Pikiran Rakyat
USD Jual 14.286,00 Beli 13.986,00 | Umumnya berawan, 22 ° C

Harga Gabah Anjlok, Petani Keluhkan Sulitnya Menjual

Tati Purnawati
PETANI sedang menjemur gabah di badan jalan di ruas jalan Kadipaten-Kertajati. Sejumlah petani mengeluhkan anjloknya harga gabah serta sulitnya melakukan penjualan gabah, Jumat, 15 Maret 2019.*/TATI PURNAWATI
PETANI sedang menjemur gabah di badan jalan di ruas jalan Kadipaten-Kertajati. Sejumlah petani mengeluhkan anjloknya harga gabah serta sulitnya melakukan penjualan gabah, Jumat, 15 Maret 2019.*/TATI PURNAWATI

MAJALENGKA,(PR).- Sejumlah petani mengeluhkan harga gabah kering giling yang melorot tajam hingga di kisaran Rp 440.000 per kuintal. Petani juga mengeluhkan kesulitan menjual gabah, sementara musim panen belum mencapai setengahnya.

Anjloknya harga gabah tersebut terjadi sejak Kamis, 14 Maret 2019 sore. Siang harinya, harga masih menyentuh angka Rp 460.000 per kuintal. 

“Pusing petani, sekarang ini sudah harga murah, petani juga sulit menjual. Bandar-bandar belum menampung gabah petani entah kenapa, alasannya belum ada uang,” ungkap salah seorang petani asal Kec. Ligung, Kab. Majalengka, Munadi, Jumat, 15 Maret 2019. 

Karena belum banyak bandar yang bersedia menampung, akhirnya gabah petani masih menumpuk. Padahal biasanya, di saat musim panen rendeng, begitu gabah kering petani langsung menjualnya. 

Petani baru menyimpan gabah di saat musim tanam (MT) II atau MT III sebagai cadangan musim gadu, sambil menunggu harga tinggi.

Kondisi yang sama juga diungkapkan sejumlah petani di Kecamatan Kertajati, Kab. Majalengka. Para petani yang menjemur gabah di sepanjang ruas jalan berupaya menawarkan gabahnya tanpa menyampaikan harga penawaran.

“Sok rek meser pare mah, peryogi sabaraha ton. Harga mah kumaha umumna wae. Rek sadaya dipeser nya sukur (Silahkan kalau mau membeli gabah, butuhnya berapa ton. Soal harga bagaimana umumnya. Kalau mau dibeli semua sukur,” tutur salah seorang petani, Entin, yang tengah menjemur gabah di ruas jalan Kadipaten-Kertajati.

Dia menyebutkan, memiliki stok gabah yang cukup banyak, meskipun belum semua dipanen. Makanya, gabah hasil panen seluruhnya akan dijual. 
Menurut dia, lebih baik menyimpan uang dibanding gabah. Karena jika disimpan, harga akan terus merosot, di samping tempat penyimpanan gabah juga terbatas.

Petani lainnya, Engkom, juga mengaku akan menjual seluruh gabahnya. Akan tetapi, belum ada yang berminat membeli. 

Padahal menurutnya, biasanya banyak bandar yang berkeliling membeli gabah petani. Kali ini, sebaliknya, jarang yang datang. 

Kalaupun ada yang datang, hanya sekadar bertanya harga. Padahal menurut Ekom, bagi petani, harga tergantung pasar.***

Bagikan: