Pikiran Rakyat
USD Jual 14.068,00 Beli 13.768,00 | Umumnya berawan, 21.9 ° C

Pelestarian Seni Budaya Dinilai Kurang Melibatkan Kalangan Usia Dini

Retno Heriyanto
ILUSTRASI Seni Budaya.*/ADE BAYU INDRA/PR
ILUSTRASI Seni Budaya.*/ADE BAYU INDRA/PR

MASYARAKAT membutuhkan ruang ekspresi dan apresiasi untuk menunjukan eksistensi aktivitas berbudaya. Namun pemerintah belum mampu menjawab tuntutan perubahan zaman dalam menyelamatkan budaya sebagai jatidiri bangsa.

“Dalam sepuluh tahun terakhir terjadi stagnasi pengembangan seni budaya tradisional Jawa Barat dikalangan generasi muda, terutama kalangan anak usia dini dan remaja. Tidak banyak keterlibatan generasi muda dalam upaya penyelamatan seni budaya tradisi menjadi salah satu penyebabnya,” ujar pemerhati seni budaya, DR Suhendi Afriyanto, Senin 18 Maret 2019 di Lobby Utama Teater Tertutup Taman Budaya Jawa Barat.

Kondisi yang terjadi di Jawa Barat, menurut Suhendi, sangat berbeda dengan yang dilakukan pemerintah di provinsi lain, semisal Jawa Tengah, Jogyakarta, Bali ataupun Jawa Timur. Sejak usia dini dan remaja seni budaya tradisional diperkenalkan sebagai bagian dari pendidikan karakter dan muatan lokal.

“Tidak hanya itu, dalam sejumlah pegelaran atau acara pemerintahan selalu dilibatkan. Sementara di kita (Jawa Barat) hanya anak dewasa yang dilibatkan dan hanya itu-itu saja yang terlibat, padahal potensi seni budaya Jawa Barat sangat banyak dan berkembang,” ujar Suhendi.

Hal yang tidak kurang pentingnya menurut Suhendi, selain diberi banyak kesempatan, pelaku seni budaya berusia muda saat ini membutuhkan ruang ekspresi dan apresiasi. “Ruang ekspresi dan apresiasi bukan hanya gedung megah, tapi kegiatan ditempat atau daerah aslinya tumbuh berkembang. Jangan seperti yang terjadi selama ini, kegiatan yang diselenggarakan pemerintah selalu di gedung, padahal masyarakat di daerah apalagi yang kuat tradisinya, sangat enggan masuk atau main di dalam gedung, jadi wajar kalau setiap pertunjukan akan sepi penonton,” ujar Suhendi.

Sementara budayawan Jawa Barat, Toto Amsar selain menyoroti keterlibatan anak-anak usia dini dan remaja dalam program pelestarian yang dilakukan pemerintah, juga minimnya program pemuliaan dan penyelamatan seni budaya tradisional. “Padahal undang-undang seperti Undang-undang dasar 1945 dan terbaru Undang-undang nomor 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan sangat jelas mengatur,” ujar Toto Amsar yang selama ini dikenal sebagai tokoh yang menghidupkan kembali semangat berkesenian dikalangan seniman Pantai Utara.

Berdasarkan pengamatannya, dari tahun ke tahun dalam 10 tahun terakhir program rekonstruksi seni tradisional, revitalisasi, pewarisan dan pengembangan yang dilakukan dinas atau instansi terkait terus berkurang. “Bahkan tahun (2019) ini setelah Balai Taman Budaya menjadi UPTD Pengembangan Kebudayaan Daerah Jawa Barat, program pemuliaan seni budaya tradisional sama sekali tidak ada, justru provinsi lain yang belajar dari Jawa Barat kini lebih giat melaksanakan, termasuk Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,” ujar Toto Amsar.

Hal senada diungkapkan seniman Wawan Hendrawan yang menegaskan bahwa dirinya paling tidak setuju bila dalam setiap acara seremonial seni budaya ada pejabat ataupun pimpinan pemerintahan yang mengatakan generasi muda kurang peduli akan seni budaya tradisi atau seni tradisi diambang kepunahan. “Justru yang terjadi sekarang ini banyak anak-anak yang ingin belajar seni tradisi, khususnya tarian dan karawitan karena kedua seni tradisi tersebut yang dapat memberi kesempatan kepada mereka pergi ke luar negeri,” tegas Wawan.

Justru yang terjadi, menurut Wawan, sebaliknya pemerintah mulai dari tingkat provinsi hingga kabupaten dan kota tidak banyak melibatkan anak-anak usia dini maupun remaja dalam pelestarian seni budaya tradisional. “Paling banter anak-anak tampil diacara tingkat kecamatan atau kelurahan, kalaupun ada setahun sekali di tingkat Kemendikbud,” tambah Wawan.***

Bagikan: