Pikiran Rakyat
USD Jual 14.080,00 Beli 13.780,00 | Umumnya cerah, 28.4 ° C

Program Pemberantasan Narkoba di Tasikmalaya Sentuh Level Kelurahan

Bambang Arifianto
Wakil Wali Kota Tasikmalaya Muhammad Yusuf memegang spidol selepas menandatangani komitmen bersama program kelurahan bebas Narkoba di Gedung Pemkot Tasikmalaya, Jalan Letnan Harun, Selasa 19 Maret 2019. BNN dan Pemkot Tasikmalaya libatkan aparat kelurahan dalam pemberantasan peredaran dan penyalahgunaan Narkoba.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR
Wakil Wali Kota Tasikmalaya Muhammad Yusuf memegang spidol selepas menandatangani komitmen bersama program kelurahan bebas Narkoba di Gedung Pemkot Tasikmalaya, Jalan Letnan Harun, Selasa 19 Maret 2019. BNN dan Pemkot Tasikmalaya libatkan aparat kelurahan dalam pemberantasan peredaran dan penyalahgunaan Narkoba.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR

TASIKMALAYA, (PR).- Badan Narkotika Nasional dan Pemerintah Kota Tasikmalaya mencanangkan program kelurahan bebas Narkoba. Program tersebut bertujuan agar aparat kelurahan bersama bintara pembina desa (Babinsa), bhayangkara pembina keamanan dan ketertiban masyarakat (Bhabinkamtibmas) menjadi ujung tombak deteksi dini penyalahgunaan barang terlarang itu di wilayahnya.

Aparat kelurahan dan unsur TNI dan Polri tersebut dinilai punya kedekatan dengan masyarakat guna mencegah dan mengatasi peredaran Narkoba. Pencananangan progam itu mengemuka dalam kegiatan Sosialisasi Kelurahan Bersinar (bersih dari Narkoba) dan Bahaya Radikalisme Melalui Penguatan 3 Pilar (Kelurahan, Babinsa, Bhabinkamtimas, Puskesmas di Kantor Pemkot Tasikmalaya, Jalan Letnan Harun No 1, Selasa 19 Maret 2019. ‎

Kepala BNN Kota Tasikmalaya Tuteng Budiman menuturkan, target pelibatan kelurahan, petugas polisi dan TNI di lingkungannya bertujuan agar masyarakat merasa nyaman, aman dan bebas Narkoba. Jangkauan BNN dan Pemkot pun bisa masuk hingga RT, RW jika melalui kelurahan. "Semuanya untuk deteksi dini, tujuannya itu," ucap Tuteng.

Petugas kelurahan, Babinsa dan Bhabinkamtibmas lebih mudah melakukan pemantauan warga yang terpapar Narkoba lantaran dekat dengan masyarakat. "‎Kan dia terdepan lah, sering anjangsana (berkunjung) dengan masyarakat. Nanti terpantau, apakah itu penyalahgunaan (oleh) bandar, pengedar atau memang dia (warga) hanya sebagai korban (pengguna)," ujar Tuteng.

Warga yang menjadi pengguna atau pecandu barang haram tersebut bakal mendapat perawatan dari Puskesmas. "Puskesmas harus melakukan perawatan untuk rehabilitasi," ujarnya.

Namun jika pengedar atau kurir, petugas akan menangkap dan melakukan proses hukum. Tiga unsur dari kelurahan, polisi dan TNI juga mengemban tugas melakukan sosialisasi melalui penyuluhan bahaya Narkoba langsung ke masyarakat. "Kalau hanya melibatkan Polres tingkat kota terlalu jauh penjangkauannya, makanya dijangkau oleh dari pihak kelurahan sama-sama dengan Babinsa, Bhabinkatibmas," ujar Tuteng.

Ia menghimbau masyarakat tak perlu ragu melaporkan dugaan peredaran dan penggunaan Narkoba di lingkungannya. Demikian pula dengan warga yang memiliki kerabat yang menjadi pengguna barang terlarang itu. Penanganan akan dilakukan oleh Puskesmas yang melakukan assesment (penilaian) terlebih dahulu. ‎"Apakah dia perlu dirawat jalan atau dia perlu dia perlu direhabilitasi secara dirawat inap," ujarnya.

Dalam catatan BNN Kota Tasikmalaya, kasus peredaran dan penyalahgunaan Narkoba mencapai sekitar 50 kasus pada 2018. Akan tetapi, angka pasti jumlah pengguna atau pecandu sulit diketahui karena sikap masyarakat yang masih tertutup. Dengan manggandeng kelurahan, diharapkan deteksi dini bisa dilakukan guna menyelamatkkan masyarakat dari bahaya penyalahgunaan barang haram itu.

Hal senada disampaikan Waki Wali Kota Tasikmalaya, Muhammad Yusuf.  "Kita akan membentuk kelompok-kelompokk masyarakat yang bersih dari Narkoba, mudah-mudahan ini bisa berjalan sehingga di Kota Tasikmalaya dengan visi yang religius islami itu Narkoba paling tidak diminimalisir sampai bersihlah," kata Yusuf.

Ia tak menampik upaya memberantas peredaran Narkoba tak mudah karena pola geraknya yang berjaringan.‎ "Sehinngga BNN ini punya kewajiban secara terus-menerus untuk bagaimana melakukan sosialisasi sampai ke tingkat masyarakat," tuturnya.

Yusuf berharap, upaya bersih-bersih Narkoba pun menyasar aparatur sipil negara (ASN) Pemkot Tasikmalaya.‎ "Saya juga sudah meminta kepada BNN sewaktu-waktu melakukan tes urine di tempat kami tetapi jangan sampai diketahui oleh mereka yang akan mendapatkan itu, jadi secara mendadak," ujarnya.

Yusuf memastikan sanksi berat hingga pemecatan bakal dilakukan terhadap ASN yang terbukti memakai barang terlarang itu.‎ "Kita tidak mau ada mental ASN seperti itu apalagi main (sebagai) bandar Narkoba," kata Yusuf.

Dia menilai tingkat kerawanan Narkoba di Tasikmalaya sama dengan peredaran minuman keras. Terkadang dalam operasi kepolisian, pengungkapan peredaran Narkoba juga disertai temuaan minuman keras. Oleh karena itu, Pemkot, BNN, polisi dan TNI akan terus bekerjasama dalam memberantas peredaran barang-barang haram tersebut.***

Bagikan: