Pikiran Rakyat
USD Jual 14.080,00 Beli 13.780,00 | Umumnya cerah, 30.3 ° C

Seismograf Dicuri, Pengamatan Gunung Papandayan Terkendala 

Tim Pikiran Rakyat

FOTO ilustrasi gunung Papandayan.*/DOK. PR
FOTO ilustrasi gunung Papandayan.*/DOK. PR

GARUT, (PR).- Petugas Pos Pengamatan Gunung Papandayan mengeluhkan sulitnya melakukan pemantauan aktivitas Gunung Papandayan. Hal ini menyusul hilangnya sebagian besar peralatan pepengukur gempa atau seismograf di gunung api paling aktif di Garut tersebut.

Petugas Pos Pengamatan Gunung Papandayan, Momon, menyebutkan untuk memantau aktivitas Gunung Papandayan, di wilayah gunung tersebut sudah dipasang lima unit seismograf. Namun saat ini, empat di antaranya sudah hilang dicuri orang sehingga yang tersisa hanya tinggal satu unit.

"Yang mereka curi adalah solar panel dan accu yang disimpan di dalam tanah. Ini mengakibatkan kami kesulitan melakukan pemantauan
 karena alat tak berfungsi secara maksimal," ujar Momon saat ditemui wartawan Kabar Priangan Aep Hendy di Pos Pengamatan Gunung Papandayan di wilayh Desa Pangauban, Kecamatan Cisurupan, Senin 18 Maret 2019.

Dikatakannya, dengan hanya mengandalkan satu unit seismograf, saat ini petugas tidak bisa melakukan pengamatan secara menyeluruh. Padahal keberadaan seismograf di gunung api aktif seperti Papandayan dinilainya sangat penting untuk memantau aktivitas merapinya.

Momon menyampaikan, kini pelaksanaan pengamatan Gunung Papandayan hanya bisa dilakukan secara visual. Hasilnya tentu sangat jauh berbeda dengan pengamatan yang dilakukan dengan cara menggunakan peralatan seismograf.

Hilangnya seismograf itu sendiri, menurutnya, terjadi secara bertahap mulai tahun 2016 dan terakhir terjadi awal tahun 2019 yang berlokasi di kawasan Tegalpanjang. Stastus kawasan Tegalpanjang itu sendiri saat ini sudah bukan lagi wilayah Cagar Alam (CA) sejak Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutahan (KLHK) mengubah statusnya menjadi Taman Wisata Alam (TWA).

"Seringnya hilang peralatan seismograf terjadi sejak pengelolaan Papandayan beralih ke swasta. Dulu waktu masih dikelola BKSDA, jarang terjadi kehilangan," katanya.

Momon mengaku tak habis pikir kenapa peralatan seperti itu bisa dicuri dengan mudah.  Padahal posisi alat tersebut disimpan di lokasi yang aman bahkan ditanam ke dalam tanah dan tersembunyi di hutan.

Menurutnya, ada kemungkinan posisi alat tersebut menjadi terbuka dan mudah diketahui orang akibat adanya pembukaan sejumlah lahan hutan BKSDA. Pembukaan lahan itu sendiri bertujuan untuk menunjang wisata yang ada di kawasan tersebut. 

Lebih jauh Momon mengungkapkan, pihaknya sudah berulangkali melaporkan hilangnya alat pengamatan gempa di Gunung Papandayan ini kepada pihak kepolisian,. Namun entah kenapa, hingga saat ini belum ada titik temu atau tindak lanjut atasw laporan yang telah dilakukannya tersebut.

Momon juga menyebutkan, akibat hilangnya sejumlah fasilitas pengamatan gunung tersebut negara dirugikan hingga Rp 400 juta. Namun tentunya selain kerugian materil, ada juga kerugian yang bersifat immateril yang tak bisa dihitung mengingat pentingnya fungsi alat tersebut dalam memantau kondisi gunung api.

"Dari pihak BPMVG sendiri selaku lembaga yang membawahi pos pengamatan gunung api, hingga saat ini belum memutuskan untuk memasang kembali alat tersebut. Selain harganya yang mahal, hal ini juga karena adanya kekhawatiran alat tersebut akan hilang lagi," ucap Momon.***

Bagikan: