Pikiran Rakyat
USD Jual 14.328,00 Beli 14.028,00 | Umumnya berawan, 25.6 ° C

Mega Sempat tidur di Teras Rumah Tetangga, Makan pun Menunggu Belas Kasihan

Tati Purnawati
KEPALA Dusun  Blok Jumat, RT 01 RW 07, Desa Lojikobong, Kecamatan Sumberjaya, Kabupaten Majalengka , Yunus melihat keluarga Mega (27) yang tinggal di rumah kecil berukuran 3 X 4,5 m, tanpa dapur, mck dan kamar tidur. Keluarga ini hidup serba kekurangan, meski demikian keluarag Mega tak memiliki kartu Sehat, PKH ataupun BPNT.*/TATI PURNAWATI/KABAR CIREBON
KEPALA Dusun Blok Jumat, RT 01 RW 07, Desa Lojikobong, Kecamatan Sumberjaya, Kabupaten Majalengka , Yunus melihat keluarga Mega (27) yang tinggal di rumah kecil berukuran 3 X 4,5 m, tanpa dapur, mck dan kamar tidur. Keluarga ini hidup serba kekurangan, meski demikian keluarag Mega tak memiliki kartu Sehat, PKH ataupun BPNT.*/TATI PURNAWATI/KABAR CIREBON

MAJALENGKA,(PR).- Mega (27) warga Blok Jumat, RT 01 RW 07, Desa Lojikobong, Kecamatan Sumberjaya, Kabupaten Majalengka harus hidup bersama 4 anaknya yang masih kecil dengan serba keterbatasan. Sesekali Mega dapat uang Rp 20.000 dari suaminya, tapi itu tidak diterima setiap hari.

Walaupun miskin, dia tidak memiiki Kartu sehat yang bisa dipergunakan berobat gratis, PKH ataupun kartu Bantuan Langsung Non Tunai atau bantuan lainnya.

Keluarga ini menempati rumah berukuran 3 X 4,5 m2 di lahan tanah milik Ketua RT di Blok Jumat. Rumah dibangun rereongan oleh warga setempat karena menurut keterangan Kepala Dusun RT 01, Yunus, sebelumnya mereka tinggal di rumah orangtuanya yang juga kecil dan kondisinya memprihatinkan.

Beberapa tahun silam orangtua Mega meninggal, kemudian rumahnya dijual dan hasil penjualannya dibagi untuk semua keluarganya. Setelah ditinggal orangtuanya Mega dan anak-anaknya kerap menginap di teras rumah tetangga atau terkadang di manapun dia bisa berteduh.

“Kurang lebih setahun yang lalu,  kami warga di sini berupaya membangun gubuk buat dia. Paling tidak dia bisa berteduh dan tidur tidak terkena hujan,” ungkap Yunus kepada wartawan Kabar Cirebon Tati Purnawati.

Rumah tersebut hanya berbentuk kotak, tidak ada dapur secara khusus, apalagi MCK. Sehingga satu ruangan tersebut dipegunakan untuk tidur berempat anaknya serta Mega, sedangkan suaminya terkadang datang kadang pula tidak. Suaminya asal Jatiwangi yang kesehariannya bekerja sebagai buruh.

Tidur mereka pun jauh dari sederhana, hanya menggunakan kasur lantai dan alas plastik. Ketika mandi dan mencuci dia harus ikut ke rumah tetangga atau sumur tetangga yang ada di belakang rumahnya. Demikian juga dengan penerangan dia dibantu oleh tetangganya Rohati (43) satu titik lampu.

Pemberian tetangga

Mega mengungkapkan, untuk memenuhi kebutuhan makan bersama anaknya, selain pemberian suaminya sebesar Rp 20.000 per hari juga mengandalkan pemberian tetangganya, atau terkadang dia bekerja di rumah tetangga hingga dia bisa makan.

Dia mengaku hampir tidak pernah masak karena sebelumnya tidak memiliki kompor dan peralatan memasak, makanya kalau anak-anaknya ingin makan dan tidak ada dari pemberian tetangga dia selalu membeli nasi dan sayur. Itu dianggap lebih hemat dibanding harus masak.

Uang Rp 20.000 sebagian untuk anaknya jajan di sekolah karena anak pertamanya sudah berumur 9 tahun dan kini duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyah. Anak keduanya berumur 3,5 tahun, anak ketiga berumur dua tahun dan anak ke empat berumur 9 bulan.

“Saya kadang bantu tetangga bersih-bersih jadi makan kadang bisa dari tetangga,” ungkapnya.

Yunus dan Rohati berharap pemerintah bisa memberikan bantuan untuk keluarga Mega, bantuan  yang diharapkan adalah pembangunan rumah, serta PKH, BPNT serta BPJS seperti halnya yang diterima keluarga miskin lain. Karena selama ini dia tidak pernah mendapatkan bantuan apapun dari pemerintah.

“Kaupun dapat Bantuan Pangan Non Tunai, itu mengalihkan bantuan milik keluarga lain yang kebetulan sudah sejahtera serta yang bersangkutan bersedia memberikannya,” kata Yunus.

Pernah, menurutnya, ada dari Dinas Sosial Kabupaten Majalengka yang melakukan survei ke rumahnya namun kebetulan Mega tengah pergi mendatangi suaminya ke Jatiwangi yang sudah dua hari tidak pulang memberikan biaya hidup.

“Harusnya bantuan bagi Mega bisa lebih diprioritaskan, karena dia benar-benar miskin. Dia hanya memiliki Kartu Keluarga  yang Kepala Keluarganya atas nama Mega sendiri serta KTP. Dia tidak memiliki kartu manfaat lain dari pemerintah,” kata Yunus.***

Bagikan: