Pikiran Rakyat
USD Jual 14.635,00 Beli 14.335,00 | Umumnya berawan, 23.8 ° C

Disekap 22 Tahun, TKW Asal Cirebon Minta Diselamatkan Lewat Pesan Facebook

Agung Nugroho
ILUSTRASI. Pekerja Migran Indonesia.*/ DOK. PIKIRAN RAKYAT
ILUSTRASI. Pekerja Migran Indonesia.*/ DOK. PIKIRAN RAKYAT

SUMBER, (PR).- Tenaga Kerja Wanita TKW) asal Desa Dawuan, Kecamatan Tengah Tani, Kabupaten Cirebon meminta tolong untuk bisa dipulangkan ke Indonesia. Turini Fatma (44 tahun), demikian nama TKW tersebut, diduga disekap dan dilarang pulang oleh majikannya di Arab Saudi.

Sudah 22 tahun bekerja sejak berangkat di tahun 1998, Turini tidak bisa pulang. Dia berkirim surat melalui laman facebook dengan bantuan pembantu rumah tangga lain asal Filipina yang dikenalnya di Arab Saudi.

Dalam surat yang ditujukan kepada anaknya, Diah Ardikasari (28 tahun), Turini menuturkan kalau dia tidak bisa pulang karena tidak diijinkan majikannya. Turini juga menceritakan kalau paspornya dirampas sang majikan, dan selama bekerja tidak menerima gaji.

“Saya kaget tiba-tiba ada surat masuk ke facebook saya. Setelah saya buka, itu foto ibu saya. Ada foto kertas berisi tulisan tangan ibu. Dia menceritakan kalau tidak bisa ulang karena pasport dirampas majikan dan selama bekerja tidak digaji,” tutur dia, Sabtu, 16 Maret 2019.

Surat itu dikirim oleh pembantu asal Filipina yang mengaku sebagai teman ibunya di Arab. Secara diam-diam, pembantu asal Filipina yang satu majikan itu membantu ibunya dengan mengirimkan foto serta surat sebanyak empat lembar berisi tulisan tangan ibunya.

Mendapat surat tersebut, Samsudin (49 tahun), suami Turini, bersama Diah, mengadukan ke Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) dan Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Inodnesia (BNP2TKI) di Jakarta.

“Kami minta perlindungan. Sebab kami sudah tidak bisa komunikasi. Dalam surat, istri saya jugabercerita kalau tidak bisa kirim surat atau komunikasi karena handphonenya dirampas. Istri saya tidak diijinkan keluar rumah. Bekerja 24 jam tanpa digaji,”tutur dia.

Turini, berangkat ke Arab Saudi pada tahun 1998. Karena faktor ekonomi, Turini meninggalkan suami dan kedua anak perempuannya yang ketika itu masih kecil-kecil.

“Sudah 22 tahun saya tidak hidup bareng ibu sampai sekarang saya sudah dewasa. Terakhir kami bisa kontak tahun 2012, sejak itu kita kehilangan kontak. Baru kembali tersambung setelah ada surat lewat facebook kemarin,”tutur Diah.

Selama ini, Samsudin dan anak-anaknya, sudah mengadu ke BNP2TKI. Keluarga buruh tani itu juga sampai ke Kementrian Luar Negeri meminta perlindungan, termasuk memohon Presiden Joko Widodo.

“Selama kerja 22 tahun, istri saya baru ngirim gaji tiga kali. Terakhir tahun 2012 sampai akhirnya kehilangan kontak. Dia tidak pernah kirim surat atau kabar. Sekarang, setelah ada surat lewat facebook, kami punya harapan untuk minta Pak Presiden Joko Widodo menolong istri saya,” tutur Samsudin.  

Pulangkan secepatnya

Dalam surat yang dikirim lewat facebook temannya yang asal Filipina, Turini berkisah kalau dia bekerja dalam tekanan fisik dan psikis oleh majikannya. Bekerja seperti tidak pernah beristirahat, namun jarang dikasih makan, apalagi mendapatkan gaji yang menjadi haknya.

“Bahkan kalau untuk makan, terpaksa minta tolong ke pembantu lain di rumah itu, itupun makannya sembunyi-sembunyi,” tutur Diah.

Turini juga mengaku sangat ketakutan, dia meminta bisa dipulangkan secepatnya ke Indonesia. Apalagi, majikannya di Arab Saudi itu sudah dua kali masuk penjara.

“Tidak disebutkan kasus apa yang membuat majikannya masuk penjara. Tapi ibu saya sangat ketakutan karena majikannya sangat galak,” tutur Diah.***

Bagikan: