80 ribu untuk sewa mobil, Rp 70 ribu untuk biaya hidup sehari-hari. Jadi kalau saya dibilang kaya itu fitnah, saya orang miskin,” tutur Enur.

Aktivitas mengemis, lanjut Enur, sudah dilakukannya sejak 1995.  Enur mengaku terpaksa mengemis karena anaknya tidak bisa memenuhi kebutuhan sehari-harinya.  

Enur menyebutkan, anaknya, Agus Purnama (26), hanyalah seorang tukang sapu di Pamulang, Tangerang. Penghasilannya sebesar Rp 800 ribu sebulan hanya mampu menghidupi istri dan kedua orang anaknya.

Tak hanya itu, Enur juga menyebutkan Pemerintah Kabupaten Bogor tidak pernah memberikan bantuan berupa kartu Indonesia sehat atau program keluarga harapan meskipun ia termasuk warga kurang mampu.

“Saya cuma bisa mengemis, kemampuan saya hanya itu. Saya pernah mencoba jualan koran tetapi tidak laku, jualan makanan juga orang merasa risih karena fisik saya yang seperti ini,” kata Enur.

Setelah diamankan Dinsos Kota Bogor, Enur mengaku belum mengetahui nasibnya nanti. Enur hanya berharap masyarakat tahu bahwa ia bukanlah orang kaya seperti yang ramai diperbincangkan masyarakat dunia maya.

“Orang miskin dibilang orang kaya, dari mana. Saya ini orang susah, fitnah itu yang buat saya sedih,” ucap Enur.***

Bagikan: