Pikiran Rakyat
USD Jual 14.027,00 Beli 14.125,00 | Umumnya berawan, 20.7 ° C

Kabupaten Bekasi Jadi "Lautan" Sampah

Tommi Andryandy
WARGA memungut sisa sampah yang dapat didaur ulang di Tempat Pembungan Sampah Burangkeng Kecamatan Setu Kabupaten Bekasi. Akibat blokade warga sekitar, sampah kini tak bisa dibuang ke TPA tersebut.*/TOMMI ANDRYANDY/PR
WARGA memungut sisa sampah yang dapat didaur ulang di Tempat Pembungan Sampah Burangkeng Kecamatan Setu Kabupaten Bekasi. Akibat blokade warga sekitar, sampah kini tak bisa dibuang ke TPA tersebut.*/TOMMI ANDRYANDY/PR

CIKARANG, (PR).- Akibat tempat pembuangan sampah akhir  (TPS) Burangkeng ditutup warga, sampah mulai berserakan di sejumlah sudut Kabupaten Bekasi.

Seperti diberitakan sebelumya,  TPA Burangkeng Kecamatan Setu ditutup warga sekitar yang menuntut kompensasi dalam bentuk uang, sejak Senin 4 Maret 2019. Sayangnya, TPA Burangkeng merupakan satu-satunya lokasi pembuangan akhir yang dimiliki Kabupaten Bekasi.

Berdasarkan pantauan “PR”, Minggu 17 Maret 2019, sampah mulai menghiasi sejumlah titik di Kabupaten Bekasi. Sampah terlihat menumpuk di sepanjang Jalan Niaga Raya, Cikarang Selatan. Tempat sampah berbentuk tabung setinggi lebih dari satu meter, tidak mampu menampung sampah yang sejak beberapa hari terakhir tidak terangkut.

Tidak hanya di satu titik, terdapat beberapa tempat pembuangan sampah yang meluap di sepanjang jalan tersebut. Begitu pula di komplek perumahan yang berada di belakangnya.

“Engga tahu, sudah empat-lima hari sampah di situ terus, engga ada yang angkut. Parahnya kalau habis hujan, bau banget. Sampai ke kamar, padahal kamar ada di atas,” ujar Reza (34), warga yang menyewa salah satu kos di perumahan Kedasih, Cikarang Selatan.

Bau menyengat akibat sampah yang tidak terangkut itu pun tercium di Pasar Roxy Cikarang Selatan. Bau berasal dari tempat pembuangan sampah sementara di sekitar pasar. Sebenarnya di lokasi pembuangan itu terdapat sedikitnya enam bak sampah berukuran sekitar 2 meter per kubik. Namun, karena tidak terangkut, sampah di bak pun meluap hingga memakan separuh lokasi parkir pasar.

Keluhan pun disampaikan sejumlah warga Kecamatan Cibarusah. Sampah di kecamatan yang berbatasan dengan Jonggol Kabupaten Bogor itu pun tidak terangkut. Wawan (34) mengaku, setidaknya telah seminggu sampah tidak terangkut di sekitar permukimannya.

Warga terdampak meminta pengertian

Ditemui sebelumnya, Kepala Bidang Kebersihan pada Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bekasi, Dody Agus Suprianto mengakui penutupan TPA Burangkeng melumpuhkan aktivitas pengangkutan sampah. Hanya saja, tidak ada langkah lain soalnya Kabupaten Bekasi tidak memiliki TPA lainnya.

“Kami tidak bisa berbuat banyak karena memang kami juga tidak punya TPA lain. Mau diangkut pun diangkut kemana. Kalaupun ke Bantargebang tidak bisa, karena kami tidak memiliki kerja sama dengan Pemerintah Kota Bekasi. Kalau pun ada izin, harus dari gubernur,” ujar dia.

Diungkapkan Dody, tidak ada angka pasti berapa jumlah sampah yang terbengkalai akibat tidak ada pengangkutan. Namun, pada kondisi normal, 800 ton sampah diangkut setiap hari menuju TPA Burangkeng. Sekarang, memasuki hari ke-14 sampah tak diangkut ke TPA.

Sementara itu, Tridjoko (27), warga Burangkeng mengharapkan pengertian warga Kabupaten Bekasi secara keseluruhan. Soalnya, penutupan ini merupakan salah satu perjuangan untuk warga sekitar yang terdampak.

“Sekali lagi kami mohon doa restu dengan aksi ini semoga Plt Bekasi mendengar dan ingin bertemu dengan warga Burangkeng untuk membahas kompensasi ini. Bencana sampah di Kabupaten Bekasi baru belasan hari sementara di warga sini sudah 23 tahun hidup dengan sampah. Kenapa selama itu Desa Burangkeng tidak dikatakan bencana?" kata dia. ***

   

Bagikan: