Pikiran Rakyat
USD Jual 14.185,00 Beli 13.885,00 | Umumnya berawan, 21.4 ° C

Curug Batu Blek, Ada Batu Mirip Kaleng Kerupuk

Bambang Arifianto
WARGA menikmati pemandangan Curug Batu Blek, Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, Minggu 17 Maret 2019. Curug tersebut bisa menjadi destinasi wisata pilihan di Gunung Galunggung..*/BAMBANG ARIFIANTO/PR
WARGA menikmati pemandangan Curug Batu Blek, Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, Minggu 17 Maret 2019. Curug tersebut bisa menjadi destinasi wisata pilihan di Gunung Galunggung..*/BAMBANG ARIFIANTO/PR

GUNUNG Galunggung di Kabupaten Tasikmalaya tak hanya memiliki destinasi wisata kawah semata. Gunung berapi aktif tersebut memiliki berbagai curug atau air terjun yang bisa menjadi opsi pengunjung untuk tetirah atau sekadar melepas penas.

Salah satunya adalah Curug Batu Blek yang berada di kawasan Kampung Cipeuteuy, Desa Sukamukti, Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya. Untuk menuju lokasi curug yang berada di lereng Galunggung itu, pengunjung bisa melintasi dua jalur, yakni Desa Santanamekar atau dari Sukamukti.

Pengunjung hanya perlu masuk ke Jalan Ciawi-Singaparna (Cisinga) untuk menuju lokasi. Tiba di perempatan Cisayong dan Santanamekar, papan penunjuk arah Batu Blek telah terlihat. Setelah berbelok masuk gapura Santanamekar yang menanjak, jalan akan mulai bercabang. Jika ingin melintasi Santanamekar, pengunjung bisa mengambil arah kiri. Sedangkan arah kanan merupakan jalur Sukamukti.

WARGA menikmati pemandangan Curug Batu Blek, Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, Minggu 17 Maret 2019. Curug tersebut bisa menjadi destinasi wisata pilihan di Gunung Galunggung..*/BAMBANG ARIFIANTO/PR

Pikiran Rakyat menjajal jalur Sukamukti pada Minggu 17 Maret 2019. Bentang pesawahan nan cantik menjadi pemandangan pertama saat sepeda motor menaikki jalan perbukitan yang berkelok. Kendati teraspal, sebagian badan jalan telah terkelupas dan berlubang.

Medan makin menanjak hingga tiba di beberapa perkampungan. Kondisi jalan pun mulai berlumpur setelah terguyur hujan. Setelah setengah jam, pintu masuk Curug Batu Blek mulai terlihat dinaungi salah satu puncak Gunung Galunggung, Beuti Canar. Dengan membayar tiket masuk Rp 5 ribu, kaki mulai melangkah memasuki rimbunnya hutan Galunggung.

Medan jalan menuju curug cukup menantang. Pengunjung menyusuri selokan kecil dengan pemandangan jurang di tepinya. Selepas 15 menit, suara gemuruh air terjun pun mulai terdengar. Ya, perjalanan telah sampai di Curug Batu Blek. Curug itu memuntahkan air dari atas ketinggian ke bagian bawah yang berbentuk kolam kecil. Sejumlah remaja tampak asik berenang dan bermain di sana. 

Kijang hutan

Sedang asik menikmati pemandangan, suara binatang terjatuh ke sungai membuat kami kaget dan menyingkir. Kami mengira ada biawak nyemplung. Perkiraan itu salah, yang berenang kencang dan kemudian melarikan diri di tepi curug adalah menceuk atau sejenis kijang hutan. Entah musabab apa yang membuat binatang tersebut terhempas ke dasar curug.

Kami yang sempat kaget akhirnya bernapas lega dan kembali asik bermain air. Salah pengunjung adalah Candra Lesmana (16), remaja asal Parakan Honje, Kelurahan Sukamaju Kaler, Kecamatan Indihiang, Kota Tasikmalaya. 

JALAN menuju Curug Batu Blek, Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, Minggu 17 Maret 2019. Curug tersebut bisa menjadi destinasi wisata pilihan di Gunung Galunggung.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR

JALAN menuju Curug Batu Blek, Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, Minggu 17 Maret 2019. Curug tersebut bisa menjadi destinasi wisata pilihan di Gunung Galunggung.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR

"Sejuk, indah," ujar Candra menilai Curug Batu Blek. Meski demikian, ia menilai jalur pejalan kaki menuju curug cukup licin. "Ngeri kalau musim hujan," ujarnya. 

Sampah bertebaran  juga terlihat di tepi curug. Rekan Candra, Angga Mulya meminta pemerintah atau pengelola tempat wisata menyediakan tempat penampungan sampah di area curug. Perihal nama curug adalah Batu Blek menjadi pertanyaan Pikiran Rakyat.

Pertanyaan tersebut mendapat jawaban dari Rika (32), warga asli Kampung Cipeuteuy yang membuka warung kecil di pintu masuk curug. Menurutnya, penamaan itu lantaran adanya batu berbentuk wadah atau kaleng kerupuk. Dalam bahasa Sunda, wadah tersebut dikenal dengan nama blek kurupuk. Sejak dibuka sekitar tiga tahun lalu, jumlah pengunjung curug naik turun. "Hari biasa 10 pengunjung, kalau hari libur lebih dari 50 pengunjung," kata Rika.***

Bagikan: