Pikiran Rakyat
USD Jual 14.628,00 Beli 14.328,00 | Cerah berawan, 27.4 ° C

Petani Cemas Harga Gabah Terjun Bebas

Ahmad Rayadie
SALAH seorang petani di Desa Wangunreja, Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi memperlihatkan hasil panen kali ini berupa gabah basah yang telah berkecambah akibat  kurang penyinaran matahari, Minggu, 17 Maret 2019.*/AHMAD RAYADIE/PR
SALAH seorang petani di Desa Wangunreja, Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi memperlihatkan hasil panen kali ini berupa gabah basah yang telah berkecambah akibat kurang penyinaran matahari, Minggu, 17 Maret 2019.*/AHMAD RAYADIE/PR

PALABUHANRATU, (PR).- Petani di sejumlah kedusunan Desa Wangunreja, Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi dibuat resah. Mereka mencemaskan harga gabah terjun bebas, seiring hujan memasuki musim panen.

Kendati hasil produksi pertanian mengalami peningkatan cukup signifikan dibanding musim panen lalu, namun dikhawatirkan terjual dengan harga murah. Saat ini harga gabah kering sekitar Rp. 550.000 setiap 100 kg atau Rp 5.500/kg, sedangkan harga gabah basah Rp. 400.000/100kg atau Rp. 4.000/kg.

“Ini merupakan dampak hujan yang terus mengguyur Sukabumi dalam beberapa pekan terakhir. Harga gabah dijual ke tengkulak dan terus merosot, sehingga petani merugi," kata salah seorang petani Desa Wangunreja, Kecamatan Nyalindung, Yosep Taryawan kepada wartawan Pikiran Rakyat, Minggu, 17 Maret 2019.

Minimnya penyinaran, kata Yosep, membuat gabah basah yang baru dipanen terancam tidak hanya berbunga. Juga mengalami pembusukan karena minim penyinaran. Apalagi selama ini, mereka hanya mengandalkan sinar matahari untuk mengeringkan gabahnya. "Akibat tidak optimal penyinaran, gabah yang tersimpan dirumah telah keluar kecambah,” katanya.

Musim panen lalu, kata dia, petani sempat menikmati hasil produksi gabah kering di kisaran Rp. 660.000/100 kg. Sementara harga gabah basah tembus kisaran Rp. 4.550/kg atau sekitar Rp. 450.000/kuintal. ”Kami menikmati musim tanam lalu. Sedangkan musim panen kali ini kami dibayang-bayangi merugi karena kualitas sangat rendah, ” katanya.

Senasib yang dialami petani di Kecamatan Waluran, Jampang Tengah, Cidolog dan Kecamatan Sagaranten. Mereka mengaku saat memasuki musim penghujan, hasil jerih payah mereka malah merugi. Guyuran curah hujan tidak hanya menyebabkan sebagian lahan pertanian terendam banjir, namun juga tanaman padi di sejumlah desa di Kecamatan Cidolog malah habis bersih disapu banjir bandang.

“Kalaupun masih tersisa sebagian besar tanaman padi malah membusuk karena terendam banjir bandang. Akibatnya, petani merugi hingga mencapai jutaan rupiah,” kata salah seorang petani di Waluran, Danu.

Dia mengatakan hasil panen yang diperoleh hanya kisaran kurang dari 25-30 persen. Sebelumnya, hasil panan bisa mencapai 20 kuintal, kini hanya didapat kurang dari 8 kuintal setiap hektarenya. “Padi yang dipanen banyak mengandung air, karena sulit dijemur. Bahkan beberapa petani mengeluhkan karena terlambat menjemur kini butiran padi berubah kehitam-hitaman,” katanya.***

Bagikan: