Pikiran Rakyat
USD Jual 14.328,00 Beli 14.028,00 | Sebagian cerah, 27.8 ° C

Durian Purwakarta Berpotensi Ekonomi dan Pariwisata

Hilmi Abdul Halim
SEORANG pengunjung Rumah Makan Sate Pareang Desa Margaluyu Kecamatan Kiarapedes Kabupaten Purwakarta, memilih durian yang matang, Minggu, 17 Maret 2019. Durian yang dijual berasal dari pohon milik warga setempat dan dinilai lebih manis karena matang langsung di pohonnya.*/HILMI ABDUL HALIM/PR
SEORANG pengunjung Rumah Makan Sate Pareang Desa Margaluyu Kecamatan Kiarapedes Kabupaten Purwakarta, memilih durian yang matang, Minggu, 17 Maret 2019. Durian yang dijual berasal dari pohon milik warga setempat dan dinilai lebih manis karena matang langsung di pohonnya.*/HILMI ABDUL HALIM/PR

MENIKMATI buah durian yang matang langsung dari pohonnya sangat berbeda dibandingkan buah yang matang setelah disimpan lama terlebih dahulu. Apalagi dinikmati setelah menyantap sate Maranggi khas Kabupaten Purwakarta.

Perpaduan sate sapi dan durian itu menjadi sensasi tersendiri bagi penggemarnya yang tidak memiliki pantangan penyakit tertentu. Wisatawan yang ingin merasakan kedua makanan itu bisa mengunjungi Desa Margaluyu Kecamatan Kiarapedes.

Menurut pantauan PR, terdapat Rumah Makan Sate Pareang yang menjadi salah satu tujuan penggemar sate Maranggi di Purwakarta selain Sate Maranggi Cibungur Kecamatan Bungursari. Salah satu yang membedakan Sate Pareang ialah tersedia buah durian lokal.

Pengelola rumah makan tersebut, Bahrudin mengaku mengumpulkan durian dari pohon milik warga setempat. "Di sini warga banyak yang menanam pohon durian di pekarangan rumah. Tapi tidak ada yang sampai buka perkebunan seperti di Subang," katanya, Minggu, 17 Maret 2019.

Meski bentuk dan ukuran buahnya relatif kecil seukuran kepala anak-anak, Bahrudin menjamin rasanya manis dengan aroma khas durian yang menyengat. Menurut dia, cita rasa tersebut muncul secara alami karena buahnya matang saat masih berada di pohon.

"Kekurangannya dibandingkan durian dari seberang (Pulau Jawa) memang ukurannya lebih kecil di sini dan dagingnya tipis. Tapi rasanya lebih enak di sini," tuturnya membandingkan. Kelebihan itu pun dinilai berpotensi ekonomis dan bernilai pariwisata bagi warga setempat.

Namun, Bahrudin mengakui belum ada warga yang berani menanam pohon durian dalam perkebunan khusus. Ia menduga warga masih terkendala modal dan kemampuan untuk membudidayakan buah durian. Apalagi, bila dikelola dengan konsep tempat wisata edukasi berbasis perkebunan.

Sementara itu, menurut data Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Purwakarta terdapat sekitar 14.000 hektar lahan perkebunan di daerahnya yang berpotensi menjadi kawasan agrowisata. Pengembangan ke arah tersebut diakui masih terkendala modal dan pemahaman yang minim dari pengelola lahan, baik secara perorangan maupun perusahaan.***

Bagikan: