Pikiran Rakyat
USD Jual 14.080,00 Beli 13.780,00 | Umumnya cerah, 30.3 ° C

Tidak Ada Cuti Hamil, Bupati Purwakarta Tetap Kerja

Hilmi Abdul Halim

BUPATI Purwakarta Anne Ratna Mustika tidak mengambil cuti walau kondisi badannya sedang hamil.*/HILMI ABDUL HALIM/PR
BUPATI Purwakarta Anne Ratna Mustika tidak mengambil cuti walau kondisi badannya sedang hamil.*/HILMI ABDUL HALIM/PR

PEREMPUAN yang berhasil menempati posisi kepala daerah sudah cukup membuktikan kualitasnya setara dengan laki-laki. Namun, menjadi kepala daerah perempuan sebenarnya memiliki beban lebih berat saat tengah hamil.

Kondisi itu tengah dialami Bupati Purwakarta Anne Ratna Mustika saat ini. Pada usia kandungan yang menginjak sembilan bulan, ia masih melakukan aktivitas sesuai kewajibannya untuk menjalankan roda pemerintahan di daerah tersebut.

Istri mantan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi itu masih terlihat menerima tamu daerah hingga turun langsung ke tengah masyarakat dalam kegiatan di lapangan. Anne juga masih bisa menghadiri rapat paripurna di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah setempat.

Di tengah pidato dan kunjungan ke berbagai tempat, Anne masih kerap melemparkan senyuman kepada orang-orang yang melihatnya. Bahkan, mantan mojang Purwakarta itu juga mau meladeni wawancara dengan para wartawan meski nafasnya kadang tersengal-sengal.

Anne mengaku tak keberatan bekerja dalam kondisi hamil seperti sekarang. "Karena memang tidak ada cuti untuk bupati dalam aturannya juga," katanya sambil tersenyum saat ditemui di Kantor Sekretariat Daerah Purwakarta seusai menerima kunjungan Komisi X DPR.

Untuk menjaga kondisi tubuh dan kandungannya, Anne mengaku menerapkan pola hidup sehat. Mulai dari mengatur pola makan dan asupan gizi hingga berolahraga secara rutin sesuai petunjuk dokter yang mendampingi kehamilannya.

Kekosongan jabatan

Kehamilan itu diakui menghambat aktivitasnya sehari-hari. Namun Anne mengaku lebih terbebani oleh kekosongan jabatan setingkat kepala dinas di 12 posisi organisasi perangkat daerah.

"Kekosongan itu sangat menggangu jalannya pemerintahan karena ada beberapa jabatan kepala dinas sekaligus yang ditempati satu orang. Tentunya itu tak efektif," kata Anne yang akrab disapa Ambu. Saat ini, proses lelang jabatan masih berlangsung untuk mengisi kekosongan tersebut.

Tahapan seleksi diharapkan bisa berjalan lancar dan efektif sesuai jadwal. Anne menargetkan pengisian jabatan yang kosong bisa diselesaikan sebelum ia melahirkan anaknya dalam waktu dekat.

Meski secara aturan tidak ada istilah cuti hamil atau melahirkan, Bupati sebenarnya bisa mengajukan cuti pengobatan. Menurut Pelaksanaan tugas Sekretaris Badan Kepegawaian Pengembangan Sumber Daya Manusia Purwakarta Agus Sulistriyanto, bupati bisa cuti setelah melahirkan selama satu bulan.

"Tak ada cuti (melahirkan), yang ada cuti alasan penting. Ya paling kita ambil cuti karena alasan berobat kalau lihat aturannya. Kita sudah konsultasi ke Kementrian Dalam Negeri paling lama sebulan," kata Agus.

Dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri 116/2003 itu, ia menyebutkan cuti bagi bupati hanya untuk berobat, menghadiri wisuda dan kegiatan ibadah. (Hilmi Abdul Halim/PR)***
 

Bagikan: